Eksperimen dengan Hidup

Posted on September 17, 2010

1


Sebagai seorang yang masih bingung antara Stephen Hawking atau Deepak Chopra dan William Dembski saya kadang-kadang bereksperimen dengan hidup yang misterius ini. Orang bijak mengatakan “semua yang kau lakukan pada dunia akan kembali kepadamu dengan cara dan kekuatan yang sama”, atau “jangan lakukan pada orang lain apa yang kau tidak ingin orang lain lakukan padamu”. Saya bilang, “ah mosok?” Maka saya pun memutuskan untuk bereksperimen menguji kebenaran teori ini. Medan yang paling pas adalah lalu lintas. Lalu lintas itu penuh dengan orang saling tak mengenal yang potensial menjadi musuh hanya karena saling serobot, saling salip, atau saling klakson. Nah, ini yang sesuai untuk eksperimen saya.

Sebagai pengemudi, saya dikenal sebagai sopir yang lamban, lebih sering mengalah dan terlalu taat kepada aturan lalu lintas. Tapi, demi eksperimen itu saya putuskan untuk merubah sikap itu. Saya menjadi sedikit berangasan, bahkan ugal-ugalan. Saya menyetir dengan cepat, mendahului kendaraan lain bahkan ketika di depan belum kosong sama sekali. Di perempatan, saya tidak segan memepet motor atau mobil yang belum juga selesai menyeberang. Saya menjadi lebih ganas dalam mengklakson. Pejalan kaki atau sepeda pancal yang sudah di pinggir jalan pun bisa nyaris budeg karena saya klakson setidaknya sepuluh kali. Kalau ada sopir lain yang marah karena sikap saya, saya turunkan jendela dan saya balas memelototinya, kalau perlu dengan sedikit makian “J’. Buat saya pada tahap itu, pengendara lain di jalan adalah musuh yang perlu ditekan, ditakut-takuti, kalau perlu digasak sekalian supaya saya bisa lewat.

Apa yang terjadi? Ternyata entah bagaimana, hampir semua pengemudi lain seperti seolah sepakat untuk bersikap sama, setidaknya terhadap mobil saya. Kalau saya mengklakson dengan ganas, keesokan harinya saya pun diklakson dengan berang. Mobil yang berpapasan seolah dengan sengaja nyeleyot ke kanan sehingga hampir menggores mobil saya. Perempatan menjadi ajang makian karena sikap saya yang agresif juga ditanggapi dengan agresif oleh mobil atau motor lain. Puncaknya, saya pernah menyalip sebuah angkot di tikungan ke kiri menanjak sebelum supermarket Tandon di jalan Tidar. Manuver menyalip itu saya lakukan dari sebelah kanan, mepet sekali dengan kaca spion si angkot, plus klakson yang tak kalah serunya. Setelah berada di depannya, saya lihat angkot itu menderu dari sebelah kanan dan menyalip saya dengan manuver tak kalah gilanya. Nyaris mobil Xenia saya berciuman dengan angkot itu. Sang sopir berhenti di pinggir jalan, menengok ke saya dan memaki “Hei! Jancuuuk!”.

Ok, cukuplah eksperimen tahap pertama. Tahap kedua adalah sikap sebaliknya. Sekarang saya mengemudi dengan jauh lebih sabar, lebih toleran, dan lebih empati kepada pengendara lain. Saya hemat tombol klakson; kalau pun perlu sekali, saya hanya mengklakson satu atau dua kali, bahkan ketika mobil atau motor di depan tak juga mau minggir. Saya tak segan berhenti sejenak memberi kesempatan kepada kendaraan lain yang mau menyeberang, bahkan tak jarang dengan tangan saya menyilahkan mereka untuk maju terus. Di perempatan, saya menjadi orang terakhir yang lewat karena saya selalu memberikan jalan kepada mereka yang mau lewat dari arah berlawanan.

Apa yang terjadi sungguh sulit dipercaya! Sejak sikap saya yang lebih sabar itu, para pengemudi lain seolah bersepakat untuk membalasnya dengan sikap yang tak kalah sabarnya. Pengemudi angkot yang saya beri jalan tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya tanda terima kasih. Kalau saya mau U-turn, pengemudi yang sedang lewat mengerem dan menyilakan saya lewat duluan. Jalanan masih tetap ramai, kendaraan lain masih tetap cepat, tapi entah bagaimana, saya merasa bahwa semua yang lewat itu adalah rekan seperjalanan dan bukan musuh yang harus didahului dengan garang.Dan edannya, hampir semua pengemudi lain seolah menunjukkan sikap yang sama. Puncaknya, dalam perjalanan menuju ke Surabaya, spion kiri saya tersenggol mobil lain sehingga terlipat. Tengah saya kebingungan, mobil lain dari kiri memepet mobil saya, pengemudinya membuka jendela dan mengulurkan tangannya membenahi spion yang terlipat itu. Dia tersenyum sekilas, menutup kembali jendelanya, dan melesat pergi, bahkan ketika saya belum sempat berterima kasih!

Begitulah. Eksperimen dengan hidup itu saya akhiri dengan kesimpulan utama: ternyata apa yang dikatakan orang-orang bijaksana itu benar adanya. Apapun yang kamu lakukan kepada hidup ini akan dikembalikan kepadamu dengan cara yang sama dan kekuatan yang sama! What goes round comes round. Instant karma! Anda menuai apa yang Anda tabur. Kalau hanya lalu lintas saja sudah mampu membuktikan ‘teori’ itu, apalagi bidang kehidupan yang lain yang jauh lebih luas: karir, lingkungan sosial di kampung, rekan sekerja, dan sebagainya.

Post note:
Kalau Anda melihat ada mobil abu-abu metalik yang cenderung kalem, suka mengalah dan memberi jalan, dan tidak malu dicap sebagai pengemudi terlalu sabar, dapat dipastikan itu adalah saya.

Stephen Hawking adalah ilmuwan kosmologi terkenal yang sangat yakin bahwa kehidupan tak lain adalah hasil dari proses fisika dan biologis yang berada pada momen yang sangat pas untuk melahirkan kehidupan yang kita alami sekarang. Semua itu bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, sehingga tidak perlu ada Sang Pencipta untuk membuat semua ini terjadi. Saya sangat mengagumi sosok atheis cacad ini. Loh, cacat bagaimana? Lihat aja fotonya di bawah ini:

Deepak Chopra seorang penulis dan dokter terkenal yang yakin bahwa Tuhan itu ada, bersemayam dalam puncak kesadaran tertinggi setiap manusia. Bukunya ‘How to Know God” merubah cara pikir dan cara pandang saya terhadap spiritualitas secara amat, amat, amat sangat radikal.

William Dembski seorang Doktor matematika muda yang yakin bahwa semua ciptaan ini bersumber dari sebuah kekuatan maha agung yang juga sangat, sangat cerdas, yang kita kenal dengan sebutan sederhana: Tuhan. Bukunya “The Intelligent Design” merupakan perkawinan antara ilmu pengetahuan dan teologi. Selesai membacanya, saya pingsan berhari –hari karena saking dahsyatnya buku ini menguak misteri yang selama ini saya yakini ala kadarnya saja.

Posted in: Uncategorized