Pria Pandai Memasak Sangat Menarik

Posted on October 24, 2010

6


Di hotel tempat saya menginap di Jakarta kemarin saya sarapan sambil memandangi koki yang sedang sibuk bekerja di dapur. Semuanya pria. Semuanya begitu tangkas mengolah bahan, memainkan penggorengan, mengepulkan aroma gurih daging, kentang dan sayur mayur yang diraciknya.

“I am washing the dishes,” sms seorang teman dekat dari negeri Tirai Bambu.

“Oh, can I help you? I am good at washing dishes,” balas saya. Memang iya, kok. Sudah sejak kecil saya dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumah (household chores); entah itu menyapu, ngepel lantai, sampai mencuci piring.

Lalu saya cerita apa yang sedang saya lihat di restoran hotel itu.

“Wow! Cooking men! Men who can wash dishes and menyapu lantai! I want to have a husband like that!” balasnya riang.

Konon kata orang di jaman modern ini wanita memang mulai tertarik pada pria yang ‘prigel’ (bahasa Jawa, artinya: cekatan, luwes) dalam urusan rumah tangga, termasuk memasak. Kata beberapa wanita, pria yang bisa memasak itu punya ciri yang unik, dan yang pasti menyenangkan, karena pria yang bisa memasak pastilah sabar, telaten, tidak grusa-grusu, bahkan kreatif.

Apakah demikian?

“Sulit amat jadi pria idaman sekarang,” keluh seorang rekan pria. “Udah kantongnya harus tebal, harus pinter nyapu dan masak lagi. Kalau hanya ngepel dan masak, lha ya kapan cari duitnya?”

Ha ha haaa!

Saya ingat pengalaman pribadi ketika mencoba suatu resep. Resepnya tuh mengandung susu. Maka susu saya panaskan dengan api yang rupanya terlalu kecil. Karena nggak sabar, saya pergi ke kamar belakang main komputer (waktu itu belum jamannya Internet). Terlalu asyik main, saya tiba-tiba ingat meninggalkan susu sialan itu di dapur. Kontan saya ambil langkah seribu lari ke dapur. Astaga! Susunya sudah meluap kemana-mana, sementara pancinya sampai menghitam karena cairan di dalamnya habis dan terpanggang api. Untung tidak terjadi kebakaran! Sejak saat itu saya merasa memasak is not for me, lah.

Kembali pada pria prigel. Mau tidak mau, rasanya jaman sekarang pria memang harus prigel dengan urusan rumah tangga. Pengelolaan ekonomi keluarga harus makin ketat, sementara tenaga pembantu mungkin juga makin mahal. Akibatnya, suami istri harus bisa berbagai pekerjaan rumah supaya tidak usah menggaji pembantu. Suka tidak suka, menarik tidak menarik, ya para pria harus bisa dan mau.

Sebuah riset di Barat mengatakan bahwa melakukan pekerjaan rumah tangga itu mengurangi resiko kanker. Whaa, benar! Baik itu kanker penyakit maupun kanker yang kependekan dari ‘kantong kering’, melakukan pekerjaan rumah memang menyehatkan. Mungkin itu sebabnya kalau hari Minggu kayak gini saya menghabiskan dua tiga jam untuk menyapu dan mengepel lantai atas, kemudian mencuci mobil sendiri. Istri saya fitnes sampai bercucuran keringat, dan saya mengepel sampai keluar keringat juga. Lumayan menyehatkan.

Tapi kapan ya saya memasak? Seorang murid pernah menawarkan kursus memasak. Karena tertarik, saya bertanya kepadanya tentang cara pendaftaran dan teknis prakteknya. Di luar dugaan, dia tertawa dan spontan berkata: “Aduh, Bapak mau masak? Sebaiknya Bapak memasak artikel saja, deh, terus dikirim ke jurnal dan entar kami yang baca, he he he!”.

Rupanya untuk memasak pun harus punya tampang masak. Ya sudahlah, mungkin saya jauh dari tampang bisa masak. Maka saya pun kembali ke laptop dan menulis posting ini. Srengngng!! Selamat menikmati!

Posted in: Uncategorized