Merapi, Mentawai dan Dogol-Dogol Seperti Anda

Posted on November 6, 2010

5


Bayangkan ini: Anda duduk dengan satu posisi. Setelah beberapa menit, Anda mulai merasa berat di satu sisi. Lalu Anda merubah posisi. Beberapa puluh menit lagi, Anda mulai pegal di sisi kanan. Maka Anda bergerak lagi merubah posisi.

Apa maknanya? Sederhana. Keseimbangan. Kala satu posisi mulai membebani satu anggota tubuh, Anda merasa ada sesuatu yang tidak seimbang, maka Anda bergerak, berubah, untuk menemukan keseimbangan itu.

Sekarang bayangkan Anda adalah Gunung Merapi. Atau laut Mentawai.

Sama saja. Keseimbangan. Pada sang gunung, setelah sekian puluh tahun diam, apa Anda pikir perutnya juga diam? Tidak. Tekanan demi tekanan membuat keseimbangannya berubah. Yang tadinya diam mulai menggeliat, mendesak, minta pindah karena sudah sesak, akhirnya meledak karena sudah sangat merindukan keseimbangan.

Tsunami. Mulanya dataran bawah laut bergeser (lagi-lagi karena juga sedang mencari keseimbangan), menyeret jutaan ton air di atasnya. Maka pantai pun mendadak surut seperti mimpi. Sampai di tengah, kubah air jutaan ton itu misuh-misuh karena tidak seimbang. Maka tak ayal lagi yang tadinya diambil dari tepi menyerbu kembali ke pantai, mbablas ke darat, ke jalan-jalan, ke perkampungan, saking rindunya pada keseimbangan. Hueekk, . . . byuoorrrr!

Lahar panas dan sapuan gelombang memicu proses nuklir yang dahsyat: solidaritas, kembalinya rasa kemanusiaan, menguatnya empati dan simpati, makin kerasnya makian untuk anggota – anggota DPR, melesetnya ramalan saintifik, ketakberdayaan, sampai pada perpecahan antar teman karena yang satu bersikeras mau menolong, yang satunya merasa cukup berdoa dan menyumbang ke dompet kemanusiaan. Ini neraka dalam arti sebenar-benarnya.

Alam sedang mencari keseimbangan baru, termasuk kita disini. Termasuk kita di kampung ini. Termasuk almarhum Curcuminoid mentoring group. Survival of the fittest. Yang sudah kepanasan segera angkat pantat dan nyemplung ke neraka baru. Yang masih teguh tinggal dan kokoh berlabuh sampai tak tahu mau kemana lagi.

Semua sedang mencari keseimbangan. Gasping for balance. . . . Dan para dogol sibuk mencari makna, mengeluh, meratap kepada Tuhan, tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi hanyalah alam yang ingin seimbang.

May God bless us all.

Posted in: Uncategorized