Surat tentang Hati Yang Pilu

Posted on October 16, 2010

3


Dear Xxxxy,

Kita tidak pernah bicara soal ini. Yang aku dengar, akulah yang salah. Tahu nggak? Aku berusaha berkali-kali menelponmu, untuk minta maaf kalau memang itu salahku. Tapi sudahlah, . . . aku tidak mau menghabiskan waktumu.

Aku tak bisa berbohong: aku tetap mencintaimu, namun aku sudah sampai pada titik dimana aku sudah tidak tahan lagi. Ada sesuatu yang membuatku terhenti manakala aku melihat pandang matamu yang sulit kulukiskan.

Sebenarnya, masih ada jalan dimana kita bisa mencoba. Sama seperti yang pernah kita lakukan dulu berkali-kali. Namun, mengapa, Xxx, mengapa kamu tetap mengatakan semua kebohongan itu kepadaku?

Masih ingatkah kamu tentang semua itu?

Rasanya tak ada lagi jalan untuk berbaikan kembali. Kamu sudah terlalu sibuk mengurus dirimu sendiri.

Pun ketika aku menulis semua ini, aku masih merasa bahwa kamu sebenarnya bisa datang kepadaku. Kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku, dan mari kita lihat betapa jauh jarak antara kita berdua sekarang ini.

Benarkah itu, Xxx, bahwa masih ada jarak yang sebenaranya bisa kita lenyapkan, namun sekarang jarak itu kelihatan menjadi terlalu jauh bagimu. Ingatkah kamu akan hal ini?

Betapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyadari semua ini. Tapi kita nampaknya sudah tak punya waktu lagi. Selalu saja ada hal yang lebih penting untuk dilakukan; selalu ada saja hal yang lebih penting untuk diomongkan.

Aku akui, aku tetap mencintaimu. Tapi kita tahu sekarang, semua sudah terlambat.

Semua sudah berakhir. . . .

Masih ingatkah kamu?

*****
Apa kaitan surat sendu di atas dengan perasaan saya hari ini? Ha ha ha, tidak ada hubungannya! Itu adalah terjemahan dari lirik lagu “Do You Remember” yang dinyanyikan oleh Phil Collins di tahun 1990. Saya kebetulan kehabisan ide untuk posting, lalu tiba-tiba terpikat lirik yang sedang dia nyanyikan ini dari CD saya. Mmm, pikir saya, bagus juga liriknya. Lugas, tapi sendu, dan pasrah. Maka jadilah surat nakal di atas itu, ha ha haa!

Tiba-tiba seorang mahasiswi menelpon:

M: “Pak, apa-apaan tuh postingnya? Ha ha haaa! Ya elah, sendu banget. Lagi patah hati tah, Pak?”

P: “Huss! Sembarangan ngomong! Ha ha haaa! Kena kau ya? Kamu kira saya lagi brokenhearted ya?”

M: “Ya, tadi sempat ikutan mellow juga nih saya. Nggak biasanya Anda begitu, Pak! Saya pikir pasti sedang marahan sama kekasih. Ha ha haa!”

Telpon itu akhirnya menjadi ajang saling ledek ditingkah derai tawa saya. Well, mengapa tidak? Sore ini mood saya begitu nyaman, riang dan damai. . . .

Posted in: Uncategorized