Manakala Kita Luka . . .

Posted on November 7, 2010

4


Apa yang Anda lakukan kalau sedang suntuk, sebal, kecewa, marah tidak karuan karena penyebab yang ge je (gak jelas)?

Dulu saya kira itu sindrom pra-menstruasi. Tapi itu kan khusus wanita. Lha masa iya pria juga kena sindrom PMS? Lha tapi buktinya perasaan campur aduk itu ternyata bisa menghinggapi semua orang, tak perduli pria, wanita, bencos, homo atau lesbi. Pokoknya rata-rata setiap orang pernah mengalaminya.

Satu solusi: self-healing, atau menyembuhkan diri sendiri. Anda mungkin punya kekuatan seperti ini. Begitu merasa ajur-ajuran seperti di atas itu, Anda seolah keluar dari raga dan ego Anda, kemudian mencoba menyabarkan diri sendiri. Istighfar, kata pemeluk agama Islam. Anda melakukan introspeksi, mencoba berpikir positif, mengenyahkan racun-racun emosi, meluruskan prasangka, mengambil nafas panjang, berdoa kepada Tuhan mohon sabar dan tetap jernih, membaca ayat-ayat Kitab Suci agama Anda, membaca kata-kata mutiara seperti “count your blessings, get over your sorrow” dan sejenisnya, berolahraga, melakukan hobi, menulis blog atau buku harian, menangis bombay, atau bermeditasi, yoga, dan masih banyak lagi. Self-healing. Anda melakukannya praktis sendirian. Dan aaah . . . ternyata berhasil! Anda berangsur sembuh; mood kembali membaik dan wajah kembali ceria.

Khusus saya, kalau sedang suntuk dan uring-uringan seperti itu, biasanya saya membaca kembali posting-posting blog saya yang berisi pesan-pesan bagus: God’s inner voice, kesadaran bahwa dendam dan keterikatan dengan masa lalu hanya menimbulkan luka tak kunjung sembuh, termasuk juga menghitung berkat yang telah saya terima, dan sebagainya. Tak banyak yang tahu bahwa saya gila blogging bukan semata-mata karena mau pamer atau telanjang bulat secara sopan di depan publik (karena kata Rektor saya, isi blog saya benar-benar gemblung alias terlalu polos/spontan), tapi ya karena itu tadi: blogging dan membacanya kembali merupakan terapi bagi kenyamanan emosi saya.

Tapi bagaimana kalau kita ternyata tidak bisa menyembuhkan diri sendiri? “Jangankan bisa, dengar istilah ‘self-healing’ aja belum pernah!” begitu mungkin cetus ketus seorang pembaca. Nah, kalau self-healing tidak jalan, berarti kita perlu bantuan orang lain!

Bagaimana caranya? Yang paling langsung teringat adalah: curhat kepada orang lain! Anda bisa pulang ke rumah dan menumpahkan semua kekesalan tadi kepada pacar, istri, suami, cece, koko, kakak, adik, tante, paman, ayah, ibu, kakek, nenek, frater, pastor, pendeta, kyai, bahkan sopir pun asal mau mendengarkan ya jadilah. Secara naluriah, Anda tahu mana yang enak untuk diajak curhat, dan mana yang tidak. Asal orang itu sabar, mau mendengarkan, bahkan bersimpati dan punya empati kepada Anda, Anda akan mencurahkan semua perasaan kesal tadi sampai lega. Lebih bagus lagi kalau ternyata orang itu bisa juga memberikan saran-saran atau penguatan yang sebelumnya Anda tidak lihat karena terkubur hidup-hidup dalam emosi yang panas menggelegak bak lava Merapi itu!

Saya pernah mengalami terkapar karena ditonjok teman curhat seperti ini. Setelah selesai saya berkeluh kesah (lengkap dengan kata-kata F dan J), teman saya itu diam lama sekali, memandang saya dan bertanya: “Eh, Tris, coba sekarang bayangkan kamu jadi aku. Aku nih drop out S2 karena tidak mampu menyelesaikan tesis; sekarang aku harus merawat ibuku yang sudah tua dan sakit-sakitan. Nafkahku ngepas buat makan dan keperluan sekolah anak-anakku; istriku hanya ibu rumah tangga biasa. Wis jangan mikir jadi Doktor atau mau jadi profesor atau ganti laptop atau mobil, yang penting berjuang sekuat tenaga supaya keluargaku hidup layak. Nah, dengan segala yang sudah kamu punya, Tis, what’s more are you asking for?”.

Glodaak! Saya tewas seketika mendengar betapa eloknya dia merubah perspektif saya itu. Ketika hidup kembali, saya ingat terus peristiwa itu dan sedikit banyak menjadikannya terapi tersendiri manakala saya downhearted.

Kembali kepada Anda. Anda perlu orang lain untuk menyembuhkan diri Anda yang sedang kecewa, atau stress, atau murung berkepanjangan. Anda punya mentor. Ya betul, tapi tidak selalu mentor Anda itu adalah orang yang enak diajak curhat. Ya nggak masalah. Cari dan temukan orang lain yang bisa Anda mintai saran atau sekedar dicurhati. Masih ada konselor lembaga, masih ada dosen PA, masih ada dosen biasa yang ternyata uenak dan nyambung diajak ngomong, masih ada teman sekelas atau lain Prodi yang sangat dewasa dan bijak. Sebagai mentor, saya pribadi menganjurkan mentee-mentee saya untuk mencari figur seperti itu di kampus ini, dan itu tidak harus saya sebagai mentornya!

Nah, perkara beberapa dari mereka menemukan figur itu di dalam diri saya sebagai mentornya, ya sama sekali tidak masalah. Sudah layak dan sepantasnya. Yang kurang layak dan sepantasnya itu adalah ketika saya sebagai manusia ternyata juga suatu ketika ingin curhat ke mentee-mentee yang sudah sangat dekat. Karena merasa tidak layak dan sepantasnya seorang mentor malah curhat ke menteenya, suatu ketika tangan saya sampai gemetaran menahan tombol “Send” di ponsel saya. Kirim enggak ya? Kirim enggak ya? Akhirnya saya menang: curhatan itu tidak pernah terkirim ke mentee yang baik itu, sampai detik ini. Biarlah, saya lebih baik self-healing saja.

Nah, apapun jalannya (baca: anyway), manusia memang perlu cara untuk menyembuhkan dirinya yang sedang gelisah atau murung atau marah. Kesembuhan bisa dari diri sendiri (yang sebenarnya dituntun oleh Tuhan), atau dari orang lain. Bentar ya, saya mau merenungkan kalimat-kalimat bijak ini:

“Hitunglah berkat yang telah kau terima, dan syukurilah”

“Dalam setiap kemalangan atau nasib sial, selalu ada hikmah dan manfaat di baliknya.”

“Hidup seperti naik sepeda; supaya tidak jatuh, Anda harus tetap bergerak!”

“Berpikirlah benar! Jauhi prasangka, periksa semua asumsi, apakah sudah terbukti.”

“Buang semua toksin emosi: prasangka, dendam, keterlekatan dengan masa lalu. Buang semua, jadikan sampah non-recycled dan jangan pernah lagi kau tengok!”

“Ingin merasa bahagia? Buatlah sesuatu untuk kebahagiaan orang lain!”

“Percayalah, Tuhan mencintai Anda!”

Posted in: Uncategorized