Ayo Menjadi Tuhan lewat Buku ‘The Secrets’

Posted on August 20, 2010

11


Buku “The Secrets” oleh Rhonda Byrne sangat populer di kalangan anak muda. Intinya menggetarkan: Anda semua punya kekuatan dalam diri dan pikiran yang memampukan Anda untuk meraih apa pun yang Anda inginkan. Itulah rahasia yang selama ini tersembunyi dan tidak disadari. Sekali Anda menemukan rahasia itu dan menggunakannya, abrakadabra, luar biasa! Anda menjadi manusia bahagia, manusia super, yang mampu meraih apapun yang Anda inginkan. Salah satu ajaran yang diberikan buku ini adalah: apapun yang Anda letakkan di depan kata ganti “saya” adalah komando untuk seluruh alam semesta ini. Katakan “saya sukses,” maka alam semesta pun menuruti perintah itu dan membuat Anda sukses. Katakan “saya bahagia”, maka alam semestapun menurutinya dan membuat Anda bahagia. Katakan “saya populer,” “saya menguasai pangsa pasar”, “saya menemukan cinta sejati”, “saya menang”, “saya kaya raya”, “saya berkuasa”, maka alam semesta pun seolah berkomplot secara kompak untuk menjadikan semua itu bagi Anda. Katakan “saya INGIN kaya”, “saya INGIN pintar,” atau “saya INGIN mendapat pacar”, maka alam semesta pun menurut: Anda akan ingin, ingin, ingin, dan ingin terus sampai akhirnya Anda jadi tua dan mati!

Such is the power of the Secrets within us! . . .

Belasan tahun yang lalu di awal usia saya ketigapuluh satu, saya sudah mempraktekkan resep ini dari buku lain dengan tema sama dengan The Secrets. Pada awalnya saya skeptis, tapi lama-lama saya mulai percaya betapa luar biasanya pembentukan realita melalui pikiran-pikiran sugestif semacam itu. Dengan takjub, saya melihat dan mengalami sendiri betapa hampir semua yang saya harapkan pelan-pelan mewujud dan akhirnya menjadi sangat nyata dalam hidup saya!

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia dan pengalaman hidup saya, saya merasa ada sesatu yang kurang beres dengan daya pikir semacam itu. Mengapa lambat laun saya merasa bahwa saya sedang menggeser peran Sang Maha Kuasa dari alam pikiran dan perasaan saya? Nggak nyaman rasanya. Ya memang betul, melalui sugesti mental tak henti-hentinya dengan pernyataan dan pola pikir seperti itu, relatif hampir semua yang saya impikan menjadi kenyataan. Lho, tapi, dengan usia semuda ini dan ego serta emosi yang kadang-kadang seperti kuda liar lepas kendali, siapa bisa menjamin bahwa saya tidak tersesat jauh di lembah hitam nan gelap dengan semua perwujudan keinginan itu? Dengan bahasa yang lebih sederhana: jika seorang pendosa seperti saya diberi kemampuan menciptakan realita apapun yang diingininya, apa jadinya hidup ini??

Begitulah, karena merasa terganggu dengan bisikan nurani seperti itu, saya menghentikan cara berpikir tersebut. Saya merasa lebih nyaman menjadi manusia biasa: manusia yang diberi akal budi, talenta, tapi juga sarana intrsospeksi untuk senantiasa menyadari kelemahannya dan tak henti mencari jalan menuju Tuhan sang Raja Damai.

Tentu, saya masih punya seribu keinginan, seribu harapan dan ambisi. Tapi saya tidak pernah mau lagi bermain-main dengan pola pikir menciptakan semua itu menjadi realita seperti yang diresepkan oleh buku “The Secrets” dan buku yang saya baca tahun 1998 itu. Saya lebih suka berserah diri kepada Tuhan saja. Caranya sederhana: setiap pagi dan malam saya melantunkan doa yang sama kepada Nya: Tuhan yang baik, saya ingin menjadi seperti ini, saya punya rencana seperti itu, saya berambisi menjadi ini, saya ingin yang itu. Jika di mata Tuhan dan sesama itu baik adanya, mohon bantu saya untuk meraihnya. Amin”. Udah, itu saja. Jadi perkara nanti saya berhasil mencapainya, atau gagal total, ya sudah. Buat saya yang polos dan lugu ini, kegagalan itu artinya sederhana: Tuhan tidak atau belum berkehendak, atau punya rencana yang jauh lebih mulia untuk jiwa saya. Titik.

