On A Train

Posted on August 13, 2010

0


oleh Fitri Rachma
(mahasiswi Prodi Sastra Inggris Univ. Ma Chung angkatan 2008)

Tentang aku dan Devi.

Sebenarnya kami hanya ingin berlibur, mencari suasana baru, melepas penat. Sebenarnya kami tidak ingin menghamburkan uang. Memang kami belum bekerja, tetapi kami juga bisa berhemat. Berlibur menurut kami tidak harus menghamburkan uang. Kami hanya butuh suasana baru, lepas penat dari segala hal yang setiap saat kami temui, baik itu hal positif maupun negatif. Mungkin ada orang beranggapan bahwa kami sebagai seorang anak hanya bisa menyusahkan orang tua. Taukah kalian wahai ‘orang-orang selalu benar’, bahwa sebenarnya bahwa anggapan tersebut bisa saja menghancurkan kami, hati kami, masa depan kami? Kami seorang anak juga bisa merasakan penderitaan orang tua. Hati kami sakit melihat orang tua kami sedang berada di dalam masalah. Tapi apa yang bisa kami lakukan? Sekali lagi, terkadang kata – kata anda semua dapat menekan kami dan bukan itu yang kami mau. Kami tau benar apa yang seharusnya dan tidak kami lakukan.

Tentang keputusan kami.

Kami tidak suka disebut – sebut sebagai seorang anak yang bisanya hanya menyusahkan orang tua. Maka dari itu kami memutuskan untuk berhemat. Bukan kami ingin menambah kekhawatiran orang tua, kami hanya ingin merasakan suatu sensasi liburan yang berbeda. Mungkin kami terrlihat sebagai sosok yang manja ketika memasuki gerbong kereta api dan berdiri diantara orang-orang pencari nafkah. Tapi justru inilah yang ingin kami rasakan. Sensasi menjadi orang biasa, seperti teman-teman kami yang lain. Bukan gadis manja dengan mobil khusus (travel) yang dapat mengantarkan kami sampai ke depan pintu rumah dengan selamat. Bukankah itu yang ‘orang-orang selalu benar’ mau?

Tentang perjalanan menuju Stasiun.

Saat mandi, kami berfikir cara cepat dan hemat menuju stasiun. Pukul berapa kami harus berangkat dan menggunakan kendaraan apa supaya hemat. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan becak, dengan alasan bahwa kendaraan ini sangat efisien dan langsung tepat sasaran (maksudnya kami bisa langsung tiba di tempat yang kami mau) yaitu pangkalan angkot (angkutan kota A.K.A Blue Car). Kemudian kami memutuskan naik angkot menuju stasiun. Angkot yang berjalan merambat dan terkadang berhenti membuat hati kami berdebar, masih kah kereta ada untuk kami? Belum lagi jalur angkot yang sesaat membuat kami panik, benarkah ini jalannya? Atau kami naik angkot yang salah? Tapi kami mencoba tetap tenang. Dan ternyata, alhamdulillah, kami naik angkot yang benar. Kami berhasil sampai di stasiun, bergegas menuju loket (yang untungnya sudah tidak antri lagi) dan membeli tiket. Kami bertemu dengan seorang gadis (dulu adik kelas SMP-ku) dan berfikir untuk mengikuti dia dari belakang (karena mungkin dia lebih berpengalaman), hanya saja akhirnya kami kehilangan jejaknya.

Tentang Kereta Api.

11.30 WIB akhirnya kereta datang juga. Gerbong kereta yang nampak gagah membuat aku teringat pada jet coaster. Aku dan Devi berlari dan mencari, pintu mana yang harus kami masuki. Penuh sesak antara penumpang yang hendak turun dan naik. Dan akhirnya kami memutuskan untuk masuk, di gerbong paling belakang. Lama kami masih berdiri, berdesakan, tetap berusaha berjalan, menemukan tempat duduk, tapi tak berhasil.

