Aku di Mata Sang Mentee Itu . . .

Posted on October 16, 2010

10


“My mentor, lecturer and academic advisor”

Saya tertegun lama membaca link di atas yang ditaruh oleh seorang mentee saya di blognya. Link itu membawa pembaca ke blog saya. Bukan, bukan blog saya itu yang membuat saya terpana, tapi tulisan itu . . .

Kita kadang lupa bagaimana orang lain memandang diri kita. Kita kadang-kadang menjadi terlalu merendahkan diri, atau justru terlalu mengagungkan diri, sampai kita melihat bagaimana orang lain memandang kita sebagai satu pribadi dalam kehidupan mereka. Sedikit banyak tulisan link di atas menyadarkan saya bagaimana mentee saya ini memandang seorang Patrisius.

Saya boleh dibilang agak keras terhadap mentee yang satu ini. Karena dia adalah mahasiswi saya di Prodi Inggris, tanpa sadar saya menyimpan harapan tinggi kepadanya. Saya ingin dia berbicara dan menulis bahasa Inggris dengan baik dan benar. Kesalahan sekecil apapun, entah itu pilihan kata, pengucapan, atau grammar, saya jejaki seperti seorang agen CIA membuntuti korbannya, dan tanpa sungkan langsung saya koreksi. Jangankan di ujian akhir, bahkan status FB nya atau sms nya pun tidak luput dari koreksi saya kalau memang salah.

Seandainya saya yang menjadi mentee, mungkin saya tidak mau repot membubuhkan link itu ke blog mentor saya. “Ngapain juga nge link ke blognya mentor cerewet?” mungkin demikian pikir saya.

Tapi ungkapan sang mentee di ujung atas bisa bermakna banyak. Mungkin juga si mentee ini tidak punya pikiran seperti yang tertulis di atas; mungkin link itu dibuatnya asal jadi, tapi mungkin juga . . . . seperti itulah dia memandang saya: seorang guru, penasihat akademik, sekaligus mentor . . . .

Dosen. Dosen PA. Mentor. Ketiganya mensyaratkan pribadi yang cakap, teguh, responsif, tidak emosional, stabil, bijaksana, dan layak jadi panutan. Nah, sekarang saya yang jadi merinding sendiri: sudahkah saya seperti itu?

Sms dari mentee yang satu ini kebanyakan berupa pertanyaan seputar tata bahasa. Sepayah apapun dan sesibuk apapun, saya usahakan selalu menjawabnya. Di kelas, saya punya perhatian ekstra kepadanya. Bukan, bukan karena potongan rambutnya yang baru, tapi lebih karena saya selalu mengatakan dalam hati: “Ok, now let’s see how you perform. You gotta be good, because you are my mentee! If you don’t do well, let me help you.”

Kembali pada rasa tergetar tadi menerima ketiga predikat di atas: mentor, dosen PA, guru. Bagaimana kalau suatu ketika saya ketahuan cacadnya? Bagaimana kalau suatu ketika saya harus marah dan sedikit kehilangan kendali? Bagaimana kalau saya juga sedang susah dan menampilkan wajah menyebalkan? Bagaimana kalau tindakan mereka melukai perasaan saya dan saya ingin benar-benar memintanya pindah ke mentor lain?

Well, mentor pun manusia juga. Bisa sakit, bisa tersinggung, bisa marah, bisa kecewa, bahkan oleh menteenya sendiri. Yah, dinamika hidup. C’est la vie, kata orang Madura. Link sederhana dari sang mentee itu cukup untuk menyadarkan saya bagaimana harus bersikap sebagai seorang yang dianggap sebagai guru, dosen PA, dan mentor.

Semoga begitu . . .

Posted in: Uncategorized