Niat Ingsun Jadi Mentor

Posted on October 13, 2010

11


Menjadi mentor membuat saya lebih seimbang. Selama ini saya sudah berusaha keras di bidang akademik, dan itu semua rasanya sudah terbayar dengan gelar dan segala macam embel-embel lainnya. Saya memerlukan ajang yang memaksa saya untuk juga bagus di sisi non-akademis, dan mentoring menjadi sarana untuk itu.

Di bidang akademis, saya bisa dengan mudah membuang sebuah artikel yang tidak bermutu, atau dengan lugas mengatakan “Ditolak” untuk sebuah naskah yang akan dimuat di sebuah jurnal dimana saya menjadi editornya. Tapi dalam mentoring, saya harus mau mendengarkan curhat mentee-mentee saya, apapun itu. Beberapa membuat saya kaget dengan intensitas dan keparahan masalahnya, tapi ya saya harus dengan tenang mendengarkan, berpikir jernih dan runtut untuk membantunya menguraikan masalahnya. Kadang-kadang saking parahnya, problem itu tidak akan selesai setelah curhat berjam-jam atau ber pulsa-pulsa (karena beberapa dari mereka suka sekali curhat via sms); tapi ya tidak mengapa. Bahwa ada seorang mentor yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati itu saja sudah penghiburan tersendiri buat para mentee yang sedang bermasalah. “Bersabdalah saja, maka aku akan sembuh”, demikian doa di agama yang saya anut. Ya tapi itu mah doa buat Yesus; kalau saya mah bunyinya begini: “Bercurhatlah saja, maka aku akan mendengarkan”.

Saya bersyukur punya mentee hanya 7 orang. 7. Tujuh. Angka keramat. Tuhan menciptakan alam semesta dalam 7 hari, dan pada hari ketujuh di bulan tujuh tahun dua ribu tujuh Ma Chung tercipta. Apa gak keramat tuh?

Dengan hanya 7 orang mentee, saya bisa mencurahkan perhatian yang lebih intens ke mereka. Karena saya juga menjadi dosen dari keempat di antaranya, saya dengan mudah memperhatikan perilaku dan prestasi mereka di kelas.

Grup mentoring Curcuminoid sudah bubar. Saya banyak menimba pengalaman dan pelajaran disitu. Saya jadi tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus berbicara, kapan harus menyapa dan sedikit menyelidik, kapan harus melepas mereka, bagaimana menegur, bagaimana memuji.

Pada saat Curcuminoid bubar (tepatnya: berantakan), saya menilai diri saya sendiri : B plus lah. Lalu saya hitung rata-rata skor yang diberikan para mentee saya: 45! Inna lilahi, . . . sesak rasanya napas. Tapi okelah, saya harus menerimanya dengan lapang dada. Itu berarti sebagai mentor saya masih punya banyak hal untuk diperbaiki.

“Pak, saya baru ketemu si D. Dia bilang tidak mau pindah mentor karena merasa sudah banyak mendapat bimbingan dari Bapak sewaktu di Curcuminoid”, demikian sms salah satu mentee saya.

“Saya juga akan tetap di kelompok mentoringnya Bapak. Bapak baik,” lanjutnya.

“Pak, kenapa jatah menteenya hanya dikasih 10? Kalau saya gak kebagian gimana? Saya nggak pindah mentor, lho, saya tetap jadi mentee nya Bapak,” yang lain menimpali.

Baiklah. Seburuk-buruknya saya sebagai mentor semester lalu, ternyata ya masih ada yang suka. Cukup sudah tiga pesan itu menyemangati saya untuk tetap menjadi mentor di semester ini. Semoga saya bisa menjadi mentor yang baik untuk ketujuh insan muda ini.

Posted in: Uncategorized