Mengapa Semakin Sulit Mencintaimu?

Posted on August 30, 2010

9


17 Agustus 2010. Upacara bendera. Saya tegak di lapangan. Pikiran entah kemana. Hati juga nggak jelas maunya apa. Hari ini 65 tahun genap Indonesia merdeka . . .

Sebenarnya makna kemerdekaan ini apa ya? Atau lebih tepatnya, bagaimana kita seharusnya memberi makna pada kata “merdeka” itu? Ya, bahwa merdeka adalah lepas dari penjajah itu jelas. Tapi lha kok makin banyak orang yang menulis di FB atau blognya bahwa kita ini sebenarnya belum merdeka? Konon, kata mereka, kita ini belum merdeka dari neo-liberalisme, dari penjajah-penjajah yang bukan lagi bersenjatakan tank dan pesawat tempur, tapi modal asing dan aji-aji baru bernama perdagangan bebas dan globalisasi, plus segala macam sub kulturnya mulai dari musik sampai bahasa gaul. Kalau rakyat kita sih masih suka baris-berbaris, teriak “Merdeka!”, bikin parade yang akhirnya malah memacetkan jalan, dramatisasi perjuangan, dan segala kegiatan lain yang mengharu-biru perjuangan para pahlawan kita 65 tahun yang lalu . . .

Teks Proklamasi dan UUD 1945 dibacakan. Semua mengikuti apa yang diucapkan keras-keras. Makna apa dibalik itu? Ya embuh. Lagipula apa susahnya sih menirukan? “Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa; Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Berandal, eh, Beradab; Tiga . . . !”

Lalu sambutan dari Gubernur Jawa Timur. Semua pasti mendengar, tapi apakah mereka mendengarkan? Ya nggak tahu juga. Rasanya sih sekilas isi pidato itu hebat. Pemimpin memang harus bisa membuat naskah pidato yang hebat. Tapi kenapa saya golput? Lha ya gimana tidak golput, wong saya sudah kehilangan kepercayaan sama pemerintah. Lha gimana nggak hilang kepercayaan, wong rasa-rasanya negeri ini sudah nggak ada pemerintahnya: korupsi makin gila; jaksa sampai polisi sampai menteri pada korupsi; begitu sudah ditangkap dan susah payah dipenjara, eh, konon hari ini mereka mendapat remisi, malah ada yang bebas murni. Lho iki piyee sehh?? Rakyat dipaksa masak dengan gas LPG, tapi sampai di dapur gasnya meledak dan sang rakyat tewas gosong. Dan pemerintah hanya bisa bilang: “Sabar! Semua pasti ada jalan keluarnya!”. Telat; wis mati, Cak!

“Ah, kok jauh-jauh mikiri konversi LPG dan korupsi tingkat tinggi segala macam, wong memperbaiki jalan Tidar aja gak becus kok!” gerutu hati saya.

Enampuluh lima tahun sudah kita merdeka dari penjajah. Tapi mengapa rasanya masih saja ada yang kurang di negeri ini? Di saat rakyat membutuhkan teladan dan kepemimpinan yang menentramkan, yang melindungi kaum kecil dan minoritas, yang bijaksana, yang tegas namun tidak agresif, kenapa yang muncul justru sebaliknya? Kenapa jadi semakin sulit rasanya mencintaimu, Indonesia?

Kemarin di Jakarta Post saya melihat untaian respons terhadap berita penyerangan sekelompok umat yang sedang beribadah. Banyak dari penanggap itu ternyata sudah lama bermukim di luar negeri. Tulisan mereka sulit sekali dibantah:

“Kami kaum minoritas di Indonesia. Untuk minoritas, banyak perlakuan yang akhirnya terpaksa kami telan walaupun hati menjerit. Akhirnya kami mantap dan merasa lebih aman di negeri orang. Papa saya bilang, dia tidak ingin anak-anaknya terpengaruh buruk oleh sikap dan kelakuan banyak orang di Indonesia ini: tidak satunya kata dengan perbuatan. Para pemimpin sangat pintar ngomong, kata-katanya menentramkan, katanya Indonesia mengayomi semua rakyatnya. Tapi kenyataannya rumah ibadah kami dilempari batu, dan rekan-rekan kami sedang sembahyang ketika tahu-tahu diserang kelompok lain. Dan pemerintah diam saja. Maka yakinlah kami ini bukan tanah yang mencintai kami.”

Tapi saya juga kemudian ingat ada beberapa kenalan yang pendiriannya tentang Indonesia kokoh luar biasa melebihi tank Belanda, bazooka Jepang atau bahkan bom atom Amerika sekali pun:

“Cinta Indonesia gak ada hubungannya dengan korupsi pejabat dan tingkah pola wakil-wakil kita di parlemen dan segala kebobrokan lain! Tanah airku itu Indonesia; jelek gak jelek, korup gak korup, becus gak becus, ini adalah tanah airku dan aku wajib membelanya sampai mati! Orang lain yang tidak kerasan silakan angkat kaki dari negeri ini. Seenak-enaknya hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri! Cinta Indonesia itu sudah harga mati, gak usah ditanya-tanya lagi!”

Betul-betul nasionalis sejati! Walaupun saya sama sekali tidak paham cara pikirnya, tapi ya saya diam saja. Setengahnya karena merasa sudah percuma mendebat, setengahnya juga ngeri kalau dia marah dan tiba-tiba mengeluarkan bambu runcingnya . . .

“Mengheningkan cipta mulai!”

Beberapa detik setelah menundukkan kepala mengikuti instruksi itu, saya masih belum tahu mau berdoa apa. Tapi tiba-tiba terbayang almarhum kakek saya yang meninggal di tengah pengungsian lari dari kejaran tentara Belanda, lalu paman saya yang gugur di tangan serdadu Belanda. Masih terbayang sekilas wajah para anggota DPR ngotot minta dana aspirasi, dan koruptor-koruptor pajak yang makmur jaya, kemudian sepak bola yang dimeriahkan dengan adu jotos antar pemain, wasit, bahkan penonton dan ofisial. . . saya berdoa untuk para pahlawan yang membayar kemerdekaan dengan darah dan nyawanya. Apapun jadinya negeri ini sekarang, tanpa mereka saya juga tidak akan bisa berdiri disini sebagai dosen, punya rumah, punya keluarga yang bahagia, bisa kesana kemari tanpa takut ditembak penjajah . . .

“Bubar jalan!”

Upacara bubar. Saya balik kanan dan masih dalam diam melangkah gontai pulang ke kandang . . .

Posted in: Uncategorized