Kitab Suci: Dipercaya atau Dibakar Saja?

Posted on September 14, 2010

5


Di Facebook dan Google sedang ramai orang berbicara tentang Kitab Suci. Berita pembakaran Kitab Suci Al Quran oleh sekelompok orang Amerika sedang hangat-hangatnya diulas di CNN. Di Facebook ada yang menggugat pula dampak dari Kitab Suci: “mengapa agama dan Kitab Sucinya malah membuat orang jadi beringas dan menghancurkan pemeluk agama lain? Apa dampak bagusnya kalau begitu?”.

Saya ingat Andrew Goatly, penulis buku Discourse Analysis yang saya pakai untuk mengajar mahasiswa S2 di Unika Widya Mandala. Di salah satu babnya, dia menguraikan cara pandangnya terhadap Kitab Suci agamanya. Sebagai seorang bocah Kristen, kepadanya telah diajarkan bahwa Kitab Suci adalah sabda Tuhan yang ditulis bukan dengan cara biasa, namun dengan tuntunan roh kudus melalui wahyu yang dibisikkan ke para nabi. Nah, setelah Andrew ini menjadi dewasa, dia mulai mempertanyakan kontradiksi-kontradiksi yang dijumpainya dalam Kitab Sucinya. Akhirnya, sampailah dia pada kesimpulan ini: “aku sadar bahwa Kitab Suci itu bukan hasil turunnya wahyu Tuhan yang kemudian membuat penulisnya menyusun sebuah Kitab tanpa cacat (bahasa Inggrisnya : infallible), namun merupakan buatan manusia yang pasti juga mengandung kesalahan-kesalahan. Lebih lagi, Kitab Suci itu ditulis dan relevan hanya dengan konteks historis jaman lampau ketika Tuhan masih berperan banyak dalam hidup manusia. Maka, orang jaman sekarang seharusnya tidak membuta menuruti isi Kitab Suci, karena sebenarnya isinya sudah tidak lagi sesuai dengan perubahan jaman”. Kalimat penutup argumennya sangat menyengat: “So, it meant, though remaining a Christian, I could no longer feel at home in the fundamentalist church community where I was brought up”. Wow! Wadaw!

Saya ingat bagaimana reaksi mahasiswa-mahasiswa saya ketika saya membahas bagian ini. Tak seorangpun mendebat atau mengiyakan. Semua terdiam dengan wajah beku. Apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Bingung? Menghujat si Andrew Goatly? Setuju dengan dia? Saya tidak tahu . . .

Yang jelas isu bakar-membakar Kitab Suci, baik dalam arti sesungguhnya atau sebagai kiasan, bukan hal yang membuat pikiran nyaman. Kalau Anda seorang pemeluk agama taat yang mempercayai kebenaran Kitab Suci seratus persen, apa Anda rela kitab itu masih saja diperdebatkan? Kalau Anda termasuk golongan yang mulai meragukan agama dan segala piranti religiusnya, termasuk Kitab Suci, apa Anda sebenarnya sangat setuju untuk menggugat Kitab Suci, namun tidak berani buka mulut karena takut dikutuk habis-habisan?

Sekarang tentang bakar-membakar Kitab Suci. Kalau Kitab Suci saya dibakar, saya pasti akan diam saja. Loh? Kok gitu? Lha ya iyalah, untuk apa saya harus melayani orang sesat? Mau seribu eksemplar Kitab Suci saya dibakarpun, iman saya terhadap agama saya kan tidak berubah. Dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah, ada sekelompok teman yang menyebarkan guyonan bernada melecehkan salib. Kontan kami yang pemeluk Nasrani menjadi panas dan bersiap membalas. Tapi seorang frater kemudian mengingatkan kami: “sudahlah, diam saja kau itu. Ngapain melayani orang sirik dan kurang waras? Nanti juga berhenti sendiri”. Ternyata dia benar. Mungkin bosan dan kagok karena provokasinya tidak ditanggapi, kelompok teman yang melecehkan itu akhirnya berhenti sendiri.

Ya, pasti ada pembaca yang sangat tidak sependapat dengan sikap diam seperti itu. “Lho, kalau Kitab Suci kita dibakar, ya harus kita balas!”. Bakar balas bakar; lempar balas lempar. Hasilnya? Hancur lebur semua! Nah, maka benarlah apa yang dikatakan Mahatma Gandhi: “an eye for an eye makes the whole world go blind!”. Kekerasan dibalas kekerasan, hasilnya hanya kehancuran, plus Sang Iblis yang berpesta pora di atas bangkai-bangkai karena provokasinya melalui agama berhasil dengan sukses!

Kembali pada perdebatan tentang Kitab Suci. Menanggapi keraguan terhadap Kitab Suci, saya dan beberapa teman mengatakan: “Yang salah bukan agama dan Kitab Sucinya, namun sebagian umat yang menafsirkannya secara keliru dan akhirnya menjadi pembunuh sesamanya”. Facebooker yang melontarkan isu itu pertama kali menggugat: “lho, kalau banyak umat yang menafsirkan Kitab Suci itu secara salah, jangan-jangan yang salah memang Kitab Sucinya!”.

Yiiiii-haa! Begitulah, the battle goes on di dunia yang makin edan ini. Fasten your seat belts, people!

Post-note:
Buku karangan Andrew Goatly itu berjudul “Critical Reading and Writing”. Gugatannya tentang Kitab Suci muncul di halaman 158 – 159. Baris terakhir itu artinya: “jadi, sekalipun saya tetap bergama Kristen, saya sudah tidak lagi merasa nyaman di lingkungan Kristen fundamentalis dimana saya dulu dibesarkan”.

Fasten your seat belts! = kencangkan sabuk pengamanmu! Ini adalah ungkapan favorit saya ketika sedang mengajar atau presentasi, fungsinya untuk membuat para hadirin atau mahasiswa waspada karena biasanya akan ada tugas yang sulit.

Posted in: Uncategorized