Impian Sang Mentor

Posted on September 23, 2010

6


Kalau ada yang memperhatikan, foto-foto mentee yang saya pajang di tepi kanan blog ini sudah lenyap. Entah kenapa, suatu pagi saya merasa jenuh dengan mentoring. Ya, sebenarnya bukan jenuh gimana ya. Dibilang jenuh sih enggak, buktinya saya menjadi yang pertama mendaftar jadi mentor ketika Direktorat PKK membuka peluang tersebut. Tapi entah kenapa saya merasa kesal pada diri sendiri, dan akibatnya merembet kepada mentee-mentee yang fotonya pernah saya pajang disini. Rasanya, dengan fokus saya yang terpecah-pecah gak karuan, saya tidak bisa mewujudkan impian saya menjadi mentor yang baik.

Mentee saya tidak kalah ‘aneh’nya. Mereka jarang sekali dengan sengaja menemui saya di kampus kemudian ngomong-ngomong tentang masalahnya, atau curhat, atau sekedar berbincang-bincang santai. Anehnya, begitu malam menjelang, ada saja yang meng sms kemudian mulai curhat kesana kemari. Mereka nampaknya nyaman sekali melakukan hal itu. Padahal buat saya itu agak aneh: kalau bisa ketemu saya di kampus dan bicara langsung, kenapa lewat sms atau bahkan Facebook? Bukan saya anti sms atau Facebook, tapi manakala mentoring harus dilakukan via media sms atau web, rasanya ada saja yang kurang. Saya tidak bisa melihat ekspresi wajah dan bahasa non-verbal mereka; mereka juga tidak. Lagipula bahasa sms itu sangat rawan salah paham. Saya pernah beberapa kali mengira mentee saya sedang marah hanya karena dia menulis seperti ini “Paaakkk!!”. Lha kan ya saya kira dia sedang membentak saya. Ketika saya klarifikasi, dia malah heran: “Mengapa Bapak mengira saya marah??? Saya sedang menyapa!”. Astagafirullah . . . .

Kadang-kadang mungkin karena sudah menjadi sangat dekat, terjadi hal yang ganjil. Suatu ketika, kekecewaan saya pada seseorang yang menghancurkan kepercayaan saya sudah tidak tertahankan dan akibatnya termuntahkan di status Facebook. Eh, seorang mentee saya langsung menanggapi, dan akhirnya dia menghibur saya “Yang sabar ya, Pak, bicara aja sama dia. Mungkin dia juga tidak bermaksud melakukan hal itu”. Ketika keesokan harinya saya baca lagi replies itu, saya ketawa sendiri. Lho ini sebenarnya siapa mentor siapa mentee sih? Kok mentee jadinya malah membesarkan hati mentornya yang sedang downhearted? Ah, aneh tapi nyata . . . But thanks anyway. Mentee itu memang bukan outstanding student, biasa-biasa saja, tapi saya tahu dia memang atentif dan pada dasarnya baik hati.

Hari ini ada pemilihan mentor. Saya minggat. Bukan karena apa, saya harus ke Surabaya mengambil SK Guru Besar saya. Tapi saya sudah pasrah. Seandainya tidak ada mahasiswa yang mau menjadi mentee saya, ya emang gue pikirin! Saya hanya akan angkat bahu dan kembali meneruskan pekerjaan yang tambah lama tambah edan itu.

Kalau ada yang masih mau saya menjadi mentornya, saya hanya berharap semoga jumlahnya tidak lebih dari 5 atau 7 orang. Mau satu orang pun ya boleh. Justru dengan jumlah sekecil itu saya akan berupaya sekuatnya untuk menjadi mentor yang jauuh lebih baik.

Menjadi mentor yang baik. Melihat mentee-mentee saya tumbuh menjadi jauh lebih baik, lebih arif, lebih bersemangat dan tetap fun. Membuat saya menjadi panutan untuk mereka. Itu saja impian saya ketika semua pencapaian akademis sudah di tangan dan tidak lagi gegap gempita. Sederhana, bukan?

Posted in: Uncategorized