Tentang Dirasani dan Rasan-rasan

Posted on September 24, 2010

5


Seorang mahasiswi datang kepada saya suatu petang. Wajahnya sendu. Biasanya dia ‘sendu’ (seneng duit) atau “sendhu” (seneng ndhusel), tapi kali ini dia benar-benar sendu. “Saya sedih karena saya sering dirasani, Pak” katanya muram.

Seperti biasa saya diam saja. Merenung.

“Bapak sering nggak dirasani?” dia bertanya.

“Oh, iya,” jawab saya dengan santai. “Sering banget”

“Dirasani jelek atau bagus?”

“Yah, namanya saja dirasani. Mana ada dirasani bagus? Kalau kita ngerasani atau dirasani orang, ya umumnya tentang yang jelek-jelek saja”, jawab saya.

“Terus Bapak gimana reaksinya?”

“Hmm,” saya berpikir sebentar. “Yah, dulu, duluuu sekali waktu saya masih muda, ya sempat sedih dan marah juga sih. Tapi sekarang, saya mah udah kebal.”

“Haah, kebal?” dia keheranan. “Kok bisa sih, dirasani malah tenang-tenang saja?”

Saya menggeser posisi duduk saya, mengalihkan pandangan dari tangan yang sedari tadi sibuk menulis ke wajahnya.

“Saya nih selalu berada pada posisi yang sangat nyaman untuk dijadikan bahan rasan-rasan,” saya bilang. “Di universitas tempat saya bekerja belasan tahun yang lalu, saya jadi kepala pusat riset, terus pindah ke lembaga lain, jadi kepala pusat bahasa, pindah ke Ma Chung, menjadi kepala QA dan pusat pelatihan bahasa. Apapun yang saya lakukan, rasanya tidak akan lepas dari rasan-rasan. Itu memang sudah nasib jadi pimpinan.”

“Wah, kenapa Bapak bisa begitu kalem? Kalau saya mah, udah stress dari dulu.”

“Untuk apa juga stress?” kata saya. “Look, dear, kita semua ini pasti pernah dirasani dan ngerasani. Itu sudah bagian dari bumbu hidup. Tapi semakin banyak usia dan pengalaman saya, semakin saya merasa bahwa perkara rasan-rasan itu lebih banyak ngawurnya daripada tepatnya. Orang ngerasani saya karena, satu, dia tidak tahu konteks sesungguhnya dari keputusan atau langkah-langkah yang saya ambil. Dua, kebanyakan rerasan itu dasarnya juga dari bahan omongan orang lain, dan orang lain ini dengarnya juga dari orang lain, dan seterusnya. Semakin panjang guliran rasan-rasan itu dari satu mulut busuk ke mulut busuk lainnya, semakin ngawur ceritanya, sudah ditambahi bumbu disana-sini sehingga benar-benar meleset jauh dari kenyataannya.”

Dia diam memandang saya. Belum paham nampaknya.

“Coba ya,” saya mencoba menjelaskan. “Umpamanya ada yang melihat kita duduk berduaan semeja begini di kantor yang sudah sepi, di petang hari, dan dia tidak mendengar apa yang kita bicarakan. Ntar dia ngomong ke temannya di depan itu: “wih, ada mahasiswi PDKT seorang dosen,”; terus temannya ini bilang ke orang lain, orang lain ini bilang ke orang lainnya lagi. Nah, sampai ke orang di ujung Student Center sana, ceritanya sudah menjadi seperti ini: “Pak Botak itu suka mengencani mahasisiwi di kantornya kalau semua orang udah pulang.” Satu minggu kemudian, rerasan itu sudah menjadi makin edan. Sudah jauh meleset dari kenyataan yang sebenarnya, yaitu bahwa kamu hanya sekedar curhat di kantor saya pada suatu petang.”

“Mm-mmm,” dia menggumam, agaknya mulai mengerti.

“Begitulah yang saya alami di dunia kerja, bahkan juga di dunia sehari-hari. Kalau saya dibisiki seseorang: “eh, kamu tahu, si A itu pernah tengkar hebat sama stafnya sampai mau bunuh-bunuhan pakai pisau dapur!”, biasanya saya akan dengan halus mencoba bertanya: “Oh, ya? Dengar dari mana?”. Kalau si orang ini menjawab: “Iya, lho, saya dengar dari ceritanya si anu kemarin”, maka saya langsung skeptis akan kebenaran cerita itu. Dalam dunia analisis wacana, hal itu disebut dampak intertekstual: semakin panjang satu wacana diceritakan ulang secara mulut ke mulut, semakin tidak akurat lagi dengan wacana aslinya.”

“Oh, gitu ya?” dia menukas. “Tapi, saya tertarik tadi Bapak bilang bahwa Bapak tahu kalau dirasani orang. Apakah Bapak tahu siapa orang-orang yang merasani itu?”

“Ha ha ha!” saya ketawa dan dia kaget. “Ya, pasti tahulah. Lembaga ini sebesar apa sih? Saya pernah suatu ketika ngomong bla bla bla di suatu ruang, agak heboh dan keras memang. Terus saya keluar mau ngajar. Eh, ternyata saya kelupaan ada buku yang ketinggalan di ruang tadi. Maka sayapun balik ke ruang itu. Tahu nggak? Hanya selang tiga langkah dari pintunya, saya mendengar nama saya disebut-sebut dengan nada ngerasani oleh orang-orang disitu. Begitu saya muncul membuka pintu, mereka langsung kelincutan seperti monyet ketahuan sedang berselingkuh dengan wedus. Ha ha haaa! “

Mahasiswi ini tersenyum. “Terus, selanjutnya hubungan Bapak gimana dengan orang-orang itu?”

“Aah, ya biasa ajalah. Kan saya sudah bilang tadi: ngerasani dan dirasani itu bumbu hidup. Ya hubungan saya dengan mereka tetap baik, nggak terus musuhan atau gimana, soalnya . . . . ya . . . jujur aja, kadang-kadang saya juga ngerasani mereka kok, ha ha haa!”

Kali ini dia tertawa kecil. “Dasar,” gumamnya tanpa bisa menahan geli dan setengahnya geregetan. “Ternyata podo ae ya, Pak?”

“Iya,” saya mengangguk. “Eh, kamu juga pasti begitu kan? Jangan bilang kamu gak pernah ngerasani orang-orang yang kamu anggap ngerasani kamu itu.”

“He he he,” kali ini dia yang terkekeh. “Iya, sih, Pak.”

“Eh, Pak,” katanya lagi, rupanya masih penasaran. “Terus, apa Bapak tidak pernah mencoba berbenah diri supaya tidak dirasani lagi?”

“Mmm . . . dulu sih iya, tapi sekarang sudah setengahnya cuek. Biasanya nih, saya merenung sebentar menimbang-nimbang isi rerasan itu. Kalau rerasan itu ternyata ada benarnya, ya saya coba perbaiki sikap. Tapi kalau enggak, ya saya tetap aja seperti ini. Saya tahu blog dan status FB saya menjadi bahan rerasan gila-gilaan di luar sana. Apa saya terus berhenti blogging dan Facebooking? Nyatanya ya tambah menggila kok. Itu artinya saya tidak perduli.”

Setelah si murid itu pergi, saya termenung sejenak. Saya menggelengkan kepala, berdecak dan tertawa kecil: “Lha wong dirasani aja kok susah . . .”

Posted in: Uncategorized