Uang, Uang, Uang . . . .

Posted on October 21, 2010

7


Kalau ada satu hal yang kadang-kadang membuat saya murung dan brooding, hal itu adalah : uang.

Saya tidak pernah mengalami kekurangan uang. Sejak saya bekerja dari tahun 1991 sampai sekarang, penghasilan yang saya dapatkan sudah sangat mencukupi semua kebutuhan hidup saya dan keluarga. Tapi ada masa dimana saya kadang-kadang merasa gerah dan resah dengan tuhan yang satu ini: uang. Semua manusia memujanya. Semua manusia menginginkannya. Banyak pula yang rela mati atau menafikan Tuhan dan agamanya, bahkan saudara-saudaranya, demi uang.

Seandainya manusia menganggap uang sebagai pelengkap kebutuhan dasarnya, tidak akan seburuk ini situasinya. Mereka akan berupaya mendapatkan uang, tapi pada satu saat mereka akan berhenti mencari lebih banyak uang dan mengatakan: ini cukup! Tapi jaman seperti ini, mana ada manusia kayak gitu? Semua manusia tidak pernah merasa cukup dengan uang yang didapatnya. Kalau hari ini dapat lima juta, bulan depan sudah berpikir: kenapa kok hanya lima? Kayaknya aku bisa dapat lebih, minimal tujuh. Ketika sudah dapat tujuh, celaka! Dia melihat rekannya mendapat sembilan juta, maka resahlah dia dan berupaya lebih keras lagi untuk mendapat sembilan atau sepuluh juta. Demikian seterusnya, sampai ketika sudah mampus pun pusaranya masih dihiasi oleh uang-uang kertas, maksudnya supaya di alam sana dia tidak menangis gerung-gerung karena penasaran dengan uang-uang yang ditinggalkannya. Menyedihkan!

Saya merenung lagi. Masih dengan murung. Kenapa uang? Ya, mesti wae lah. Jaman gini mana ada yang gratis? “Realistis saja lah”, kata mahasiswa saya menjawab status FB saya kemarin, “uang memang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang.” Diamput! Ya, bener sih. Tapi justru itu yang membuat saya sedih. Mengatakan bahwa segalanya perlu uang berarti menjadikan uang sebagai patokan. Kalau semua sudah diukur dengan patokan uang (harta, kekayaan materi, ) kok rasanya hidup jadi dangkal sekali ya? Kalau Anda wanita single, dan dihadapkan pada dua calon pria, satunya karyawan sederhana yang jujur dan sedang menabung untuk bisa menyejahterakan keluarganya kelak, dan yang satunya berlimpah harta yang konon hasil korupsi, Anda pilih yang mana sebagai suami? ‘Ya, . . . yang pertama memang orang baik, jujur dan tekun. Tapi, rasanya saya lebih baik pilih yang kedua,” pasti Anda akan menjawab demikian. Naah, sudah saya duga pasti itu jawabannya! Dan sayangnya hal itu membuat saya jadi kurang respek sama Anda . . . .

Uang memecah belah. Calon mahasiswa dari keluarga miskin tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi sebaik rekan-rekan sebayanya yang lebih berduit, karena yang terakhir ini mampu membayar lebih mahal untuk mendapatkan fasilitas belajar unggul, dan dosen-dosen dan profesor yang lebih cakap, kalau perlu dari luar negeri.

Uang membuat minder. Bahkan ketika saya masih SD pun, selalu saja teman-teman terbagi menjadi kelompok the have dan the not have. Mungkin yang kaya juga tidak merasa melecehkan yang tidak kaya, tapi entah gimana yang golongan kurang mampu ini merasa minder bergaul dengan mereka yang lebih makmur.

Uang membutakan. Berapa banyak kasus di panggung tanah air yang mempertontonkan bagaimana para penegak hukum menggadaikan harga diri dan sumpah jabatannya demi segepok uang?

Saya merenung lebih jauh. Yang salah pasti bukan uangnya, tapi sikap manusia terhadapnya. Sebenarnya bisa kok manusia-manusia ini bersikap proporsional terhadap uang. Sebenarnya kita bisa mengatakan: “oke, yang sekian ini sudah cukup! Kalau aku berusaha lebih keras lagi, nanti aku akan diperbudak oleh uang, jatuh ke tindak korupsi, main sabet sesama, dan melacurkan entah itu otakku atau badanku sekalian.”

Saya pikir lagi, mencoba mengingat siapa saudara, rekan, atau bahkan mahasiswa yang seingat saya pernah menunjukkan sikap waras ini. Hmmm . . . .tapi kok . . . . nggak ada ya? Not that I can remember. . . .

Saya murung lagi.

Teringat kata bijak yang pernah saya baca di buku agama Buddha: “kau dan uang itu ibarat perahu dan air. Perahu membutuhkan air untuk berlayar, tapi tidak akan membiarkan air masuk ke dalamnya, karena kalau itu terjadi dia akan tenggelam. Kau perlu uang, maka carilah uang, tapi jangan biarkan keinginan akan uang merasuki hidupmu, karena kau akan tenggelam dalam nista nanti.”

Saya menghela napas panjang, tersenyum kecil merasakan betapa menyegarkannya petuah singkat nan bijak itu.

Glossary: brooding = moody; merenung dengan murung.

Posted in: Uncategorized