Pesan-Pesan Bagus dari Kacang Garuda

Posted on September 5, 2010

7


Ma Chung memang tidak salah mendatangkan Pak Sudhamek, pengusaha yang memimpin Garuda Food, pada suatu sesi ceramah di Balai Pertiwi. Beberapa minggu kemudian profilnya muncul di Kompas, dan saya untai posting ini untuk mengingat hal-hal penting yang saya petik dari pengalaman hidupnya:

Jangan pernah takut atau malu dengan awal yang lambat.
Di awal usahanya, pengusaha ini diragukan bahkan setengah ditertawakan orang lain karena idenya tidak lumrah: jualan kacang. Andai dia patah semangat pada saat itu, barangkali sekarang kita tidak pernah menikmati renyah dan gurihnya kacang kulit di negeri ini. Sekalipun setengah diremehkan, dia tidak putus asa dan tetap tekun menggarap bisnisnya. Hasilnya? tidak usah lagi diceritakan panjang lebar bagaimana usahanya tersebut sudah makin besar bahkan merambah pasar manca negara.

Sedikit banyak pesan itu pas buat saya yang juga mengalami nasib serupa ketika membesarkan ELTISI. Di awalnya, karena saya tidak punya staf dan bahkan harus menangani dua unit sekaligus (Quality Assurance dan ELTISI), saya benar-benar bekerja sendirian. Promosi di awal periode semester genap via e-mail dan sedikit brosur dianggap angin lewat oleh semua Ma Chungers. Jumlah pendaftar: NOL.

Ketika akhirnya ada beberapa gelintir makhluk hidup yang sadar akan pentingnya belajar bahasa asing, saya menerima pendaftaran, menerima pembayaran, membuka ruang kelas, sampai mengajar dan membayar sendiri dosen pengajarnya. Celetukan seorang rekan membuat saya nyaris patah hati: “Cek sakno’e yo Bapak kepala ELTISI iku. Masak semua dikerjakan dewek. Promosi dia, registrasi ya dia, membuka ruang kelas ya dia, eh, waktu ngajar ya dia lagi.”. Kalau tidak ingat pesannya Pak Sudhamek di atas, barangkali saya sudah minta mundur dan lebih baik menangani Direktorat Quality Assurance yang sudah sangat nyaman dan bergengsi itu.

Orang introvert juga bisa memimpin
Ketika berceramah di Balai Pertiwi, pengusaha kacang kulit ini mengatakan sesuatu yang membuat saya terpana: “saya ini pendiam dan termasuk introvert”. Kagum dan sekaligus kaget juga mendengar ini, karena saya selalu beranggapan bahwa orang introvert, seperti saya ini, kurang bisa memimpin. Orang pendiam, serius dan agak sensi itu mestinya bekerja di belakang layar saja: menjadi notulis, memeriksa keuangan, atau menerjemahkan, atau jadi penyunting naskah, atau pendoa. Tapi ternyata siapa bilang? Orang tidak perlu menjadi sangat outgoing atau sangat gaul dan banyak bicara untuk menjadi pengusaha sukses atau pemimpin yang melahirkan inovasi-inovasi mencengangkan.

Kompak
Ini selaras dengan sila ketiga Pancasila: “Indonesia kompak!”. Mudah sekali diucapkan, tetapi tidak semudah itu ketika dilakukan. Pengusaha terkenal ini menceritakan betapa saudara-saudaranya dengan lapang dada membiarkan dia naik menjadi pemimpin perusahaan, dan betapa ayah ibunya selalu menekankan kekompakan keluarga. Ya, betul sekali; sekaya apapun dan sepintar apapun, kalau hidup hanya diisi dengan intrik dan perpecahan, manalah mungkin meraih sukses besar?

Saya tidak ingin kedengaran rasialis atau menggebyah uyah, namun sejauh pengamatan saya, keluarga-keluarga etnis Tionghoa umumnya teguh sekali memegang prinsip kekompakan ini. Kalau ada salah satu yang bisnisnya buntung di tengah jalan, yang lain langsung membantu, entah dengan cara membayar biaya sekolah anak-anaknya, atau membuat toko kecil-kecilan, atau semacam itu. Tapi etnis yang lain ternyata juga begitu: orang Madura yang hidup di tanah lain, atau orang Batak di Jakarta, umumnya kompak dalam jalinan kekerabatan mereka.

Sedikit banyak, mengutamakan kekompakan juga berarti mengenyahkan ego. Saya beberapa kali mengalami hal ini. Di kalangan tim leader Ma Chung, saya kadang-kadang melontarkan beberapa gagasan yang di atas kertas sangat bagus, sangat efektif dan membuat sistem menjadi lebih efisien. Anehnya, kadang-kadang gagasan bagus itu ditanggapi dengan dingin oleh yang lain, atau kalau tidak, ditanggapi dengan hangat namun tidak kunjung dilaksanakan. Nah, seandainya saya hanya mengemukakan ego, maka ujung-ujungnya pasti jadi sakit hati atau menggerutu. Yang lebih parah adalah mutung, tidak mau lagi bekerja sama. Kekompakan pun bubar! Untungnya saya sudah hidup lama sekali di dunia ini dan bekal dari Pak Sudhamek membuat saya merubah sikap. Sekarang, kalau ada ide-ide saya yang lewat begitu saja, saya berpikir dengan santai: “Ah, mungkin mereka sedang sangat sibuk dengan berjuta-juta urusan lain yang lebih urgen,” atau “mungkin waktunya belum tepat. Orang bijak bilang, ‘there is time for every moment’ . Sangat betul! Mungkin di kondisi sekarang, ada ide yang kurang bagus namun lebih tepat. Lambat laun, momen itu akan datang dan semua akan menoleh ke buah pikiran saya dan mengatakan “Ok, let’s go ahead with your idea!”.

Catatan:

ELTISI adalah unit yang diharapkan menjadi swadana; artinya bisa membiayai hidupnya sendiri tanpa menggantungkan pemasukan dari Universitas. Makanya, unit ini setengahnya menjadi unit usaha (= profit center). Kelangsungan hidupnya ditopang oleh kecerdikannya memberikan layanan berkualitas dengan biaya sepadan yang tetap terjangkau tapi tetap bisa memberikan income yang teratur.

Tim leader = sebutan untuk jajaran pimpinan di UMC.

Posted in: Uncategorized