Saya Mau Resign Karena Pingin Jadi Pengusaha. Anda Juga?

Posted on August 11, 2010

7


Manusia itu lucu. Lucunya karena mereka . . . . ya lucu aja. Coba lihat kembali melampaui waktu: di jaman saya kecil dulu, orang bangganya setengah mati kalau sudah mendapat pekerjaan. Mereka dengan bangga, kadang-kadang tanpa bisa menyembunyikan nada sombongnya, berkata: “Oh, aku sudah kerja di perusahaan Gombal Gambul,” atau “oh, anak saya sudah diterima di PT Unilever,” , atau “kakakku kerja di lembaga Anu”, atau “saya sudah jadi pegawai negeri sekarang” dan lain sebagainya. Bekerja di suatu lembaga atau perusahaan, bahkan juga di lembaga pemerintahan, menjadi kebanggaan tersendiri.

Tapi sekarang, apa yang terjadi? Manusia menjadi sedikit malu kalau harus mengatakan bahwa dia bekerja di suatu lembaga atau perusahaan. Mereka agak sungkan mengakui bahwa mereka masih jadi karyawan, bukan pemilik perusahaan. “Masih ikut orang,” demikian mereka akan berkata sambil agak tersipu-sipu, “belum punya usaha sendiri”. Nah, jaman sekarang sumber kebanggaan itu sudah bergeser: kalau dulunya bangga jadi karyawan, sekarang lebih bangga kalau bisa menjadi pemilik perusahaan, punya usaha sendiri, dan bisa memerintah karyawan karyawati; jadi boss, atau istilah Inggrisnya “ to be the one who calls the shots!”.

Jadi kalau sekelompok karyawan perusahaan berkumpul, orang yang dilihat dengan penuh kekaguman adalah mereka yang punya keinginan keluar dari perusahaan itu dan bekerja sendiri. Istilah kerennya: jadi entrepreneur. Gak peduli ejaannya salah atau pengucapannya salah, yang penting jadi “entrepreneur”, yang kira-kira sama kerennya menjadi “insinyur” di era 70 an atau 80 an. “Wah, hebat lho si Anu itu; dia katanya mau keluar tiga bulan lagi supaya bisa menjalankan usahanya sendiri,” demikian kata seseorang. “Iya,” timpal temannya, “gak koyok awak-awak iki masih jadi karyawan!”

Demikianlah, di jaman ini, orang agak malu kalau masih jadi karyawan, dan (sudah) bangga bahkan ketika masih baru berencana mau membuka usaha sendiri. Entrepreneur, kereen!

Ini kemudian diamplifikasi oleh sikap oportunis lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Begitu melihat angin berubah ke arah pencetakan usahawan, beramai-ramai mereka merombak kurikulum, merubah tag line dan pesan promosinya menjadi nada yang sama: kami adalah entrepreneur university, siap mencetak entrepreneur! Padahal masih segar di ingatan publik bahwa sepuluh tahun yang lalu mereka mengikrarkan diri menjadi “research university”. Jujur, saya agak kehilangan respek sama lembaga-lembaga yang ngakunya gudang intelektual tapi ternyata hanya seonggok oportunis sejati seperti ini!

Saya tidak sedang mengkritik calon-calon entrepreneur atau mereka yang memang sudah sukses bergelimang harta karena menjadi entrepreneur. Yang saya tertawakan adalah sikap kebanyakan orang yang cenderung memandang rendah status ‘karyawan’ dan mulai membuta memuji-muji dan mengagungkan entrepreneur.Kenapa harus minder menjadi karyawan? Tanpa Anda-Anda yang sekarang statusnya karyawan, perusahaan atau lembaga atau universitas tidak akan bisa jalan dan berkembang! Lha mbok modalnya triliunan, kalau karyawannya ogah-ogahan dan tidak bisa memaknai pekerjaan—apapun itu—sebagai amanah dan karya untuk sesamanya dan untuk Tuhannya, ya tetap aja jadi perusahaan gurem! Jadi bahkan sebagai karyawan pun kita harus merasa bangga. We may not be the driver or the owner of a fancy car, but without hundreds of nuts and bolts like us, the car simply falls apart!

