Aku Bosaaann . . .!

Posted on October 19, 2010

5


“Saya bosan! Pinginnya tidur terus, malas ngapa-ngapain. Saya bosan kuliah.”

Mendengar keluhan itu, saya membuka mulut, ingin sekali mengatakan sesuatu. Tapi celaka, tidak sepatah kata pun keluar. Ayoo, mana itu jurus-jurus mentoring yang sudah saya pelajari mati-matian selama ini?? Kenapa mendadak saya jadi hang begini?

Ah, jangankan saran dan nasihat panjang lebar, akhirnya tak keluar juga sepatah katapun dari mulut saya. Saya seperti menghadapi tembok tak terpanjat: mentee saya bosan. Kalau sudah bosan, terus mau ngapain? Saya juga tidak tahu. Jalan-jalan ke mall? Dia sama seperti saya, nggak suka keluyuran di mall. Lha terus ngapain? Tidur saja di rumah, dengerin musik? Akhirnya karena kehabisan akal, saya pun asal bunyi: “udah deh, jatah bolosmu tinggal berapa? Masih kurang satu kali kan? Ya wis, mbolos aja sehari atau dua, tinggal di rumah, baca buku atau tiduran. Ntar pinjam teman untuk catatan kuliah yang ketinggalan.”

Sesaat kemudian saya sadar betapa dogolnya saran itu. Lha wong mentor kok malah ngajari mbolos iki piyee toooo??!! Hiiihhh, . . . . gemas sekali saya rasanya saya sore itu!

“Saya pingin lihat pemandangan, ke gunung atau ke tempat yang hijau-hijau gitu,” katanya kemudian.

“O, ya bagus itu. Teman-teman mentee yang lain tuh jago kalau disuruh mencari tempat-tempat kayak gitu,”

Pembicaraan pun kemudian melebar kemana-mana, mulai dari rasa bosan sampai ramalan garis tangan. Yah, karena dia kayaknya menikmati topik-topik itu, ya sudah, kami ngomong aja sekenanya dan sesantai-santainya.

Rasa bosan memang kadang-kadang tak terhindarkan. Saya tahu saya jadi mati kutu menanggapinya karena saya sendiri jarang bosan. Tapi seandainya saya tahu-tahu merasa bosan, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Yang pertama adalah merubah rutinitas. Kalau sehari-hari saya pulang ke rumah melewati jalan yang sama, kenapa tidak mencoba jalur yang baru? Atau kenapa musti langsung pulang ke rumah? Bagaimana kalau saya mampir ke rumah teman, atau ke rumah ortu? Atau ke warung masakan padang di kelokan itu?

“Jalur yang berbeda memberikan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda pula,” demikian nasehat seorang ahli dari suatu website. “Disitu ada kemungkinan Anda menemukan potensi baru yang selama ini tidak Anda lihat karena tidak pernah melewatinya. Nasib baik pun bisa kadang-kadang mampir pada Anda.”

Cara lain adalah mencoba sesuatu yang selama ini tak terbayangkan. Bagaimana kalau mencoba memasak? Atau trekking di suatu hari Minggu pagi? Ya, saya bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya yang seumur hidup nggak pernah memasak mencoba untuk mengolah suatu resep. Mungkin rasa masakannya bisa kesana-kemari, alias kadang asin, kadang pedes, mendadak pahit. Tapi mungkin justru disitu letak sensasinya!

Saya beruntung punya hobi blogging yang membuat saya nyaris tidak pernah bosan. Jangankan di rumah, di kantor pun saya curi-curi blogging. Justru sensasi curi-curi itu yang membuatnya sangat mengasyikkan! Tapi mentee saya itu bukan blogger. Nah, dia bilang dia punya kebiasaan jalan kaki beberapa belas kilo setiap Minggu pagi. Kayaknya dia suka melakukannya. Ya, kenapa tidak mulai dilakukan lagi?

Di Malang ini, mulai muncul beberapa kafe. Ini salah satu terapi bosan juga. Saya yang bukan tipe pengeluyur ini, pernah mencoba nongkrong di kafe sambil bawa laptop. Waktu baterenya mulai habis, saya akhirnya hanya duduk sambil minum es jeruk dan makan kentang sampai perut kembung, sambil baca majalah atau memandangi suasana sekeliling. Tak terasa tiga jam berlalu. Begitu pulang, saya kangen lagi kepada rutinitas yang ‘membosankan’ yang mengirim saya ke kafe itu. Break the routine! mungkin itu kuncinya. Kalau sehari-hari kita melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari A, B, C, D, mungkin suatu kali akan bagus kalau kita merubahnya menjadi A, C, D, B, atau A, B, C, X, Z, baru kemudian D.

Belum berhasil juga? Yah, ya wis embuh. . . .

Mendadak saya sadar wajah mentee itu sedang sedikit berubah. Dari yang tadinya murung dan jemu, wajahnya menjadi sedikit berbinar dan bersemangat. A-ha! Mungkin juga itu salah satu cara membuang kebosanan: bertemu dengan seseorang yang enak diajak bicara, ngobrol ngalor ngidul dan tertawa bersama-sama sebelum kembali melakukan kegiatan yang rutin . . .

Kami berpisah. Saya rapat di Korbidkem dan dia lenyap entah kemana. Saya tidak tahu apakah dia masih dirundung bosan atau tidak malam ini, ketika saya menulis posting ini. Tapi dia mentee saya, so I am writing this posting as a caring, albeit desperate, attempt to cheer her up . . .

Posted in: Uncategorized