Dua Anak Muda di Bis Ma Chung

Posted on August 27, 2010

2


Hari ini Jumat. Masih jam 1 tapi nafsu sudah tak tertahankan lagi. Nafsu menulis posting, maksudnya. Yah, nggak apa-apalah sekali-sekali, blogging di tengah jam kerja. Toh besok sudah libur. . .

Saya baru saja membaca bagaimana seorang wartawan seinor Jakarta Post mengomentari betapa anehnya masyarakat sekarang. Dia tulis : “”Coba Anda masuk ke restoran atau ke waiting lounge sebuah bandara. Adakah orang yang tenang duduk membaca atau melihat-lihat pemandangan di luar? Sangat jarang. Semua sibuk atau pura-pura sibuk memelototi Blackberry atau ponselnya, atau bicara ngalor ngidul lewat ponselnya dengan seseorang entah siapa di ujung sana. Dulu kalau saya masuk ke ruang seperti ini, saya bisa ngobrol dengan seseorang asing. Tapi sekarang sudah tidak lagi.”

Aneh tapi nyata. Ada psikolog sosial mengatakan: “itu pertanda semua orang tidak ingin kesepian; semua orang ingin terhubung satu sama lainnya.” Menurut saya sih, ini pendapat yang aneh. Kesepian? Lha kenapa mesti menghabiskan pulsa? Ajak aja seorang yang duduk dekat untuk ngobrol . . , tapi, ah, itu mah jaman dulu . . .”

Saya jadi ingat perjalanan ke Surabaya kemarin malam naik bus Ma Chung. Di belakang saya duduk dua orang mahasiswa, laki dan perempuan. Sepanjang jalan mereka ngobrol ngalor ngidul soal segala hal. Karena suara mereka keras dan mereka berbicara lantang tanpa sungkan kedengaran seisi bus, saya bisa jadi mengikuti pembicaraan mereka. Asyik juga mengikuti pembicaraan anak muda jaman sekarang. Mulai dari novel sampai adat berpuasa dan pantang sampai kisah cinta mereka bahas habis. Bahkan dalam perjalanan pulang ke Malang pun, sang cowok masih berbicara cerita kesana kemari dengan seorang temannya, sementara yang lain sudah pada low-batt karena kenyang dan ngantuk. Dari apa yang mereka bicarakan saya jadi tahu beberapa hal (ih, malu ya wong dosen kok belajar dari mahasiswanya, pake nguping mode ON lagi. Tapi jaman sekarang mah gak aneh, setidaknya buat saya): kalau melayat ke etnis Tionghoa, pantang pakai baju warna merah, karena merah itu artinya bahagia. Harus pakai baju putih atau gelap/hitam; ada beda besar antara main valas, obligasi, saham, dan MLM; kalau mau main valas harus ada dana yang dia sebut “uang adem”, artinya uang di luar belanja keluarga, tabungan, dan pendidikan anak, yang sudah bisa disisihkan; dan masih banyak lagi.

Tapi ada juga yang menggelikan. Saya dan rekan dosen saya di sebelah sampai tidak bisa menahan ketawa mendengar celotehannya yang sangat pe-de padahal salah: “Oh, Universitas Muhammadiyah itu kan ada dua; satunya yang di Karangploso itu, lho!”, dan “Pak WS (dosen sangat kondang di Prodi TIF yang hampir Doktor di Jepang) itu kan masih muda to ya? Kan masih dua puluh tahunan, gak beda jauh sama istrinya”.

Ha ha ha! “Keras tapi salah,” kata rekan saya, salah satu pimpinan puncak di lembaga ini. Kampus UMM itu di Tlogomas, dan Pak WS yang terkenal itu sudah sekitar 31 tahunan, bukan 20 tahun! Wah, awet muda pasti rekan satu itu!

Entah kenapa, mendengar dua anak muda berceloteh macam-macam itu membuat saya senang. Ya, ternyata karena saya masih suka melihat bagaimana manusia berkomunikasi dengan mulut dan lidahnya, bukan dengan jari-jarinya memencet-mencet tombol BB dan laptop atau ponselnya untuk berbicara dengan ‘robot berjiwa’ lainnya dan mengacuhkan makhluk hidup sesamanya di sebelahnya . . .

Seolah mendengar kata hati saya, tiba-tiba nongol di jendela kantor dua mahasiswa saya, cengar-cengir, menyapa. Tanpa ragu saya menghentikan mengetik dan berbicara sambil guyon dengan mereka di luar kantor . . .

Posted in: Uncategorized