Coba bayangkan skenario ini: suatu perusahaan kehilangan karyawannya; semua pada keluar mau jadi pengusaha. Lama-lama perusahaan itu mandeg dan akhirnya kolaps, karena hampir semua karyawannya keluar dan mendirikan usaha sendiri . . .

Nah, karyawan-karyawan yang menjadi pengusaha itu ternyata hanya sebentar mengalami masa jayanya. Suatu hari, mereka mendapati bahwa sebagian besar karyawannya berencana mengundurkan diri, karena . . . juga mau jadi pengusaha!

Nah, pengusaha-pengusaha baru ini ternyata mengalami nasib yang sama. Pertama, karyawannya masih kelihatan jinak dan trampil, tapi begitu sudah tambah cakap, mereka pun ramai-ramai mengundurkan diri karena juga . . . ingin jadi pengusaha. Demikianlah seterusnya. What goes round comes round.

Simple question: kalau semua mau jadi pengusaha, terus yang jadi karyawan siapa?

“Ya orang-orang yang gak punya ambisi dan gak terlalu pinter aja, Pak,” jawab seseorang. Ah, itu mah jawaban dungu. Lha kalau perusahaan Anda diisi oleh orang-orang seperti itu, ya sudah siap-siap aja bangkrut! Haree geneee masih mau punya pegawai bodoh!

Nah, daripada terjebak dalam lingkaran setan yang gak ada putusnya, kenapa tidak berpikir lebih dalam, menghindari sifat latah dan ikut-ikutan, dan berteguh pada prinsip yang lebih masuk nalar: yang kebetulan jadi pimpinan atau perusahaan berupaya membuat karyawannya betah, memberikan apresiasi baik mental maupun finansial yang cukup, menyediakan jenjang karir yang jelas plus jaminan hari tua dan penghargaan buat prestasinya; yang jadi karyawan ya bekerja dengan sungguh-sungguh memberikan upaya terbaik demi kemajuan perusahaan atau lembaganya.

Makanya, seandainya saya punya universitas, slogan yang akan saya pasang adalah: “ini adalah Spiritual University : universitas berlandaskan fondasi spiritual!”

Loh kok? Kamsudnya?

“Iya, spiritual university. Siapapun yang belajar disini, entah itu pingin jadi pengusaha, atau pemimpin, atau pegawai, atau guru, atau pekerja sosial, atau (hanya) ibu rumah tangga akan saya ajari bagaimana memaknai hidup ini dengan lebih bersyukur, tanpa usah merasa minder atau sombong, karena pada level spiritual terdalam, kita ini sebenarnya setara; dan kita berada disini untuk memuliakan namaNya melalui karya-karya kita, apapun jabatan kita dan apapun pekerjaan yang kita lakukan!” Istilah Inggrisnya: “at a very deep spiritual level, we are basically equal and we are here to glorify our God, whoever or whatever we are doing!”.

Masooook??!!

Glossary:

the one who calls the shots = orang yang memerintah-merintah bawahannya: “kerjakan ini!”; “buat itu!”; “nyemplung sumur!”, dsb.

* Cerita ini diilhami oleh mantan atasan di lembaga lama dulu. Suatu ketika, karena kecewa dengan sistem di lembaga itu, dia berkoar-koar: “oo, kalau caranya gini ya saya tak keluar saja dari U***a! Saya kerja bikin perusahaan sendiri aja!”. Nyatanya, setelah setahun dia masih bercokol disitu jadi karyawan; sampai detik ini pun saya dengar dia juga masih disitu jadi karyawan. Baahh!! Makanya punya mulut dijaga, kalau nggak entar jadi jamban!

Posted in: Uncategorized