Ayo Jadi ‘Paranoid’ dan Jangan Naik Titanic

Posted on August 10, 2010

4


Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari film “Titanic”?

Untuk saya yang bekerja di lembaga dengan fasilitas mewah seperti di Ma Chung, pelajarannya jelas sekali: jangan pernah terbuai dengan fasilitas yang serba canggih, bahkan boleh dikata mewah. Pasti tak sedikit orang luar atau bahkan calon mahasiswa yang terpikat oleh kecanggihan atau kemewahan sarana dan prasarana disini. Ok, fasilitas seperti itu bolehlah kita anggap anugerah, tapi jauh lebih penting daripada sekedar kulit adalah esensinya. Sekali kita kedodoran dan masuk ke dalam comfort zone, kita akan pelan-pelan tergilas oleh ketatnya persaingan.

Bukankah Titanic tenggelam karena mereka terlalu percaya diri? Bayangkan, kalau Anda adalah kapten kapal terbesar pada jamannya, yang oleh pembuatnya dibanggakan sebagai “kapal yang tak mungkin tenggelam”, Anda akan cenderung lengah. Bahkan, ketika awak Anda mengatakan ada gunung es di depan, Anda sebagai kapten mungkin masih merasa sangat yakin bahwa gunung itu tidak ada apa-apanya dibanding kapal Titanic yang maha dahsyat itu. Baru ketika ternyata sang gunung juga tidak kalah besarnya, sang kapten mulai panik dan langsung banting setir ke kanan. Terlambat! Sekalipun bagian atasnya tidak menabrak gunung sialan itu, lunasnya menggasak bagian gunung yang terendam laut, gubraaaakkk! Lambung kapal maha besar itu pun jebol, air menyerbu masuk, dan beberapa jam kemudian kapal agung tapi sial itu pun terkubur di dasar laut.

Jadi waspadalah! Di manapun Anda bekerja, tidak ada salahnya senantiasa awas akan tanda-tanda jaman di depan. Siapa tahu ternyata jaman berubah lebih cepat dan ternyata produk atau pekerjaan Anda menjadi usang? Atau tergantikan oleh robot? Atau tergilas barang dari negeri lain yang jauh lebih kompetitif?

Tentang ini, saya jadi ingat motto dari pendiri Intel, Andy Grove: “Only the paranoid will survive”.

Sekilas seperti orang gila, tapi ditelisik lebih jauh, ternyata ada benarnya. Di tengah persaingan prosesor komputer yang begitu ganas, Andy Grove merasa bahwa dia harus senantiasa ‘takut’: jangan-jangan pesaingku sudah membuat prosesor yang lebih cepat? Jangan-jangan mereka sudah bisa membuat yang lebih murah? Jangan-jangan mereka sudah menemukan teknologi baru dalam pembuatan prosesor? Jangan-jangan ada pangsa pasar yang potensial tapi belum aku garap, dan direbut oleh pesaingku? Demikianlah, dia hidup dengan seribu pikiran “jangan-jangan”; persis orang paranoid kan? Tapi dengan begitu, ternyata dia mampu memacu kinerja perusahaan Intelnya sehingga menjadi produsen prosesor yang sangat unggul dan sangat disegani. Semua daya upaya dia kerahkan untuk benar-benar menciptakan prosesor komputer yang luar biasa, unggul, tahan lama, dapat diandalkan, dan cukup kompetitif. Pikiran paranoidnya menghantarkan Intel untuk selamat dalam persaingan ketat di arena otak komputer itu. Sementara itu, pabrik-pabrik lain yang sudah merasa unggul terlena dalam comfort zonenya, dan akhirnya tergilas.

Only the paranoid will survive! Betapa benarnya!

Jadi apa Anda sekarang? Usahawan sukses? King and Queen Ma Chung? Doktor? Lecturer of the Year? Boss of The Year? Student of the Year? Selamat! Tapi sesudah mereguk nikmatnya, jangan lupa menjadi sedikit ‘paranoid’ seperti Andy Grove. Pikirkanlah bahwa banyak orang lain yang juga sedang diam-diam berupaya keras untuk menjadi lebih baik dari Anda, lebih unggul, lebih ramah, lebih disukai, dan lebih-lebih yang lainnya. Dengan begitu, Anda tidak menjadi terlena masuk zona nyaman, tapi senantiasa berupaya lebih keras untuk meningkatkan kualitas diri Anda.

Gimana? Massook??

Post-note:

Ini adalah gambar salah satu adegan film Titanic:

Adegan ini sangat berbahaya, maka jangan sekali-sekali Anda mencoba menirunya, karena nanti yang bisa terjadi adalah seperti ini:

Posted in: Uncategorized