Mentoring I: Problem dan Solusinya

Posted on November 13, 2010

0


Kelas Chlorosome. 12 siang waktu UMC. Patrisius, Edo, Stella, Didi, Imawan.

Pada sesi mentoring pertama hari Senin lalu, topik yang saya sajikan adalah : problem dan solusinya.

“Saya berangkat dari sini karena supaya bisa lancar mencapai tujuan Anda masing-masing, Anda harus menyelesaikan dulu semua masalah pribadi yang mengganjal,” saya menjelaskan kepada mereka kenapa saya berangkat dari topik tersebut.

Lalu saya sajikan beberapa masalah yang khas menghinggapi Generation Y (generasi mentee-mentee saya, yang dilahirkan antara tahun 1990 sampai awal 2000): jenuh kuliah, jatuh hati pada orang yang salah, sulit berkonsentrasi, tidak bisa bergaul, emosional, kantong cekak, stress, konflik dengan sahabat, selalu merasa kurang waktu.

“Saya tidak ingin kalian mengatakan mana yang menjadi problem kalian,” kata saya kemudian. “Cukup tentukan dalam hati mana yang menjadi masalah kalian, jangan dikatakan kepada siapapun. Saya beri waktu 5 menit. Oke?”

Mereka pun merenung.

Setelah itu, saya minta mereka untuk berpikir menyumbangkan solusi yang menurut mereka tepat untuk suatu masalah. Nah, sampai disini kelihatan betapa efektifnya teknik student-centered seperti ini. Satu persatu dari keempat mentee yang hadir itu menyumbangkan solusi menurut sudut pandangnya. Ini yang berhasil saya kumpulkan:

Jenuh kuliah: refreshing, memikirkan kembali tujuan apa yang mau dicapai lewat kuliah.

Konflik dengan sahabat: mencari penengah; introspeksi

Tidak bisa bergaul: lebih membuka diri, mau menyapa duluan.

Selalu merasa kurang waktu: tetapkan skala prioritas.

Masih banyak lagi yang mereka ungkapkan, kadang-kadang diselingi celetukan agak ngawur yang membuat kami tertawa bersama-sama. Saya menikmati sekali teknik ini. Tanpa harus menunjukkan kepada orang lain tentang masalah pribadi mereka, mereka bisa saling menyumbangkan solusi untuk satu sama lain. Akan lain hasilnya kalau setelah penyajian pertama tadi, saya langsung menusuk dengan pertanyaan: “Oke, sekarang acungkan tangan siapa yang sedang jatuh hati pada orang yang salah? Siapa yang stress? Siapa yang sedang tengkar dengan sahabat? Siapa yang gak punya duit?”. Mereka pasti mengkerut tidak mau menjawab. Ya, bisa dimengerti, karena itu adalah masalah pribadi, jangan harap mereka mau terbuka begitu saja, bahkan kepada saya sebagai mentor atau teman-teman menteenya. Maka saya hanya minta mereka untuk merenungkan dalam hati saja apa yang menjadi masalahnya.

Pada tahap kedua, saya minta mereka untuk mengungkapkan secara lantang solusi yang mereka bisa sumbangkan. Nah, sebagaimana saya duga, mereka langsung antusias menjawab, karena mereka yakin bahwa dirinya bisa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat untuk solusi masalah orang lain.

Tepat seperti apa yang saya katakan di sesi awal sebulan sebelumnya: disini kita akan saling menajamkan satu sama lain: mentee ke mentee, mentor ke mentee, dan bahkan mentee ke mentor.

Absolutely!

Posted in: Uncategorized