Si Pria Patah Hati dan si Peselingkuh

Posted on September 28, 2010

0


Pria itu duduk di tepi tembok balkon hotel. Tangan kirinya berpegangan di kusen jendela, sementara lebih dari separuh tubuhnya sudah menjuntai ke udara bebas. Dia siap melompat menuju kematiannya di aspal keras di bawah sana.

Seorang pria lain menemaninya di pinggir jendela itu. Pria yang satu ini terus berusaha membujuk si pria putus asa itu untuk tidak melompat.

“Masuklah,” bujuknya. “Tindakan seperti ini tidak akan menyelesaikan masalahmu. Ayo kita urai masalahmu satu-persatu dan kita cari jalan keluarnya”.

Si pria putus asa itu hanya mendengus lemah. Pandangannya kosong menatap ke bawah. “Apa gunanya?” desahnya. “Sekian tahun aku berjuang menghidupi dia dan keluargaku, hanya untuk ditinggal selingkuh seperti ini. Sakit sekali rasanya, dan lebih sakit lagi manakala aku menyadari tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, kecuali membunuh diriku sendiri.”

“Ya, aku tahu bagaimana beratnya dikhianati seperti itu,” kata si lelaki satunya, sebut saja namanya Jacob, yang nampak tenang dan bijaksana itu. “Tapi kamu harus tetap bertahan. Kalau kau mati, siapa yang akan merawat putri tunggalmu?”

Si pria putus asa, sebut saja namanya Gray, terdiam.

“Kau tahu istrimu sudah tidak becus merawat anak, dia hanya akan peduli kepada kekasih gelapnya itu,” Jacob melanjutkan. “Bila kau tetap hidup, setidaknya ada satu orang yang sangat menyayangimu, yaitu putrimu sendiri. Dia lah alasan mengapa kamu harus tetap tegar!”

Demikianlah sang psikiater yang cakap dan si pria patah hati itu terus berbincang. Gray berusaha membenarkan tindakan yang akan dilakukannya, sementara Jacob terus berusaha membujuknya untuk tidak terjun bebas ke kematiannya.

Sampai akhirnya Jacob bertanya kepada Gray: “kamu tahu siapa pria yang menjadi kekasih gelap istrimu itu?”

Seulas senyum tipis tiba-tiba muncul di bibir Gray. “Ya, sebenarnya aku tahu benar siapa dia.”

“Ohh?” Jacob sedikit terkejut. “kalau kau tahu, itu akan menjadikan hal ini lebih mudah. Kau bisa menemuinya dan berbicara dengan tegas tapi tidak agresif untuk menjauhi istrimu”.

Gray menatap Jacob lekat-lekat: “kau juga ingin tahu siapa si pria itu?”, tanyanya.

Jacob terdiam sejenak. Lalu dia mengangkat bahunya. “Mana aku tahu?” katanya. “Sejak kau dan istrimu datang kepadaku untuk minta advis tentang perkawinan kalian yang sedang bermasalah, tak satupun keterangan kalian berikan tentang ciri-ciri si pria itu.”

Gray tersenyum aneh. “Oh, jadi apakah aku aku harus menceritakan ciri-ciri si pria itu?”

Jacob terdiam lagi, sejenak agak ragu-ragu. Tapi kemudian dia berkata: “Ok, kalau itu memang yang kau mau, silakan, aku akan mendengarkan.”

“Pria itu,” kata Gray sambil menatap Jacob, “adalah seorang pria baik-baik, berpendidikan tinggi. Dia hidup sebagai seorang profesional, dan profesinya membuatnya dia menikmati status sosial yang tinggi. Mapan, sukses, kaya . . .”

“Hm-mm,” Jacob manggut-manggut.

“Dibandingkan dengan diriku yang keluar masuk perusahaan, cari kerja dengan susah payah, kadang jadi kere karena benar-benar tidak punya uang, dia bernasib jauh lebih baik,” Jacob melanjutkan. “Sampai akhirnya di bertemu istriku dan mereka saling jatuh hati. Di balik punggungku mereka bercinta. Aku dianggapnya seonggok sampah. Betul-betul dua makhluk jahanam. Mereka pantas mati di tanganku!”

Jacob terdiam. Menatap Gray yang tidak bisa menyembunyikan perasaan dendamnya. Rona putus asa yang tadi merajai wajahnya berganti dengan kegeraman luar biasa.

“Tapi kau tidak bisa membunuhnya,” dia berkata pelan. “Itu malah akan menambah masalah.”

“Oh, mengapa tidak?,” kata Gray. “Aku bisa membunuhnya, dan setelahnya perduli amat. Aku bisa membunuhnya . . . sekarang juga!”.

“Maksudmu?”

“Ha ha haa!” tiba-tiba Gray tertawa. “Kau belum tahu juga siapa pria itu?! Pria sialan itu adalah dirimu sendiri! Ya, kau sendiri, Jacob! Kau menawarkan advismu sebagai psikiater dan konselor perkawinan buat kami; kau banjiri kami dengan nasihat-nasihat profesionalmu itu, tapi di balik punggungku kau meniduri istriku!!”

Jacob terhenyak. Tubuhnya menegang, wajahnya kaku dan pucat pasi. Sungguh tidak menyangka dia bahwa Gray ternyata telah mengetahui tingkahnya.

Sebelum sempat Jacob berpikir lebih jauh, Gray sudah mengayunkan tangannya yang sedari tadi menjuntai keluar, mencengkeram kemejanya dan menariknya keluar jendela. Tubuh Jacob melayang, terhempas dengan keras di aspal puluhan meter di bawah balkon itu. Dia tewas seketika.

Gray menarik dirinya kembali ke dalam jendela. Tangannya yang kokoh menutup kembali daun jendela. Dia mengangkat telpon, menghubungi nomer istrinya. “Temui aku di hotel,” katanya datar. “Konselor kita si Jacob ingin ketemu kita disini.”

** Cerita di atas adalah adegan sebuah film yang saya lihat beberapa tahun yang lalu. Mencekam, dan endingnya sungguh membuat saya terpana. Siapa menyangka akan seperti itu? Genius scriptwriter and director!

Posted in: Uncategorized