Blog ini dan Komentar Masoook!

Posted on November 14, 2010

2


Ibarat banteng gemblung dengan kecepatan 200 km/jam, seperti inilah blog ini berlari. Kecepatan postingnya mencengangkan, setidaknya 2 kali posting dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Yang lebih mengerikan adalah topiknya. Semua diterabas tanpa sungkan: perguruan tinggi, acara TV, rumah sakit, dunia panggung, politikus, hubungan terlarang, bahkan sampai ke tempat-tempat sakral dan agama. Namanya juga banteng gemblung, mana ada rikuhnya??

Sampai akhirnya datanglah seseorang super waras yang mengenal sang banteng lewat browsingnya di dunia maya.

Komentarnya singkat tapi membuat sang gemblung langsung sadar dan menginjak rem sekuat-kuatnya sampai berdecit-decit bak tikus sekarat.

Dengan halus namun sangat tepat sasaran, sang komentator, sebut saja inisialnya F, menunjukkan kepada sang blogger bahwa isi posting-postingnya terlalu “advanced dan terlalu dewasa” untuk pembaca seusia mentee-menteenya, kepada siapa sebenarnya blog ini ditujukan. “Akan lain halnya kalau Bapak menulis buku diary,” katanya lagi.

Masuk sudah. Blezz! Ibarat matador, si F menghunjamkan pedangnya ke jantung sang banteng dan membuatnya terkapar.

Ya, gimana ya, saya tahu blog ini dibaca banyak orang. Feedjit nya merekam pergerakan seismik yang makin lama makin tinggi ; hits nya dalam satu hari bisa rata-rata 30 an, bahkan minggu lalu mencapai 55 pembaca hanya dalam waktu satu hari. Tapi saya tidak akan berhenti atau merubah gaya saya kalau tidak ada yang komentar, bahkan mengkritik. Karena semua pembaca itu rata-rata hanya membaca, kemudian pergi begitu saja untuk rasan-rasan di balik punggung sang blogger, ya sudah. Sang blogger tetap saja menulis, seenak hatinya, seenak perutnya, apapun yang sedang dia rasakan dimuntahkan begitu saja ke blognya.

Untung ada F. Untung juga dia sangat berani memberikan komentar pendek lugas nan tepat sasaran itu.

Sepi sesaat. Ada empat ide muncul di kepala. Instink blogging langsung menuntun ke notebook. Tapi ah, sebentar, kayaknya yang ini terlalu spontan, yang ini terlalu ekspresif, yang itu terlalu sarkastis, yang satunya terlalu mendayu-dayu. Ah, gak jadi posting, ah. Batal semua. Bahkan posting berjudul “Kalau Saya Jadi Mahasiswa” pun akhirnya ditutup menjadi private, karena hanya sehari setelah diluncurkan, posting itu malah memicu masalah gawat yang nyaris berakhir menyedihkan . . . .

Posted in: Uncategorized