Nyanyian Jawa dan Bikin Skripsi

Posted on October 2, 2010

3


Di budaya Jawa ada nyanyian seperti ini:

Eh, dayohe teka, eh, beberen klasa

Eh, klasane bedah, eh, tambalen jadah

Eh, jadahe mambu, eh, pakakno asu

Eh, asune mati, eh, buangen kali

Eh, kaline banjir . . . lst (lan sak teruse)

Terjemahannya adalah:

Eh, tamunya datang; ayo tikarnya digelar

Eh, tikarnya sobek, ayo ditambal sama jadah (sejenis ketan yang lengket)

Eh, jadahnya bau, ayo diberikan ke anjing

Wah, anjingnya mati, ayo dibuang ke sungai

Wah, sungainya banjir, dsb . . .

Apa yang terjadi kalau kita tidak sabar dan kepingin potong kompas supaya nyanyian itu segera selesai? Kita akan melompati beberapa baris, dan akibatnya bisa jadi seperti ini:

Eh, dayohe teka, eh pakakno asu
(Eh, tamunya datang, ayo kita berikan ke anjing).

Ungkapan meleset itu ternyata mengandung nilai filosofis yang dalam. Semua itu ada jalurnya, semua itu ada pakemnya, ada urutan dan tatanannya. Kalau kita ikuti pakem itu, jadinya harmonis. Tapi sekali kita melompati beberapa tahap, tujuan mungkin tercapai lebih cepat, tapi setelah dilihat ternyata ada yang menggelikan di tengah-tengahnya.

Di Kompas sedang ramai dibahas tentang orang-orang yang melacurkan nilai-nilai intelektual: mahasiswa datang ke agen pembuat skripsi, atau tesis, bahkan disertasi, dan dengan membayar sekian juta atau bahkan beberapa belas juta rupiah, setelah sekitar sebulan menerima tesis yang sudah selesai. Memprihatinkan! Dunia pendidikan yang seharusnya padat dengan sikap disiplin, kerja keras dan kejujuran menjadi kacau balau dengan adanya gejala ini.

Di Ma Chung, ini musim Tugas Akhir dan skripsi. Semoga yang membaca, apalagi kalau dia mahasiswa saya, tidak tergoda untuk membuat jalan pintas yang akhirnya mencederai moralnya sendiri ini. Semoga kalau kelak saya bertandang ke rumah mereka dan ternyata menjumpai bahwa kursinya sobek dan suguhannya basi, mereka tidak kemudian membuang saya ke anjingnya, ha ha ha!

Posted in: Uncategorized