Awas, Pegangan!

Posted on September 6, 2010

3


Alkisah, Angin Barat dan Angin Timur sedang berlomba adu kekuatan. Angin Barat menantang Angin Timur untuk adu kuat melepaskan seekor monyet dari batang pohon yang sedang dipegangnya. Angin Timur setuju, dan laga pun dimulai.

Sang Angin Barat menerpa dengan hembusan kerasnya. Makin lama makin keras. Sang monyet yang kaget lantas berusaha mati-matian untuk tidak jatuh dari batang pohon tersebut. Semakin kuat angin bertiup, semakin erat dia mencengkeram batang itu. Sang Angin Barat pun makin gusar. Ditambahnya kekuatan anginnya, sampai badan si monyet itu terayun-ayun di udara sementara kedua tangannya mencengkeram pohon. Tambahh keras, tambah keras, tambah keras lagi. Satu tangan monyet itu terlepas, hampir saja tubuhnya melesat diterpa angin. Tapi tidak! Dengan sekuat tenaga dia menarik kembali tangannya dan mencengkeram batang pohon itu kuat-kuat.

Sang Angin Barat mulai putus asa setelah sekian lama. Hembusannya makin lemah, dan akhirnya dia berhenti meniup, tersengal-sengal kehabisan napas, eh, angin.

“Nah, sekarang giliranku” kata si Angin Timur.

Dia meniupkan anginnya. Lembut, merayap seolah tak terasa, membelai tubuh si monyet. Aliran semilir mengelus tubuh si monyet itu. Terus, terus. . . nyaman sekali sang monyet dibelainya. Matanya pun terasa berat. Kantukpun menyerang. Pelan tapi pasti, pegangannya pada batang pohon mengendur, mengendur, . . . makin longgar, . . . dan akhirnya lepas. Tubuh sang monyet melayang, terjun bebas, jatuh ke semak-semak di bawahnya.

“Yaaay! Aku menang!” sorak sang Angin Timur.

Saya membaca cerita itu ketika masih duduk di bangku SMP. Pesan yang saat itu saya terima adalah bahwa kecerdikan mengalahkan kekuatan fisik. Ya, betul juga. Tapi ketika menulis ini, saya lebih tertarik melihat dari sudut pandang si monyet. Si monyet sialan itu mengajarkan kepada saya satu pelajaran penting: berpeganganlah! Hold on to something! Life may be cruel; even if it does not look cruel, it may still fool you and lull you into your demise! Bahasa Perancisnya: berpeganganlah, sebab hidup ini kadang kejam; sekalipun tidak kejam, tak jarang godaan membuaimu sampai kamu lupa daratan dan tersesat ke lembah gelap!

Sebagai orang yang hanya tahu caranya memegang sendok, setir, laptop dan kamus, saya kagum sekali kepada rekan-rekan dan bahkan murid-murid yang benar-benar memegang teguh apapun yang dianggapnya sebagai pegangan yang kokoh.

“Saya membaca Kitab Suci setiap hari; dan saya pegang kata-kata di dalamnya ketika mengarungi berbagai gejolak dalam hidup ini. Kalau sedang suka, saya tidak lupa mengucap syukur; ketika sedang duka, saya tidak henti berharap dan yakin bahwa akan selalu ada keselamatan,” kata seorang kolega.

“Dulu saya sangat temperamental dan emosional, “ ujar seorang kenalan lain, “tapi sejak membaca pesan-pesan luhur dari Ibu Teresa, saya menjadi jauh lebih sabar. Saya pegang pesan-pesan Bunda Teresa itu karena sangat memancarkan upaya kebaikan tanpa pamrih dan cinta untuk sesama manusia. Luar biasa! Apapun yang saya alami, saya tak pernah lepaskan pegangan dari pedoman itu”.

“Aku tidak percaya Tuhan,” kata seorang teman dekat dari negeri Tirai Bambu. “tapi aku ingat kata-kata almarhumah Ibuku. Dia mengatakan, “jangan pernah kamu menyakiti orang lain, sebab apa yang kamu lakukan itu juga akan berbalik kepadamu”. Pesan itu aku pegang dimanapun dan apapun yang aku alami. Jadi sekarang kalau ada konflik dengan orang lain, biar sampai harus menangis-nangis karena sakit hati atau kecewa atau marah, aku usahakan untuk tidak melukai orang lain.”

Ketika masih duduk di kelas 5 SD, saya ikut les berenang di Sengkaling. Suatu ketika, gurunya menyuruh kami untuk mencoba berenang di kolam yang dalam. Saya takut luar biasa, karena memang belum mantap berenang. Ketika tiba giliran saya, baru juga dua kayuhan tangan, rasanya sudah mau tenggelam. Kontan saya teriak-teriak minta tolong dan tangan saya menggapai-gapai sekenanya ke pinggir kolam. Lhah, lha kok ternyata di bagian pinggir kolam teman-teman saya yang cewek sedang duduk-duduk menunggu giliran. Tak ayal tangan saya yang sedang ‘kethayalan’ itu mampir menyentuh paha-paha mereka. Bepuluh tahun kemudian, saya masih saja ingat peristiwa konyol ini. Satu hal yang saya pelajari: jangankan dalam hidup yang dahsyat ini, bahkan ketika di kolam renang pun dengan pengawasan guru, saya masih memerlukan pegangan. Perkara pegangan itu menjadi agak kurang sopan, ya itu soal lain. Jangankan orang yang panik seperti saya ketika masih kelas 5 itu, sekarang pun ketika sudah mahir berenang, saya harus tetap berpegang pada suatu keyakinan yang kokoh: bahwa saya tidak akan tenggelam.

Apa pegangan Anda dalam mengarungi gelombang hidup ini? Laptop? Blackberry? Kartu ATM? Kartu kredit? Buku “The Secrets”? Komik? Jimat? Petuah orang tua? Ayat-ayat Kitab Suci?

Atau, seperti monyet di atas, Anda sedang . . . terjun bebas?

Posted in: Uncategorized