Naksir, Jatuh Hati, Sayang dan Cinta

Posted on October 29, 2010

2


Naksir, jatuh hati, sayang dan cinta. Apa bedanya?

Sebenarnya saya malas nulis ini. Lha wong guru linguistik kok nulis tentang cinta itu apa ya valid? Tapi berhubung ini posting pesanan, ya sudahlah, sebagai blogger yang baik, saya mesti menuruti keinginan klien.

Naksir. Naksir itu sebatas kulit. Kulit itu dangkal. Maka kalau Anda naksir seseorang, itu karena Anda menyukai penampilannya, entah itu badannya yang tegap, wajahnya yang cakep seperti Higuain dari Real Madrid, atau matanya yang bagus berbinar-binar, atau senyumnya yang memikat, atau cara bicaranya yang menawan. Anda kagum. Terpikat. Pupil mata Anda membesar ketika melihatnya (ini reaksi fisiologis yang sangat alamiah). Tapi ya hanya sebatas itu.

Jatuh hati. Nah, ini sudah sedikit lebih dalam daripada naksir. Setelah terpikat oleh penampilan fisik tadi, Anda mulai melihat sisi-sisi lebih dalam yang ternyata juga sama memikatnya. Anda mulai merasa senang dan betah mendengarkannya berbicara; Anda mengagumi kepribadiannya yang mungkin ramah dan gaul, atau sebaliknya, misterius, cuek tapi memikat. Cool, calm, collected, kata orang Inggris.

Sayang. Nah, ini ibaratnya penyelam, Anda sudah melangkah pada tahap gak ketulungan karena Anda menyelam terlalu dalam! Setelah naksir, lalu jatuh hati, ternyata Anda banyak menjumpai kesamaan nasib atau minat dengan dia. Mendadak ada keinginan sangat kuat untuk membuatnya bahagia dan sehat dan sejahtera. Tapi ini harus terjadi dari kedua belah pihak. Si dia harus tahu bahwa Anda menyukainya, dan dia membalas perhatian Anda itu, dan kemudian kalian berdua merasa ingin saling membahagiakan satu sama lain. Ingat! Anda tidak mungkin bilang “saya sayang si A”, tapi si A nya sendiri tidak tahu blas bahwa Anda menyukainya. Itu aneh! Tidak mungkin bisa terjadi seperti itu. Tidak logis.

Nah, sayang itu berarti Anda rela mengorbankan sebagian dari diri Anda untuk membahagiakannya. Anda bisa benar-benar merasa bahagia ketika melihatnya happy, ceria, sehat dan sejahtera, dan sebaliknya juga dari dia.

Cinta. Nah, ini ibaratnya penyelam tadi, Anda sudah mancep di dasar laut dan nggak akan kembali lagi. Anda sudah menyerahkan sepenuhnya, jiwa, raga, bahkan harta untuk membuatnya bahagia. Pada tahap ekstrem, Anda bahkan rela mati untuknya. Makanya ungkapan”aku cinta mati sama dia” itu jangan diketawakan, karena kalau itu benar, si penutur itu memang akan rela mati untuk orang yang dicintainya.

Orang yang sudah cinta seperti ini sulit sekali, bahkan hampir mustahil, untuk meninggalkan orang yang dicintainya. Kalau pun mereka bertengkar hebat, pasti akan kembali lagi, karena yang namanya cinta itu sudah tertanam sangat dalam sampai ke dasar sukma.

(Hmm, jadi ingat ada status FB dari orang patah hati pagi tadi. Waduh, . . . maak, suedih poll ungkapannya, ha ha haa! Saya membacanya sampai mulas karena ke lebay an itu. Karena saya gak tahan, saya YM seorang xue sheng: “Eh, ***, ati-ati koncomu iku diluk maneh matek karena patah hati, bwa ha haaa!”)

Jadi, apakah Anda sedang suka dengan seseorang hari ini? Cek lagi, apakah itu hanya sekedar naksir, atau mulai jatuh hati, atau sudah sayang, atau bahkan sudah cinta. Ingat, dua yang terakhir harus mutual atau resiprokal (saling berbalasan); kalau enggak, berarti Anda hanya sekedar suka atau naksir saja. Yang beginian mah nggak akan lama.

Catatan:
Kepada seorang kolega, saya membagikan beberapa kiat mendeteksi perasaan lawan jenis terhadap kita lewat bahasa tubuhnya. Begitu saya uraikan, dia menatap saya dengan takjub. “Wah, Anda pengalaman sekali, Pak!” Gantian saya yang takjub. Pengalaman? Hey, I’m a forty-three year old man with lots of experiences! Keterlaluan kalau saya masih naif di bidang ini.

Posted in: Uncategorized