Doktor Pain in the Ass, Ph.D

Posted on August 18, 2010

4


Apakah anda seorang Doktor? Atau mau menjadi Doktor?

Bukan?? Lha kalau enggak ya ngapain membaca posting ini; sana pergi sana baca yang lain!

Nah, kalau jawabnya iya, satu pesan saya: jadilah Doktor yang tahu diri. Tahu diri itu artinya bisa membawa diri di setiap situasi dan punya empati. Empati. Ini yang penting, terutama kalau Anda sedang menghadiri forum ilmiah dan mendengarkan presentasi seseorang yang gelar atau kepakarannya masih di bawah Anda.

Kalau Anda sekedar Doktor tapi tidak punya empati, maka besar kemungkinan Anda akan bernafsu besar untuk menghancurkan si presenter itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya berangkat bukan dari ketidaktahuan Anda, tapi karena Anda ingin menguji sampai dimana kepakaran si presenter itu. Ujung-ujungnya, kalau si presenter akhirnya KO (kalah omong) alias gak bisa menjawab, Anda akan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyan tersebut, lalu merasa puas sekali sekaligus merasa bangga karena telah menunjukkan kepada hadirin betapa pintarnya Anda! Ini sikap yang sangat memuakkan, setidaknya di mata saya. ME-MU-AK-KAN! Tidak percaya? Oke, besok coba Anda presentasi di sebuah seminar tentang bidang pendidikan kebahasaan di depan saya, terus nanti saya hujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang menguji tersebut sampai Anda mati kutu tidak bisa menjawab! Anda pasti akan muak dengan saya. Betul, kan??

Sudah beberapa kali saya menyaksikan sendiri Doktor-Doktor yang sok keminter ini di bebagai forum, bukan hanya di luar kota atau di luar negeri, bahkan juga di Forkomil Ma Chung yang terhormat itu. Seorang lulusan Master sedang presentasi; begitu selesai, seorang Doktor amat senior langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri juga sudah tahu jawabannya. Sang Master gelagapan menjawab sampai tersedak-sedak, dan sang Doktor sialan itu tersenyum puas setelah menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaannya tadi.

Begitulah, gelar tinggi tidak menjamin seseorang menjadi ramah, gorgeous, dan penuh empati. Pada banyak kali, dia justru menjadi Pain in The Ass, Ph.D. Lho kok bisa ya?

Jawabnya gampang: besok kalau Anda sudah jadi Doktor, coba teliti transkrip Anda. Ada nggak mata kuliah Empati, atau Kepribadian Yang Baik sebagai Doktor, atau sejenis itu. Nggak ada kan? Lha, makanya, saya berani ramalkan, kalau Anda kelak jadi Doktor dan nggak ati-ati bersikap, besar kemungkinan Anda akan menjadi Doktor dengan gelar Pain in The Ass, Ph.D!

“Hmm, sekarang gimana ya Pak kalau saya sedang presentasi terus ada Doktor yang bersikap seperti itu?” mungkin Anda bertanya.

Gampang. Coba undang Doktor Atis ke seminar Anda. Sajikan materi Anda seperti biasa. Nah, si Doktor Atis yang memang pongah itu akan akan muncul dengan pertanyaan-pertanyaan menguji itu. Begitu dia selesai bertanya, tanya balik seperti ini: “Pak Atis tahu jawaban-jawaban dari pertanyaan itu?’.

Karena tidak mau dianggap dogol, dia pasti akan menjawab: “Iya, saya tahu”. Nah! Anda bisa langsung menskak mat dia dengan berkata seperti ini: “Ooo, kalau begitu pertanyaan-pertanyaan tadi nggak perlu saya jawab, dong, Pak Atis. Kan Bapak sudah tahu jawabannya?”

“Hmm, boleh, boleh,” gumam Anda. “Masoookk! Eh, tapi kalau Pak Atis menjawab begini: ‘lho, saya tahu, tapi saya sedang menguji kemampuan Anda akan topik ini’, gitu. Gimana dong, Pak Patris?”

Gampang saja. Ujarkan yang berikut ini: “Oh, maaf, Pak Doktor Atis, ini bukan forum ujian. Ini forum seminar. Jadi saya hanya akan menjawab dengan senang hati hal-hal yang bukan menguji, namun hal-hal yang memang belum kita ketahui bersama, dan mari kita rundingkan jawabannya bersama-sama.”

Nah, skak mat lagi kan? Masook!

Kenapa saya jadi kelihatan bernafsu sekali menulis topik ini, bahkan kelihatan sedikit emosional? Karena saya pernah mengalami sendiri menjadi Doktor Pain in the Ass itu! Sekitar 11 tahun yang lalu, ketika saya baru dinobatkan menjadi Doktor pada usia 31 tahun, saya menghadiri seminar seorang rekan yang masih calon Doktor. Disitu saya hujani dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang menguji mental tadi. Dia gelagapan, karena saya tahu betul jawabannya memang sulit, dan saya yakin saya tahu jawabannya karena saya baca habis-habisan sebagai bahan Bab 2 di disertasi saya!

Setelah presentasinya berakhir, dia mendekati saya di belakang ruangan, dan langsung menyemprot: “You are such an asshole, Patrisius!”

Loh, kok? Saya belum sempat bertanya dan dia langsung meneruskan: “Aku tahu bahwa kamu tahu jawaban semua pertanyaanmu tadi. Kamu bertanya hanya untuk mengujiku dan membuatku kelihatan bodoh di depan sana kan??!”

You are such an asshole! Itulah kata-kata yang akhirnya membuat saya sadar dan terinspirasi untuk menulis posting dengan judul di atas tersebut.

Catatan:

* Pain in the Ass = ungkapan Inggris yang bermakna ‘orang yang sangat sangat menyebalkan’. Sinonimnya yang sedikit lebih halus adalah ‘pain in the neck’.

* *Masook! = masuuk! = ungkapan yang bermakna ‘tepat sekali!’

** *Dr. Atis bukan tokoh fiksi. Dia ada di Ma Chung ini; nama Facebooknya adalah Enjoy Myself.

*** Jangan heran kalau melihat saya duduk manis, tekun menyimak di hampir semua presentasi ilmiah. Saya memang Doktor, tapi saya jelas bukan Doktor Pain in The Ass, Ph.D.

Posted in: Uncategorized