Saya dan Manusia Multidimensi

Posted on October 28, 2010

2


Manusia itu ternyata makhluk multidimensi. Saya yakin tidak ada manusia yang seperti wayang kulit atau sekeping koin: kalau nggak sisi ini, ya sisi satunya. Manusia, setidaknya yang saya kenal baik, sungguh sangat bersegi-segi. Nah, kesalahan yang sering saya lakukan adalah memberikan mereka cap yang lalu menjadi stereotipe: oh, kamu tuh malas! Kalau kamu ini narsis! Kalau temanmu yang itu gemblung! Temannya itu sombong! dan sebagainya, dan sebagainya . . .

Bahwa mereka ternyata memang malas, narsis, sinting atau sombong, mungkin memang iya. Tapi ada banyak kali di mana saya melihat segi-segi lain dari mereka-mereka ini. Ada seseorang yang ketika pertama kali ketemu saja sudah membuat saya malas mengenal lebih jauh. Dia terkesan banyak mulut, dan omongannya ternyata juga nggak mutu blas! Maka jangan heran kalau saya kemudian terkesan menghindar dari dia. Nah, pada suatu hari, saya meraih satu prestasi. Belum juga yang lain pada bereaksi, si cerewet ini mengirim saya e-mail ucapan selamat. Tidak cukup dengan itu; siang harinya ketika bertemu di koridor untuk mengajar, saya berpapasan dengan dia dan dia langsung dengan hangatnya mengucapkan selamat! Lepas dari sikapnya yang cerewet dan terkesan bossy, dia adalah orang yang ternyata juga penuh perhatian, apresiatif, dan tulus!

Di kelas, kesalahan menilai ini juga sering saya lakukan. Di semester ini, ada satu mahasiswa yang berisik sekali. Kayaknya mulutnya nggak pernah bisa diam, dan tingkahnya persis orang hiperaktif, sampai suatu ketika pernah menyenggol laptop temannya sampai gedumbrangan di lantai. Suatu pagi, saya mengalami kesulitan dengan piranti multimedia di kelas. Barang sialan itu tidak juga mau menyala, padahal semua kabelnya sudah tertancap dengan benar. Tanpa dinyana, di tengah-tengah kebisingan para murid yang biasa mengawali suatu kuliah, dia maju ke depan dan langsung mengutak-atik semua kabel dan tombol PC kelas itu. Berkat jerih payahnya selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya saya bisa mengajar dengan enak setelah semua perangkat berfungsi dengan baik. Kejadian seperti ini berlangsung beberapa kali: di antara teman-temannya yang kebanyakan acuh tak acuh tentang kesulitan teknis dosennya, dia selalu menjadi orang pertama yang membantu saya, tentu masih dengan celotehan-celotehan usil dari mulutnya yang nyaris tidak pernah berhenti ngomong itu.

Ada satu mentee saya yang memang perlu banyak upaya lebih keras untuk meningkatkan keakuratan tata bahasanya. Lepas dari kesalahan-kesalahannya yang kerap membuat saya menghela nafas panjang karena prihatin, mahasiswi yang satu ini pintar sekali menulis dalam bahasa Indonesia. Blognya jarang diisi, tetapi sekali dia isi, saya sangat menikmati caranya bertutur. Memang sudah berbakat nulis nih anak.

Satu hal yang sangat saya sukai dari wanita muda ini adalah caranya melarikan diri dari masalah pribadi. Alih-alih tenggelam dalam frustrasi atau memaki-maki lewat media virtual, dia menyibukkan dirinya dengan kegiatan organisasi kampus. Energi kecewa dan marah yang terpendam itu diubahnya menjadi energi untuk berpikir membuat proposal, laporan, menjalankan kegiatan dan sebagainya. Saya salut! Yah, memang sekali waktu kalau sudah sangat sumpek dia perlu curhat ke mentornya, dan itu saya lakukan tadi sore, walaupun dengan setengah sebal karena dia ngotot curhat lewat FB chatting! Yah, tapi soal yang ini nanti saja di posting berikutnya . . .

“We hate some people because we dont know them; we will never know them because we have decided to hate them,” saya ingat pesan bagus dari Paulo Coelho itu. Tepat sekali! Tak kenal maka tak sayang, versi bahasa Indonesianya. Hmm, good lesson. But I still have a looong way to go . . . .

Posted in: Uncategorized