Memendam Perasaan dan Topeng Saya

Posted on October 11, 2010

5


Suatu sore yang basah dan lembab, saya duduk diam di kursi saya di kantor. Sudah jam tujuh lebih, dan saya mulai jengkel dengan satu tugas yang belum selesai juga. Ketika staf saya datang melapor bahwa dia masih perlu waktu agak lama untuk menyelesaikan data yang saya minta, langsung terucap dari mulut saya dengan tenangnya: “Oh, nggak papa. Saya tunggu. Mau sampai minggu depan juga saya tunggu!”.

Dia kelihatan sedikit kaget. Sebelum balik ke ruangnya, dia spontan berucap: “kalau mau marah, marah aja Pak. Nggak usah pakai ngomong sinis kayak gitu!”.

Ganti saya yang kaget. “Lho, saya kan bilang kamu selesaikan aja. Kenapa musti ngomel? Lagian juga siapa yang marah?”

“Nggak usah pake sok sabar, Pak,” dia menyahut dengan nada terluka. “Saya tahu kok Anda marah. Dari tadi diam saja dan air mukanya keruh.”

Peristiwa itu sudah lama berlalu, sebelum saya bergabung dengan Ma Chung. Tapi dari sepenggal episode marah terpendam yang berujung ucapan sinis itu, saya jadi belajar satu hal. Ada orang yang cenderung menyembunyikan perasaannya, pura-pura tenang padahal hati sudah panas. Ada orang yang sebaliknya, sangat spontan dan ekspresif, kalau jengkel ya langsung marah. Tapi biasanya orang begini juga cepat pulih. Ketika saya yang memang perasa dan sensi ini masih kelihatan terluka, dia sudah bersikap biasa lagi, bahkan bisa tersenyum dan tertawa, sementara saya masih suram. Ah!

Di ilmu psikologi ada yang disebut topeng sosial. Setiap orang memilikinya, dan menurut saya, wajar saja karena kita hidup dengan orang lain. Topeng yang kita pakai umumnya harus selaras dengan orang lain, supaya tidak terjadi konflik. Maka topeng itu memungkinkan orang berinteraksi satu sama lain dengan perilaku yang cenderung kompromistis: toleran, tidak egois, tidak mudah meledak. Tapi kayaknya topeng saya tebal sekali dan celakanya tanpa sadar saya mati-matian berusaha menampilkan topeng yang—kata banyak orang—cenderung tenang, cool, dan sabar. Pada banyak kasus ini membantu interaksi sosial dengan orang lain, tapi pada saat-saat tertentu, justru saya yang merasa sesak napas karena ketika benar-benar mau meluapkan emosi, saya juga mati-matian tidak melepas topeng itu. Warna asli saya tertahan di baliknya, dan sebagai akibatnya, kalau sudah keterlaluan maka keluarlah ungkapan sinis yang menyakitkan orang lain itu. Ah!
Seorang mantan rekan yang dulu sempat menggawangi bagian sumber daya manusia nyeletuk ketika melihat saya tidak bisa menyembunyikan kejengkelan. “Saya pikir Bapak ini orangnya cool, nggak tahunya bisa meletup juga ya!”

Seorang teman sekelas dengan terus terang menyatakan kesannya: “Kamu tuh kalau lagi tidak enak hati langsung kelihatan dari bibirmu!”. Saya jadi heran, emang kayak apa bibir saya kalau lagi menahan marah? Apa jadi kayak kue bikang begitu? Ah!

Saya pikir, semakin di atas posisi seseorang pada suatu lembaga, semakin dituntut dia untuk mengenakan topeng sosial yang ja-im itu: bijaksana, tidak emosional, kata-katanya teratur, tidak serampangan, tindak tanduknya terukur sehingga pantas jadi panutan. Rata-rata semua pimpinan di sini begitu. Tapi pasti ada saat dimana mereka semua capek mengenakan topeng itu dan keluarlah warna aslinya. Ketika puncak kesibukan rapat akreditasi beberapa minggu yang lalu, kami semua masih berkutat dengan borang sampai menjelang malam. Pertamanya, rapat itu berjalan dengan santun dan penuh tata krama; mendadak, ada seseorang yang kemudian meledakkan suasana dengan guyonannya. Bagaikan dikomando, semua yang lain langsung mengikutinya dan sontak ruang rapat itu berubah jadi ajang guyonan nyerempet-nyerempet parno yang disusul dengan tertawa liar terbahak-bahak, bahkan sedikit ugal-ugalan. Sudah menjelang malam; sudah hampir dua belas jam kami mengenakan topeng; capek fisik dan mental sudah mendekati titik puncak sehingga pada satu saat kamipun membuang semua topeng itu dan keluarlah warna aslinya. Ah!

Salah satu mentee saya kembali nulis blog setelah sekian lama absen. Saya pikir, blog itu juga salah satu cara untuk tidak bertopeng terlalu lama. Dengan menulis blog kita melampiaskan emosi yang tidak boleh diperlihatkan di dunia nyata. Ya, wajar saja; semua orang perlu pelampiasan perasaan. ‘Come as you are’ kata almarhum Kurt Cobain dari Nirvana dalam salah satu lagunya yang enak tenan. Paulo Coelho mengatakan: “menulis blog adalah satu cara sopan untuk bertelanjang di depan publik”. Sialan! Ya, benar juga sih! Ah!

Jadi, mau lebih suka yang mana? Tipe sok cool dan tenang tapi kadang-kadang memendam seperti saya, atau yang lebih spontan dan ekspresif, cepat marah, tapi juga cepat tertawa dan ramah kembali? You decide!

Posted in: Uncategorized