Kereta diberangkatkan dari stasiun kota baru, Malang dengan kami yang masih berdiri di depan pintu, diantara sambungan gerbong kereta api. Inilah takdir kami hari ini. Tiket Rp. 4.500,- untuk kami berdiri dari Malang sampai Blitar. Satu persatu pedagang asongan dengan seragamnya yang berwarna – warni mulai berjalan. Mendesak dan menghimpit kami demi menuju ke satu gerbong dan gerbong berikutnya, menjajakan makanannya. Awalnya aku merasa amat sangat kesal. Tapi apa daya, aku menyadari bahwa itu semua adalah usaha mereka demi mendapatkan sesuap nasi. Di dalam gerbong, ada berbagai macam manusia dengan segala kepedulian dan ketidak pedulian mereka. Ketika aku melihat seorang ibu setengah baya dengan rambut dicat merah berusaha menaiki gerbong kereta dan memilih tempat yang nyaman untuknya sekalipun harus berdiri, membuatku teringat pada bude di rumah. Ada lagi seorang bapak yang berusaha menjaga anak laki-lakinya, sementara anak laki-lakinya sibuk berlari kesana kemari di tengah himpitan orang. Di tengah sambungan kereta ada seorang pemuda dengan headset terpasang di telinganya dan sebatang rokok di tangannya, asap rokoknya benar-benar memenuhi gerbong yang telah sesak dipenuhi orang-orang sehingga membuat keadaan semakin sesak lagi. Belum lagi seorang gadis pelajar dengan kaki kiri yang luka dan masih dibalut perban sesekali meringis menahan sakit di kakinya. Atau seorang gadis yang berdiri tepat di tengah-tengah aku dan Devi yang menurutku sangat tidak berperasaan, karena semakin lama dia semakin menghimpitku. Dan yang paling membuatku kesal adalah seorang ibu yang sangat tidak peduli dengan sekitarnya. Dia enak-enakan duduk di depan pintu sambungan antar gerbong sambil memainkan HP, memenuhi jalan dan seakan tidak mau tahu dengan beberapa pedagang yang kesulitan lewat di sampingnya.

Dari sini aku menyimpulkan bahwa, perbedaan manusia bisa dilihat dari pendidikannya pula. Orang yang berpendidikan memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain daripada orang yang tidak berpendidikan. Itulah mengapa peran pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan kita. Hal yang paling menarik yang saya dapatkan adalah betapa larisnya penjualan donat di sebuah kereta perjalanan Malang-Blitar. Seorang bapak yang membawa 7 kotak besar donat dari stasiun Pakisaji, berhasil menghabiskan seluruh dagangannya ketika sampai di stasiun kota Blitar, sungguh luar biasa. Perjalanan yang dipenuhi oleh pedagang asongan, beberapa tipe manusia, beberapa stasiun yang terlewati, jam di tangan yang terus berdetak, berhasil kami taklukkan dengan baik. Akhirnya kami tiba di stasiun kota Blitar dengan selamat. 2 jam berdiri di sebuah gerbong kereta api memberikan kesan tersendiri pada kami.

Tentang biaya yang dikeluarkan.

• Becak (dari kost. Ke pangkalan angkot, 2org) : Rp. 5.000,-
• Angkot (dari Toga Mas ke Stasiun 2org) : Rp. 5.000,-
• Tiket Kereta Api (Malang-Blitar, Ekonomi, 2org) : Rp. 9.000,-
• Becak (dari stasiun Blitar ke rumah, 2org) : Rp. 8.000,-
Total : Rp. 27.000,-

Biasanya kami naik travel dan akan mengeluarkan uang Rp. 90.000,- untuk 2org. Tetapi kali ini kami bisa berhemat hanya dengan uang Rp. 27.000,- untuk 2org, kami sudah berhasil sampai ke rumah dengan selamat. Terbukti bukan kami juga bisa berhemat. Karena kami sayang MOM. Sekian. =)

**********************
Komentar: saya suka sekali tulisan Fitri di atas. Isinya sederhana, tidak terkesan menggurui atau sok tahu; tidak segan mengeluh, alurnya jelas, namun tetap menyiratkan pesan tertentu. Bahasanya efektif, tipe staccato (pendek-pendek namun jelas, seperti rentetan senapan mesin –rat-tat-tat . . . rat-tat-tat!). Dan satu hal lagi: tidak ada satu kalimatpun yang ditulis dengan bahasa ALAY. Lengkaplah sudah, tak heran saya sampai minta ijin Fitri untuk mempostingkan notenya di Facebook ke blog ini.

Posted in: Uncategorized