Gober versus Hamar

Posted on September 22, 2010

3


Alkisah, ada dua orang ketemu dengan sang Malaikat Maut. Sang Malaikat mengatakan bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini kecuali kematian. “Kamu akan mati,” dia berkata menunjuk ke salah satunya. “Kamu juga pasti akan mati,” dia menunjuk yang lainnya.

Nah, pergilah kedua orang ini melanjutkan hidupnya di dunia. Salah satunya, sebut saja si Gober, merasa yakin bahwa karena dia suatu saat akan mati, maka dia pun mulai mengumpulkan harta duniawi sebanyak-banyaknya. “Mumpung aku masih hidup,” kilahnya, “kan lebih baik bekerja keras, mengumpulkan uang, kemudian menikmati hasilnya, harta benda, reputasi, dan segala kenikmatan yang menyertainya. Soalnya kalau nanti aku sudah mati, harta benda segini banyaknya tidak akan bisa kubawa ke sana.”

Satunya lagi, sebut saja si Hamar, merasa bahwa dia pasti akan mati. Oleh karena itu, dia mulai bekerja untuk berbuat baik dan berguna bagi sesamanya. Harta memang perlu, tapi buat dia itu bukan prioritas utamanya. Sejauh itu cukup untuk keperluan dasarnya, dia pun berhenti mengumpulkan harta dan lebih bertekun mengabdi untuk kemanusiaan. Ego dan keinginan hedonis atau bernikmat ria dibuangnya jauh-jauh. Kepuasan yang dicari dan didapatnya bersumber dari kesejahteraan orang-orang lain yang dibantunya.

Maka si Hamar hidup sederhana tapi penuh karya, si Gober hidup sejahtera penuh harta melimpah dari cucuran keringat orang-orang yang dipekerjakannya (dan sekaligus agak diperalatnya).

Suatu malam Malaikat Maut itu datang lagi. “Kenapa kamu mengumpulkan harta seperti orang kerasukan?” tanyanya kepada Gober.

Gober menjawab: “Loh, kan kau bilang suatu ketika aku akan mati. Nah, senyampang aku masih hidup, ya kukumpulkan harta sebanyak mungkin sehingga hidupku nikmat. Soalnya kalau aku mati nanti, semua ini nggak akan bisa kunikmati lagi.”

“Hmm, ‘ si Malaikat berdehem. “Lalu, Hamar, kenapa kau tidak hidup seperti Gober?”

Hamar menjawab: “Kan suatu ketika aku akan mati juga. Jadi mumpung aku masih hidup, aku gunakan waktu dan tenagaku untuk membuat orang lain bahagia. Kenapa nggak mengumpulkan harta? Ya, karena Gober bilang, entar kalau kita mati hartanya nggak akan dibawa. Jadi ngapain juga menumpuk sesuatu yang nggak akan kita bawa ke alam abadi sana?”

Gober tidak tahan untuk tidak menukas: “Maaf, kawan! Tapi semua perbuatan baikmu itu, apa ya akan dikenang orang kalau kamu sudah mati nanti? Paling juga namamu dijadikan nama jalan, atau gedung, tapi orang sudah lupa siapa kau dan apa yang kau lakukan ketika masih hidup.”

Malaikat Maut tidak membantah mereka berdua. Dia berbalik menatap dari balik layar komputer Anda, dan bertanya kepada Anda yang sedang membaca posting ini: “Mana yang Anda pilih? Hidup a la Gober atau hidup seperti Hamar?”

Posted in: Uncategorized