Ayo Menjadi Tuhan lewat Buku The Secrets (part 2)

Posted on August 21, 2010

5


Seolah tahu apa yang menjadi pergulatan saya dengan topik di posting sebelumnya tentang The Secrets, mahasiswi saya Fitri Rachma langsung merespons posting saya itu dalam waktu kurang dari semenit setelah tampil: “Saya sukses dalam lomba pidato karena buku itu juga”. Wow! Mantera buku itu ternyata manjur, setidaknya buat Fitri!

Terus mentee saya, Merrieling, yang terpaksa baca blog ini karena saya paksa, menulis komentar yang singkat tapi bagus: “Saya kira resep-resep The Secrets itu adalah untuk membangkitkan motivasi. Tapi memang celaka kalau ada yang menafsirkannya terlalu jauh”. Hmmm . . . benar juga.

Nah, kalau semua manusia memahami prinsip “the Secrets” dan berhasil mewujudkan apapun yang mereka inginkan, bukankah dunia menjadi lebih baik? Semua orang happy, semua orang sejahtera, semua orang mendapatkan cintanya; selamat tinggal duka, selamat tinggal patah hati, selamat tinggal sengsara . . . Bisakah menjadi begitu?

Tapi bukankah Buddha percaya bahwa kelahiran dan hidup sebenarnya adalah samsara (=sengsara), dan bahwa kita hidup di alam serba fana ini karena hidup tak lain tak bukan adalah roda karma? Bukankah melalui mekanisme itu kita diminta untuk menjalani karma baik yang pernah kita tabur di masa lalu, dan menerima pelajaran setimpal atas karma buruk yang pernah kita lakukan di alam kelahiran kita entah berapa ratus tahun yang lalu, atau bahkan semenit yang lalu? Atau, mungkin buku “The Secrets” itu telah menemukan jalan pintasnya sehingga kita tidak usah mengalami karma dan langsung bisa mencicipi surga?

Pertanyaan bodoh dari seorang lugu seperti saya adalah: kalau memang benar buku “The Secrets” itu berisi rahasia-rahasia menjadi sejahtera yang sekarang telah dibaca jutaan orang, apa masih bisa disebut secrets (=rahasia) lagi? Lha wong rahasia kok diketahui buanyak orang, ha ha haa! Tolol juga. Siapa yang tolol? Ya, nggak tahu juga . . .

Di salah satu episode film “Millenium” yang sangat saya gemari, ada ungkapan bagus dari seorang aktornya: “orang-orang di jaman ini ibaratnya sedang enak-enak duduk di tepi sungai, ketika tiba-tiba ada banjir bandang melanda. Air menyapu mereka dengan deras. Di tengah-tengah perjuangan timbul tenggelam diamuk air bah itu, orang-orang ini menyambar apa saja di tepian sungai yang bisa mereka pegang supaya tidak terbawa arus: rumput, batu krakal, tumpukan tahi sapi, palang jembatan, pokoknya apapun yang mereka pikir bisa menyelamatkan jiwa mereka.

Demikianlah, sama seperti kita di jaman millenium kedua ini: begitu banyak perubahan sosial, penjungkirbalikan norma dan kemajuan jaman yang lebih cepat daripada apa yang bisa kita cerna lewat pikiran dan iman kita. Akibatnya, banyak dari kita yang kemudian merasa terseret-seret, digulung oleh badai kebingungan dan kegelisahan, lalu mereka pun menyambar apa saja yang bisa membebaskan mereka dari kebingungan maha dahsyat itu: kitab suci, primbon, aliran baru, tata ibadah radikal, pendeta atau rohaniwan palsu, bunuh diri massal, sms ke Mama Loren atau Deddy Corbuzier, ahli nujum, dukun cinta, ramalan Facebook, wis pokoknya sembarang, termasuk juga buku-buku berisi gagasan-gagasan spiritual baru seperti The Secrets. . .”

Now I dont even have any idea how to end this posting . . .

Posted in: Uncategorized