Bermain dengan Intuisi

Posted on October 9, 2010

7


Intuisi. Hunch, bahasa Inggrisnya. Sulit didefinisikan, dan saya juga tidak mau repot-repot mendefinisikannya. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keping pengalaman yang saya kira pantas untuk disebut hasil intuisi.

“Keping”. Betapa tepatnya istilah itu. Ya, memang, karena ketika mengalami percikan intuisi, saya merasa seolah sekeping dari diri saya (entah itu pikiran, raga, bahkan jiwa) seperti melesat dari masa kini ke masa depan menjumput sekeping kejadian di masa depan. Terjadi sangat cepat, melesat begitu saja dan sekejap saya sudah kembali ke masa kini tapi dengan sedikit pengetahuan atau kesadaran tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Suatu sore saya merasa seperti terhisap lumpur pasir. Ada kenangan masa lalu yang ternyata masih sangat menyisakan perasaan galau di hati saya. Pekerjaan yang menumpuk dan kelas-kelas menyenangkan yang saya ajar tidak mampu mengusirnya. Mata saya menatap layar komputer, tapi pikiran melayang kembali ke masa-masa itu. Saya menghela napas panjang, susah payah mencoba menyingkirkan perasaan itu. Mendadak sekeping diri saya melesat ke masa depan. Sulit diceritakan apa yang saya lihat, tapi yang jelas saya mendadak merasa mantap dan tidak goyah lagi. Saya klik Facebook saya, dan saya tulis intuisi saya itu: “I will never look back again . . . Glory days ahead!”. Begitu saja tertulis di status saya.

Glory days ahead? Beberapa minggu setelah itu, saya menerima kabar beruntun: satu, saya mendapat sertifikasi dosen; dua, disertasi saya diterbitkan oleh penerbit Eropa untuk diedarkan disana; tiga, buku saya yang sudah dicetak mendapat reward dari Dikti, dan puncaknya, SK saya sebagai Profesor akhirnya turun!

Glory days! Betul kan apa yang saya tulis di status FB itu? Kenapa kok bisa begitu? Ya karena saya sudah kesana, ke masa depan itu, walau hanya seperseribu detik . . . .

Such is the power of intuition.

Hal yang kurang lebih sama terjadi ketika saya menamai blog ini: Machungaiwo. Ma Chung ai wo. Saya masih ingat peristiwa itu, suatu sore di bulan Agustus 2008: blog ini baru saya rancang, dan wordpress menanyakan namanya. Sekali lagi ada kepingan penglihatan melesat ke masa depan, dan tanpa ragu, bahkan mungkin juga setengah sadar, saya tulis begitu saja: Machungaiwo!

Ma Chung ai wo. Benar kan? Semenjak saya bergabung dengan Universitas ini, cerita sedih dan kegagalan bisa dihitung dengan setengah jari tangan. Selebihnya adalah sukses, kegembiraan, pelajaran berharga, relasi yang menyenangkan dengan murid dan rekan-rekan, not to mention financial security, positions, and reputation! Ma Chung memang cinta saya. . . .

Sekarang Anda tahu mengapa nama saya di Facebook adalah Enjoy Myself. Ya, sekali lagi intuisi sialan itu yang membimbing saya memilih nama itu. Dan, benar kan? Sekalipun sangat pendiam, agak cuek, dan kurang bisa bergaul dengan sesama Ma Chungers (karena mereka, entah kenapa, seperti sungkaan dan sopaan sekali kalau sama saya), tapi saya tidak memungkiri fakta bahwa masa-masa sendirian di depan komputer atau di kelas adalah masa-masa yang paling saya nikmati.

Kadang-kadang daya yang aneh ini menjadi agak spooky (menyeramkan). Suatu ketika, selesai berbincang-bincang dengan beberapa kelompok mahasiswa, saya merasa bahwa salah seorang diantaranya akan datang ke kantor saya untuk berbicara panjang. Intuisi kali itu begitu jelasnya, sampai saya bisa melihat pakaian yang dikenakannya. Ketika akhirnya beberapa hari kemudian dia datang melenggang ke kantor saya, saya sampai tergetar di kursi saya: rok yang dikenakannya pagi itu, bahkan sampai pada caranya berjalan dan mengucapkan sapaan, persis sama dengan apa yang saya lihat di perjalanan intuitif ke masa depan itu!

Kapan intuisi ini datang? Apa yang menyebabkannya? Yaah, mene ketehek! Kata orang, mereka yang berzodiak Pisces memang punya kecenderungan intuitif. “Orang Pisces itu satu kakinya di alam nyata, satu kakinya lagi di alam khayal dan dunia mistis,” kata seorang pakar astrologi. Walahuallam. Apakah semua Pisces begitu? Ya mene ketehek juga. Yang jelas sebagai seorang Pisces dan spiritualis, saya tidak segan dan tidak pernah merasa bersalah mengembara untuk menerima pertanda dan sinyal-sinyal dari sang kosmos yang maha dahsyat ini. Kalau orang religius mencap intuisi sebagai bisikan iblis atau berlawanan dengan Kitab Suci, ya biarkan saja, emang saya pikirin! Yang jelas, saya percaya bahwa intuisi itu ada, dan mungkin saya harus merasa beruntung kadang-kadang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengalaminya, walau hanya sekejap.

Glossary:
mene ketehek = mana kutahu = wo bu zhe dao = how do I know?

P.S. Saya ingat sekarang: pengalaman intuisi itu sering datang ketika saya memusatkan pikiran dan upaya penuh pada suatu hal, kemudian pada saat tertentu melepaskan semua itu; menjadi rileks, pasrah, mengalir, melayang begitu saja. Dan Zzzzzzttt! intuisi itu pun menerpa!

Posted in: Uncategorized