Take Me Out! : Kenapa Saya Ill-feel Sama Acara Ini

Posted on August 12, 2010

3


Salah satu acara TV paling favorit pastilah “Take Me Out”. Lepas dari hostnya yang memang keren dan gorgeous, Choky Sitohang (atau Sihotang? ah, whatever . . .), saya nggak pernah tega melihat acara ini. Satu kata: sadis.

Kalau nonton di rumah, saya nggak sendirian. Yang lain juga pada melihat, jadi rame-rame. Bahkan kucing dan hamster pun kadang berhenti makan untuk melihat acara ini. Idenya memang brilliantly creative: memasangkan pria dan wanita melalui peragaan pribadi dan bakat, serta tentunya modal duniawi (mobil, karir, rumah, profesi, sampai keelokan tubuh) untuk pantas dibawa keluar sebagai pacar.

Yang saya anggap “sadis” adalah ketika upaya menemukan jodoh itu ternyata gagal: si tamu tidak diminati lawan-lawan jenisnya, atau lawan jenis yang meminatinya ternyata tidak berkenan di hatinya, dan terpaksa tersenyum kecut ketika si tamu mematikan lampunya. Jaman dulu kala (maksudnya ketika saya masih anak dan remaja ingusan) mana ada yang beginian bisa ditampilkan ke seantero negeri lewat siaran TV? Kalau ada orang naksir dan kemudian ditolak, yang tahu ya hanya dia dan si pujaan hati sialan itu, plus mungkin teman-teman dekat dan keluarganya. Tapi sekarang di “Take Me Out”, semua kegagalan dan pembantingan harga diri itu menjadi santapan nikmat para pemirsa di seluruh pelosok negeri!

“Ha ha ha, kapok kon ditolak!” sorak orang-orang di sekitar saya yang ikut menonton. “Lha wong tampangnya ancur kayak gitu kok masuk Take Me Out? Ya gak ada yang mau!”

Kali lain ada seorang janda muda yang mencoba mencari peruntungan lewat acara ini. Setelah beberapa lama memperkenalkan diri dan sedikit kebiasaan pribadinya, ternyata tak ada satu pun pria lajang yang berminat memacarinya. Semua pada mematikan lampu. Si janda tersenyum getir. Lalu Choky mendatangkan anaknya yang baru duduk di kelas 1 SD. Si ibu dan anak itu berangkulan di depan kamera, sambil mengucapkan kata-kata penghiburan: “Ndak papa ya, nak, mungkin belum waktunya kamu memiliki pengganti ayahmu” dsb, dsb. Saya tercekat betul melihat adegan itu, sementara orang-orang lain di sekitar saya tertawa-tawa.

“Yaah, udah janda, punya buntut lagi. Mana ada yang mau?” komentar seseorang.

Kali lain ada seorang pria yang menurut saya sangat potensial dijadikan pacar, bahkan suami. Kelihatan baik, pekerja keras, dan punya prinsip teguh. Namun apa lacur, ternyata deretan perempuan lajang itu tidak meminatinya sama sekali. Lampu mati semua!

Sang pria termangu di tengah panggung. Didatangkan ibunya yang sudah agak tua. Rupanya si ibu juga tidak menyangka bahwa putra kesayangannya tidak diminati kaum hawa. Saya sudah lupa apa yang mereka katakan, dan bagaimana Choky serta Yuanita menghiburnya. Tapi wajah mereka yang getir sulit sekali lepas dari ingatan saya . . .

Pada episode lain ada pria satu lagi. Begitu mengatakan bahwa profesinya seorang guru kursus musik, semua wanita di depannya serentak mematikan lampu. Pet! Pet! Pet! Mati satu-satu.

“Ha ha haaaa!” tawa salah seorang di samping saya. “Hari gini mana ada yang mau sama guru? Ya ogah laaaah!”

Aduh, cukuplah sudah! Tak tahan lagi saya. Saya beranjak ke lantai atas sementara keriuhan “Take Me Out” itu makin menghangat. Saya duduk sendirian di tengah ruangan atas. Saya sms dua mahasiswa saya yang saya kenal dekat. “***, aku gak tahan liat acara Take Me Out itu. Sadis bener! Orang ditolak malah disoraki . . . “.

“Yah, begitulah, Pak” salah seorang membalas. “Sangat blak-blakan. Tapi asik aja sih.”

“Take it easy, Sir,” balas satunya. “It’s just an entertaining game.”

Entertaining? Aduh, rasanya jauh deh dari penghiburan. Saya bisa membayangkan kalau salah satu mentee atau mahasiswa/i saya suatu ketika muncul di acara “Take Me Out”, kemudian ternyata mendapat penolakan massal seperti itu. Bisa sakit hati benar saya, sekalipun saya bukan saudara atau orang tuanya. . . .!

Ah, sudahlah, barangkali acara “Take Me Out” bukan untuk orang sensi seperti saya. Saya masuk kamar, menghidupkan TV dan mencari channel dan acara lain. A-haaa, ini dia yang saya suka, sangat tidak sadis dan sangat manusiawi, daging versus daging, nafsu versus nafsu: acara tinju di Las Vegas!

Posted in: Uncategorized