Kitab Suci agama saya mengatakannya dengan sangat elok: “ Rencana Tuhan bukanlah jalanmu. Keinginan daging tidak senantiasa sama dengan keinginan roh. Apapun yang Tuhan rencanakan untuk umatnya senantiasa akan baik”.

Tahun 2007 saya menghadiri sesi presentasi seorang rekan dosen tentang betapa hebatnya buku “The Secrets” ini. Karena dia seorang motivator, saya maklum akan pilihannya tentang topik itu. Tapi tetap saja saya menggugat dalam hati, apalagi ketika melihat video clip promosinya. Mungkin saya yang sensi atau bagaimana, tapi hampir semua pembicara yang tampil di video itu berwajah dingin, jauh dari kehangatan atau kepasrahan yang ditampilkan seorang rohaniwan yang welas asih dan rendah hati seperti Mother Theresa. Sekalipun kata-katanya sangat membujuk, namun nadanya membuat nyali miris; istilah bahasa Inggrisnya “peremptory”: jangan dibantah atau diragukan, karena inilah yang benar!

Hiiiiih . . .! Merinding bulu kuduk saya. . . .! Apalagi melihat wajah-wajah mahasiswa dan rekan-rekan yang lebih muda di acara itu menjadi berbinar-binar seperti anak lapar melihat sebungkus nasi dengan empal dan kuah gurih!

Untung seorang rekan menepuk saya dari belakang, dan dia berbisik: “Pak, I know what’s running thru your mind. Saya juga berpikiran sama seperti Bapak kok: lantas dimana peran Tuhan kalau sudah seperti itu?”

Beberapa waktu yang lalu ada seorang muda usia menulis email kepada saya menceritakan betapa ajaibnya hidup dia setelah mempraktekkan “The Secrets”: “Pak, hebat! Buku ini dahsyat! Saya bisa menjadi lebih sukses dan lebih happy dengan mempraktekkan kiat-kiatnya!”.

Emailnya tidak saya balas sampai detik ini. Saya hanya berharap semoga dia, dengan segala kemudaan usianya dan kementahan emosi serta egonya, tidak menjadi keblinger, tidak tersesat, tidak membabi- buta dengan kekuatan itu. Semoga dia masih ingat bahwa masih ada Tuhan di atas kekuatan mental manusia yang paling dahsyat sekalipun.

Buku “The Secrets”, sementara itu , makin laris dan disusul oleh sekuelnya dengan judul “The Power”, masih oleh Rhonda Byrne. Buku ini pasti akan jadi best seller juga di kalangan anak muda, atau bahkan orang-orang paruh baya. Pesannya jelas: Andalah penentu semua jalan hidup Anda. Anda punya rahasia dan kekuatan luar biasa! Mereka pasti menyambutnya dengan gembira karena buku ini secara implisit menafikan semua yang membuat mereka mengharu biru selama ini : karma, takdir, suratan nasib, kehendak Tuhan, kepasrahan diri pada Sang Maha Kuasa. Jadi benarlah apa yang dikatakan seorang bijak berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika saya masih remaja: “akan datang jaman gelap dimana banyak nabi-nabi palsu bermunculan. Yang benar dan yang salah sudah tidak jelas lagi bedanya. Itu adalah jaman edan, dan siapapun yang tidak ikut edan tidak akan kebagian”.

Selamat datang di jaman millenium kedua. Gelap atau terang? Baik atau benar? Kutukan atau rahmat? Dosa atau suci? Nabi atau iblis? Menuju ke surga atau melesat ke neraka? Saya juga tidak tahu. . . . .

May God bless us all . . .

Post-note:
Saya sengaja tidak mencantumkan judul buku dahsyat yang saya baca di tahun 1998 itu. Saya tidak mau para mahasiswa atau bahkan anak-anak saya kemudian mulai mencarinya dan menjadikannya kitab suci edisi millenium.

Posted in: Uncategorized