Persahabatan Abadi (?)

Posted on October 29, 2010

9


Friendship lasts forever. Mmm, . . . siapa bilang? Nggak juga tuh.

Hidup tidak senantiasa indah dan manis. Bahkan yang semula tampak manis pun bisa jadi getir, lalu akhirnya pahit dan membuat mual. Demikian juga dengan hubungan baik persahabatan. Ada kalanya seorang yang sudah berteman sangat baik dengan kita mendadak berubah, dan perubahannya membuat kita heran, lalu sebal, akhirnya jengkel dan marah.

Seseorang mengeluh kepada saya mengapa dia menjadi makin imut (=ingin mutah) melihat kelakuan mantan teman dekatnya. Dia sebal, bahkan muak, sekalipun dia mengatakan tidak membencinya. Dia bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan. Jawaban saya lugas saja: “jauhi dia sejauh-jauhnya. Nggak usah menyapa, nggak usah berusaha bicara, nggak usah berupaya mendekatkan hubungan yang sedang retak itu. Biarkan mendingin.”

“Lha kalau hilang gimana Pak?” tanyanya.

“Ya sudah, mau hilang ya hilanglah sana. Itu artinya sudah takdir kamu tidak menjadi temannya,” jawab saya.

Humm . . . orang itu tercenung.

Kala saya masih jauh lebih muda daripada sekarang, wadaw, dunia ini saya pandang masih ideal. Kalau ada dua sahabat berselisih paham, saya akan mengatakan “mari lakukan upaya memperbaiki hubungan yang retak itu. Ayo bicara dan saling mengalah.” Ah, tapi dunia bukan taman Eden, bung! Semakin lama saya hidup di dunia sialan ini, semakin saya sadar bahwa kadang kala sahabat pun harus berselisih jalan dan akhirnya menjadi dua orang asing. Ya, kalau memang sudah berbeda prinsip dan setiap upaya malah saling menyakiti, ya sudah, kenapa harus diperjuangkan lagi? Mungkin sudah suratan nasib bahwa persahabatan itu harus berakhir. Ya nggak papa. Kan masih banyak orang lain, siapa tahu di antara mereka ada yang kemudian masuk ke dunia Anda dan menjadi sahabat baru Anda.

“Dua orang yang dulunya bersahabat kemudian saling mendiamkan itu sedang penuh dengan prasangka dan pikiran negatif tentang satu sama lain,” kata saya kepada orang itu. “Kamu akan berpikir, ‘oh, dia sedang menyusun rencana untuk menjahati saya’, dan dia juga berpikir yang sama! Mungkin kamu suatu saat tergerak untuk memulai menyapa dan berbaikan kembali, tapi ternyata egomu terlalu besar untuk memulainya. Kamu takut jatuh gengsi karena menyapa duluan. Nah, dia juga merasakan hal yang sama! Akhirnya memang, jalan satu-satunya adalah berpisah; hear no evil, see no evil!

Dia merenung lagi agak lama, mungkin kaget seorang mentor bisa memberi nasehat seperti itu. Ya, gimana ya, kan sudah saya bilang, semakin lama saya hidup di dunia fana yang kadang-kadang palsu ini, semakin realistis cara pandang saya.

Sesi mentoring yang menggetarkan itu terputus karena kami harus kembali bekerja. Tapi saya teruskan di posting ini, karena saya yakin dia pasti membacanya. Yang ingin saya katakan adalah bahwa jalan hidup kadang-kadang memang penuh kelokan. Ada kalanya kita memang harus menyerah pasrah kepada hidup ini, mengalir saja, ikuti saja kemana sang hidup ini membawa Anda; nggak usah berontak, nggak usah protes, nggak usah sok ilmiah, nggak usah sok baik, bahkan nggak usah berpikir. Mengalirlah saja, biarkan, kemanapun sang hidup ini membuai Anda. Nanti, kala sang nasib memang ternyata menghendaki persahabatan itu terjalin kembali, maka mendadak entah gimana caranya Anda dan dia masuk pada suatu situasi yang begitu saja terjadi, dan sontak Anda dan dia menemukan momen yang sangat pas untuk saling menyapa, saling berbicara, dan akhirnya merontokkan es beku yang sudah bertahun-tahun memisahkan kalian berdua itu. Jangan heran kalau itu bisa terjadi bertahun-tahun, bahkan bisa puluhan tahun dari sejak Anda berdua saling berselisih paham.

“Kenapa bisa begitu lama?” demikian dia mungkin bertanya.

“Ya, karena manusia berubah dalam perjalanan waktu,” saya akan menjawab. “Kamu yang sekarang ini, dalam beberapa hal, sudah berbeda dari kamu beberapa belas tahun yang lalu. Demikian juga kamu pada usia tiga puluhan nanti, sudah berbeda dari kamu yang sekarang. Kamu akan menjadi lebih matang, lebih rendah hati, rela mengalah, dan lebih tidak impulsif. Demikian juga sahabatmu itu.”

Hmm . . . .

“Dan kamu tahu kenapa pada akhirnya kamu akan saling berbaikan kembali?”

“Hmm, nggak tahu saya , Pak. Tapi untuk saat ini, rasanya tidak mungkin kami berbaikan kembali. Sudah patah arang rasanya”.

Baiklah. Kali ini saya akan diam. Memang ada saat dimana seorang mentor harus diam.

“Oke, jalani saja hidupmu sekarang,” kata saya dalam hati. “Perjalanan yang masih amat panjang itu akan mengajarkan kepadamu bahwa karena kita semua ini sejatinya SATU jiwa, permusuhan itu tidak akan pernah abadi. Suatu saat kamu akan menjabat tangannya, bahkan memeluknya dengan kangen, dan mengatakan “welcome back, my best friend. I love you!”

Posted in: Uncategorized