Kuliah Lagi dan Empati untuk Mahasiswa

Posted on October 26, 2010

6


Tidak banyak yang tahu bahwa kendati sudah Profesor, saya ini masih mahasiswa. Lho kok ketawa?? Iya, sungguh, saya ini mahasiswa di kelas Critical Thinking yang diselenggarakan secara online oleh Oregon University. Setiap hari selama setidaknya 3 jam saya harus online di depan PC untuk mengikuti diskusi atau tugas-tugas yang diberikan oleh dosen saya dari Oregon University.

Tapi ternyata ada hikmah yang saya petik selama menjadi mahasiswa. Saya jadi lebih toleran menghadapi mahasiswa saya di kuliah-kuliah yang saya asuh semester ini. Saya jadi lebih bisa menghayati bagaimana suka dukanya diajar oleh seorang dosen.

Suatu ketika, setelah bersusah payah mengerjakan tugas minggu pertama, saya diberitahu dosen bahwa nilai-nilai saya sudah tersedia di salah satu page websitenya. Begitu saya buka, saya langsung bersorak: A semua! Yihaaa!

Sejenak kemudian saya tercenung. Oh, jadi begitu rasanya para mahasiswa saya bersuka cita ketika mendapatkan nilai 90 ke atas di Macsys dari saya. Pantas mereka begitu berseri-seri kalau saya memberi mereka pujian atau nilai bagus. Salah seorang mahasiswa di kelas Bahasa Inggris 5 bahkan tanpa sungkan mengucapkan terima kasih dengan lantangnya ketika saya datang untuk mengajar. “Oh, “ saya pikir, “You deserve that, xue sheng!”

Tugas di minggu ketiga lebih berat. Materi bacaannya saja ada 5, semuanya panjang-panjang melebihi ceramah dosen di sesi CB 1 atau 2. Waduh, membaca artikel-artikel yang padat konsep itu rasanya saya jadi makin botak! Isinya sih menarik, tentang bagaimana berpikir dengan logis; lha tapi kalau satu kalimat saja mengandung dua konsep penting yang harus dimengerti, rasanya capek benar membaca satu artikel saja. Dan itu belum tugasnya. Tugasnya adalah membuat tabel tentang refleksi kelas yang saya ajar, dan menerapkan pola pikir logis tadi ke pengajaran itu. Terbayang laporan yang belum selesai, menyiapkan materi kuliah, belum memeriksa naskah akreditasi, ngurusi ELTISI, ngurusi mentee. Mampus dah!

Tiba-tiba saya seolah disadarkan: ya begitulah perasaan para mahasiswa saya kalau saya memberikan tugas berat. Nggak heran mereka langsung bermuram durja bahkan sampai ada yang pucat pasi seperti mau semaput begitu saya mengatakan: “Ok, this is the task for you to do . . .”. Ada yang langsung mengomel panjang pendek, dan yang begini langsung mendapat pandangan penuh hina dari mata saya: “wong mahasiwa kok ogah sama tugas!”. Tapi setelah merasakan sendiri betapa beratnya harus mengerjakan tugas kuliah online itu, saya jadi lebih empati. Saya tetap memberikan tugas, karena saya yakin para murid ini akan belajar kalau mereka melakukannya sendiri. Tapi sekarang perintah saya itu saya embel-embeli dengan nada penghiburan: “Nggak sulit kok. Kalian lihat deh halaman sekian-sekian, ikuti saja uraiannya; cek kamus atau wikipedia kalau nggak ngerti. Kalau masih sulit, tanya deh ke saya, saya masih di kelas sampai bel.”. Mereka mengerjakan tugas dengan lagak seperti babi mau disembelih. Setelah tugas selesai, saya periksa beberapa, sengaja saya pilih yang baik, dan langsung saya puji di depan kelas : “this is excellent! Good job!”, dan saya bisa melihat wajah-wajah yang semula cemas dan suntuk itu menjadi sedikit berbinar!

Tugas online di minggu kedua menyisakan sedikit kekecewaan: nilai saya turun! Gara-gara salah membaca perintah (baca: terlalu asyik Facebookan dan blogging) , saya lupa ada satu tugas yang belum saya kerjakan. Langsung poin saya dikurangi, masih ditambah komentar dosennya: “Patrisius, nilaimu terpaksa kami potong karena kamu tidak mengerjakan tugas bagian kedua”. Duh, sakit, pek! Hmm, . . . saya merenung lagi, rupanya begini perasaan para mahasiswa saya kalau mendapat nilai jelek dari saya. Saya nih termasuk dosen sabar, tapi kalau soal nilai saya bukan pengobral. Kalau hasil kerjanya jelek, lha mbok mentee saya ya saya hajar dengan 50! Gak percaya? Tanya deh mentee-mentee saya di Prodi Inggris: minggu lalu tiga-tiganya saya hajar dengan 50 karena jawaban mereka nguawur gak karuan. Ah, tapi sekarang saya merasakan sendiri bahwa sebagai mahasiswa pun, saya juga harus sekali-sekali mengalami lalai dan dikasih nilai jelek itu . . . hmmmm . . .

Gembira mendapat skor bagus dan pujian, merasa berat menghadapi tugas, menyalahkan diri sendiri kalau melakukan kesalahan, dan akhirnya menjadi manusia yang lebih berpengetahuan, semuanya adalah dunia seorang murid yang sedang ditempa di kawah pendidikan. Saya mengalaminya terakhir di tahun 1997 di bangku S3, dan sekarang lagi, di mata kuliah Critical Thinking di Oregon Uni itu. Saya senang. Selain menjadi lebih cakap dalam olah pikir, saya juga punya empati lebih tinggi kepada para mahasiswa yang saya ajar di kelas.

Btw, Critical Thinking yang sedang saya ambil itu ternyata sangat membantu dalam masalah sehari-hari. Kemarin entah kenapa sepulang kantor saya bisa murung dan sedih luar biasa tanpa alasan yang jelas. Saking tak tahan, saya ngomel dan curhat ke teman dekat saya dari negeri seberang. Pada awalnya dia masih dengan telaten dan sabar meladeni ungkapan curcol saya, tapi mungkin karena akhirnya kesal mendapat banjir bandang itu di ponselnya, dia menutup dialog dengan mengirimkan kalimat ini: “You use your leg to think!”. Mungkin kalau di Indonesiakan menjadi : “soalnya kamu tuh mikir pake dengkul!”. Saya terpana membaca smsnya, sebelum akhirnya tertawa sendiri karena merasakan betapa menohoknya kalimat itu dan betapa bodohnya saya. Lalu saya ingat prinsip Critical Thinking itu : apa tujuanmu? Bagaimana kau mau mencapainya? Akan seperti apa buktinya? Asumsi apa yang kamu pakai? Sudah puaskah kamu dengan kebenaran asumsi itu? Apa yang bisa kamu simpulkan? Dari sudut pandang mana kamu memandang semua ini? Apa implikasinya? Wow, begitu menguraikan pikiran saya yang kusut lewat jalur logika seperti itu, saya berangsur-angsur merasa jauh lebih baik!

Posted in: Uncategorized