Wanita Manja (Manis tapi Jancuk)

Posted on September 9, 2010

3


Suatu ketika, seorang teman datang meminta advis dari saya.

“Dik Pat,” katanya (dia memanggil saya ‘Dik’ karena sekalipun sudah lebih tua dari saya, dia adalah STMJ = Sudah Tua Masih Jomblo), “menurut Adik, bagaimana kriteria wanita yang baik dan cocok untuk saya kejar?”

Hmm, saya terdiam sejenak. Apa ya?

“Mulutnya,” kata saya sejurus kemudian.

“Hah?” dia tercengang. “Mulutnya? Maksud?”

Lalu saya cerita pengalaman saya puluhan tahun lalu ketika masih lajang. Waktu itu saya Praktek Kerja Lapangan di sebuah sekolah di dekat sebuah hotel besar di Malang. Karena saya kuliah di institut keguruan, prakteknya ya mengajar. Nah, di sebuah kelas yang saya ajar, ada seorang gadis yang nampak menonjol, bukan hanya karena kepintarannya, tapi juga secara fisik memang mempesona. Ramping, tinggi, kulitnya kuning langsat, dengan rambut panjang sebahu dan penampilan yang pe-de. Saya dan beberapa teman pria makin lama makin sering menggunjingkannya ketika sama-sama berkumpul di ruang guru. Kami guyon nanti kalau sudah lulus mau mengajar disitu saja supaya bisa mendekati gadis itu.

Nah, suatu pagi, gadis itu datang, berjalan melintasi ruang guru, siap-siap mau masuk ke kelasnya. Tiba-tiba dari atas ada sebutir kapur melesat menimpa pundaknya. Rupanya ada temannya yang jahil melemparnya dari lantai dua dengan kapur. Tapi bukan itu masalahnya. Yang membuat saya terhenyak adalah reaksi si gadis manis itu. Dengan serta merta dia mendongak dan mulutnya pun berseru: “Hei! Ooo, jancuk!”

Dhiengngng!! Saya tercekat. Setengah tak percaya saya memandang adegan itu. Gadis semolek itu bisa dengan mudah memberondongkan makian “Jancuk” dengan lantangnya! Wih . . .

Entah bagaimana, tapi tiba-tiba rasa kagum dan terpikat yang saya rasakan terhadap dia langsung anjlok seketika itu juga. Ya, buat pria lain mungkin biasa, tapi buat saya sungguh tidak cantik melihat seorang wanita memaki dengan kata-kata kasar. Ndak tahu ya, tapi saya sudah punya konsep sendiri tentang wanita idaman. Di samping beberapa kriteria lain seperti minat, bakat, pandangan hidup dan beberapa kriteria fisik, seorang wanita itu sudah selayaknya mempunyai mulut yang elok juga. Elok bukan berarti secara fisik, namun lebih pada apa yang diujarkannya lewat mulut itu.

Melihat dia dengan mudahnya memaki dengan kata-kata “J” (kalau di Barat setara dengan ‘F word’), saya bisa menyimpulkan bahwa sikap berangsan seperti itu mungkin sudah menjadi bagian dari kepribadiannya. Betapa absurdnya kalau dia nanti menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Gambaran wanita yang dengan welas asih menyusui anak-anaknya, merawat suaminya, dan menjadi naungan bagi badan yang lelah atau jiwa yang resah pasti sudah tidak ada pada diri wanita semacam itu. Kalau mulutnya saja sudah kasar, hati dan sikapnyapun besar kemungkinan juga tidak lembut.

“Hmm, . . .” teman saya itu manggut-manggut. Tapi dia masih nampak agak ragu. Maka saya teruskan.

“Kalau Kang Mas ketemu wanita yang menurutmu cantik, coba lakukan uji mulut,” kata saya.

“Haah??’ dia ternganga lagi (kasihan sekali orang jomblo ini, begitu minim pengalaman dengan lawan jenis sehingga dari tadi hanya ‘hah hoh hah hoh’ saja), “Kamsud?”

“Coba ajak dia bicara tentang topik-topik terbaru dewasa ini, entah itu ekonomi, atau sosial budaya, atau teknologi, atau pendidikan, apa sajalah yang hangat dan menjadi isu publik. Kalau dia hanya terpana dan mengatakan “Itu apa toh, Mas? Global warming itu apa sih, Mas?”, nah, itu berarti dia kurang pinter, atau setidaknya berwawasan sempit, kurang baca koran atau mendengarkan berita. Wanita kayak gitu juga kurang pantas mendampingi panjenengan.”

“Hah, masa iya toh?” sergah dia. “Bukannya wanita itu hanya perlu macak, masak dan manak?”

“Waladalaah! “ saya setengah tertawa. “Ya itu duluuu, Mas, waktu masih jaman sebelum Kartini. Wanita modern sekarang mah harus pinter dan berpengetahuan luas juga. Lha wong para prianya sudah pada Master atau bahkan Doktor, masa wanitanya masih setara lulusan SD!”

Begitulah. Sampai sekarang pun, ketika fungsi mulut sudah digantikan oleh jari-jari di atas laptop atau BB, reaksi saya masih sama kalau melihat atau membaca makian kasar dari wanita-wanita yang bertebaran di FB atau media online sejenisnya. Saya akan ternganga, setengah tidak percaya, dan akhirnya mengeluh setengah penasaran: “Tapi setahu saya anak ini dari keluarga terpandang, begitu manis dan pintar di kelas, kenapa bisa sekasar itu omongannya???”

Posted in: Uncategorized