Bagaimana Menolak Cinta Pria Ngebet

Posted on October 15, 2010

12


Seorang gadis kebingungan karena sedang dikejar-kejar seorang lelaki, dan celakanya dia tidak tahu bagaimana menolaknya.

“Sudah saya pakai segala macam cara,” katanya suatu siang. “Mengacuhkan sms, tidak membalas sapaan di Facebook, meminta sopir saya untuk menjawab telponnya, bahkan sampai pura-pura pacaran dengan teman sekelas saya, eh, dianya tetap bersikukuh. Maju terus pantang mundur!”.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Putus asa.

“Capek dikejar-kejar terus seperti ini,” keluhnya. “Dulu ketika kenalan, rasanya dia biasa-biasa saja. Entah darimana asalnya, tahu-tahu dia tertarik kepada saya dan mulai melancarkan serangannya.”

Seorang teman menyarankan untuk mengalah sedikit, dan memberinya kesempatan untuk bisa berbicara. Siapa tahu setelah ketemu dan berbincang, si pria ini merubah pikirannya.

Si gadis menurut. Dibiarkannya si pria itu datang dan mengajaknya berbincang. Celaka tiga belas! Bukannya menjauh, si pria malah tambah tergila-gila begitu melihat cara bicara dan kepribadian si gadis ini yang memang gorgeous.

“Gimana ini??!!” serunya setengah gila.

Lalu datanglah seorang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Dia membisikkan sesuatu di telinga sang gadis. Sang gadis manggut-manggut dengan mata berbinar. Keesokan harinya, di luar dugaan dia mengajak si lelaki pemburu itu berbicara lagi.

Mereka berbicara tidak sampai setengah jam. Si pria kemudian berbalik pergi, dan tidak pernah lagi memunculkan batang hidungnya di depan si gadis. Semua kontak–FB, blog, sms–putus.

Si gadis tersenyum lega. Woo-hoeeeyy!

“Emang apa yang kamu katakan kepadanya?” tanya saya yang akhirnya tidak bisa menyembunyikan heran.

“Sederhana,” jawabnya riang. “Saya tanya, kamu ini bekerja sebagai apa? Dengan gaji sekian itu, kamu yakin bisa membiayai hidup saya? Saya termasuk pemuja pria sejati. Pria sejati itu mampu memberi rasa aman pada wanitanya, bukan secara fisik, namun lebih kepada jaminan finansial. Gaya hidup saya tidak bisa dikatakan murah. Paket hemat nggak ada dalam kamus saya. Kalau bisa beli yang eksklusif, kenapa mesti beli yang KW 2 atau imitasinya? Nah, Mas yakin bisa memberikan jaminan untuk memenuhi kebutuhan itu? Kalau yakin, ya, . . . saya tidak keberatan jalan sama Mas.”

@#$!

“Maaf, bukan saya materialistis, tapi . . .” dia tercekat sebentar. “Ini realistis.”

Saya tersenyum kecut. Menjabat tangannya.

“Loh, kok salaman?”

“Iya, makasih ya, kamu memberi saya ide untuk nulis di blog.”

Posted in: Uncategorized