Mentee Yang Ini Membuat Saya Ngeri . . .

Posted on October 21, 2010

9


Yang satu ini baru bergabung dengan saya semester ini. Penampilannya classy dan wangi. Biasanya saya suka menikmati secara diam-diam wangi parfum lawan jenis, tapi yang satu ini malah membuat saya sedikit minder. Ya, iyalah, parfum classy yang dia pakai mah nggak sebanding dengan parfum kelas guru, yang paling banter ya jenis minyak nyong nyong atau minyak samin sekalian, bwa ha haaa!🙂

Tapi okelah, lepas dari soal parfumnya, mentee yang satu ini membuat saya waspada. Saya belum sepenuhnya mengenalnya. Justru karena itu, pendekatan yang saya pakai pun harus diperhitungkan supaya tidak membuat kedua pihak menjadi tidak nyaman. Suatu ketika, di satu kuliah yang saya berikan, dia kelihatan lesu sekali. Ketika saya minta untuk maju ke depan menunjukkan hasil kerjanya, dengan lugasnya dia menggeleng. Saya terpana! Belum pernah dalam karir saya sebagai seorang guru perintah saya ditolak oleh seorang murid dengan gelengan seperti menolak tawaran penjual koran di perempatan itu! Aaargghh! Grrr!

Maka sore harinya saya sms dia menanyakan kenapa dia tidak mau menuruti instruksi saya pagi harinya di kelas. Jawaban sms nya juga sangat lugas: “Iya, saya sedang tidak bersemangat sama sekali”. Jawaban yang unik, belum pernah saya jumpai di murid yang lain. Murid yang lain pasti akan langsung mendahului jawabannya dengan kata ‘maaf’, kemudian menjelaskan dengan sedikit rikuh alasannya. Tapi yang ini benar-benar tampil beda.

Peristiwa itu terjadi sebelum dia mendaftarkan diri menjadi mentee saya (sebelumnya dia ‘hanyalah’ mahasiswa PA saya). Ketika melihat dia mendaftar, saya sebenarnya agak heran: ‘apa yang kau cari dari bimbingan saya, young woman?” demikian kata saya dalam hati. Dengan kata lain, saya sedang bertanya-tanya apa gak salah kah pilihannya menjadi mentee saya itu?

Tapi mungkin juga memang nasib mentakdirkan kami untuk berinteraksi sebagai mentor dan mentee. Ya sudahlah, dijalani aja, wong ya hanya dua tahun kok.

Ber sms dengan mentee ini (yang sangat jarang saya lakukan) bisa terasa seperti berkomunikasi dengan makhluk di planet Mars sana. Kalau saya sms jam 3 sore, jawabannya bisa datang jam 1 pagi, atau malah tidak dijawab sama sekali. Baru tahu saya kemarin kenapa: ‘saya gak bisa tidur’, katanya. Wah, kok ya pas dengan posting saya kemarin yang berjudul Insomnia. Ternyata mentor dan mentee sama-sama insomnya, walah!

Di kelas, mood mentee ini memang bisa melambai kesana kemari seperti bendera di tengah angin. Kadang bersemangat, tajam dan cerdas, tapi banyak kali kelihatan kalau dia jenuh, ngelamun atau sibuk dengan BB nya.

Saya jadi merasa agak . . . gimana gitu. Tapi bagaimanapun dia sekarang faktanya adalah mentee saya. Saya merasa wajib untuk memperhatikannya dan membimbingnya. Gimana caranya? Nah, seorang pembaca blog ini, Ms. FH, menyarankan secara tersirat bahwa hanya mentor-mentor yang tegas dan keras lah yang akhirnya membentuk seorang mentee menjadi pribadi yang unggul dan tahan banting. Dia menceritakan di salah satu komennya betapa dia sampai menangis darah di bawah asuhan seorang senior yang luar biasa demanding, tapi justru sikap sangat keras sang mentor itu yang menempanya menjadi seorang karyawan sukses. Apakah saya juga sebaiknya seperti itu ya?

Hmm, . .. mungkin tidak. Saya bukan orang yang suka pendekatan keras. Di rumah pun, saya adalah seorang ayah yang sangat jarang marah apalagi sampai membentak-bentak dan berkata pedas. Kedua anak saya mengenal papanya sebagai orang yang sabar, sering guyon dengan mereka sampai ketawa terbahak-bahak, dan pada momen yang tepat memberi nasihat dengan nada kalem dan tenang.

Demikianlah. Kembali ke si mentee yang wangi tadi. Tiga hari yang lalu saya nyaris marah melihat dia dengan kalemnya masuk kelas tanpa membawa buku teks. Lha kalau nggak bawa buku itu lho terus mau belajar dari mana? Alih-alih menegurnya, saya sms dia malam harinya, mengingatkannya dengan halus untuk membawa buku untuk kuliah esok paginya. “Terima kasih sudah diingatkan, ya, Pak” balasnya jam 1 pagi. Keesokan paginya, dia muncul dari belakang saya, mengucap salam dengan santunnya ketika mengikuti saya masuk kelas, sekilas wangi parfumnya melesat mengibas hidung saya. Nah, rupanya dia sudah membawa buku teks tersebut.

Kuliah mulai. Saya minta dia untuk mengerjakan tugas di depan. Dia maju dengan tiga perempat semangat. Lumayan hasilnya. Dia duduk kembali. Saya mulai membahas hasil kerjanya panjang lebar, menerangkan ini itu. Beberapa menit kemudian, saya lihat dia mulai kehilangan konsentrasi. Rupanya BB dan teman di belakangnya lebih asyik daripada mentor dan dosennya yang sedang berceramah di depan kelas.

Begitulah. Satu mentee yang unik dengan ciri khas sifat dan temperamennya telah hadir dalam medan perjuangan saya sebagai seorang mentor. Mungkin saya memang harus sabar dan cerdik menghadapi mentee yang satu ini. Bagaimanapun, kemauannya untuk hadir di kelas, membawa buku, dan mengerjakan tugas dari saya perlu saya apresiasi, layaknya seorang guru yang bersorak ketika muridnya yang agak terbelakang bisa mengucapkan satu kalimat utuh. Mungkin juga dia tidak salah memilih saya sebagai mentornya. Okay, ***, let us see how well we can shape each other. Mari kita sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik dan bijaksana.

Posted in: Uncategorized