Setelah Matinya Berita-Berita Sensasional

Posted on August 6, 2010

2


Sekelompok intelektual merasa resah. Mereka gusar melihat semakin maraknya berita dan program di media publik yang semakin menjauhi etika: infotainment yang membeberkan urusan pribadi para artis, gosip-gosip di media online, sinetron yang hanya mengumbar makian , lagu-lagu yang memanjakan kecengengan, lomba-lomba yang memaksa anak-anak polos bernyanyi lagu cinta-cintaan . . . semua terasa makin gencar. Bahkan ancaman pemblokiran dan RUU juga tak kurang-kurang; tapi masih saja program-program itu bertebaran, malah semakin meruyak.

Setap kali mereka makan di kantin, kelompok-kelompok orang di sekitarnya hanya berisik membicarakan hal-hal remeh dan gosip-gosip panas: yang artis kepergok bikin video porno lah, yang pejabat korup lah, yang si anu lagi mau membunuh si Marshanda lah (dalam cerita sinetron maksudnya), pokoknya serba gak mutu dan gak intelek blas.

Akhirnya mereka tak tahan lagi. Berdemolah mereka ramai-ramai menuntut semua berita gosip dan isu murahan dihapus. “Berantas habis semua sumber berita maksiat!” seru salah seorang. “Berita gosip = sarana pendangkalan daya pikir bangsa!” timpal satunya. “Bikin berita gosip, neraka buat semua!,” pekik satunya lagi tak kalau seru. Dan ini yang paling mengerikan: “Berita maksiat: lu bikin lu salah, lu dengerin lu juga dosa!”

Demikian dahsyatnya kemarahan para intelektual itu sehingga satu persatu sumber berita gosip pun ngeper nyalinya, dan terpaksa menghapus semua programnya.

Akhirnya, semua sumber berita gosip dan sensasional pun punah. Kalau pun ada, hanya satu dua, dan isinya hanya sekedar kalimat-kalimat ringkasan yang ketika dibaca jadi seperti pelajaran Bahasa Indonesia di SD :”Ariel membuat film”, “Luna dan Tari sedang berbicara.” “Rivaldo sedang pergi kantor polisi.” “Audy Item masih duduk sendiri”, “Krisdayanti sedang merasa malu”, “Anang sedang menyanyi”, “Syahrani mengepel lantai”, “Gayus memberi uang saku kepada Arafat”, dan lain sebagainya. Karena jadi kayak kambing belajar membaca seperti itu, akhirnya nggak ada lagi yang nonton dan program itu pun mati sendiri.

Demikianlah, hidup menjadi lebih baik, setidaknya buat para intelektual itu. Tak ada lagi gosip-gosip. Di kantin, mereka bisa duduk dengan tenang sambil membahas filsafat, religi, matematika dan linguistik, sejarah, astronomi, metafisika, teologi, antropologi, mekanika kuantum, materi gelap, rantai DNA, lubang hitam, atau sosiologi budaya. Orang-orang di sekitarnya pun hanya makan sambil diam. . . .

Sampai lama kelamaan mereka merasa ada sesuatu yang salah. “Kenapa hidup jadi mendadak garing kayak gini, ya” pikir salah seorang.

“Hmmm, . . . . anu, teman-teman,” akhirnya dia memberanikan diri berkata. “Rasanya kok masih ada yang kurang beres ya dengan suasana di sekitar kita ini?”

“Iya,” sahut temannya yang ternyata juga merasa sama. “Sejak keberhasilan kita memberangus semua berita murahan itu, rasanya ada yang . . . anu . . . ada yang hilang.”

Teman-temannya yang lain tersentak.

“Loh, kamu merasa begitu? Aku ternyata juga, lho,” kata seorang lain.

“Aku juga,”

“Lho, aku juga iya!”

“Lho, sama. Aku juga tuh!”

Dengan lemas mereka sampai pada kesadaran yang sama: tanpa berita-berita gosip yang mereka bilang sumber bencana dulu, ternyata hidup memang berubah. Lebih baik? Nggak juga, ternyata. Suasana jadi datar, garing, tak ada sensasi, tak ada greget. Manusia memang masih hidup, tapi tidak lagi pernah terbahak-bahak atau penuh ekspresi berapi-api atau nangis-nangis karena terbawa suasana. Semua datar, serius, . . . .

Akhirnya mereka memutuskan mencabut kembali semua larangan berita gosip tadi. Dunia pun kembali marak. Segala jenis berita mulai dari yang serius, mendidik dan informatif sampai yang penuh isu miring, penuh plintiran disana-sini mengisi jagad maya dan cetak. Manusia-manusia yang tadinya kaku dan serius berubah jadi heboh, asyik mengunyah-ngunyah gosip, ketawa cekikikan dan cekaka’an.

Hidup jadi mengalir seperti apa adanya: yang serius dan selektif memilih mendengarkan dan membaca berita aktual dan inspiratif, yang memang dangkal lebih suka melahap berita sensasional; tapi yang terbanyak ternyata yang kombinasi: pagi sampai siang mendengarkan berita serius dan diskusi serius, sore sampai petang ngerumpi dengan teman-temannya tentang berita ecek-ecek dan tertawa-tawa, having a good time . . .

Manusia memang unik dan kaya warna. Yang jelas sifatnya sama: memerlukan katarsis, sarana pelepasan emosi. Dan berita-berita gosip dan yang disebut “murahan” memberi mereka ruang untuk melampiaskan emosinya: jengkel, geregetan, sebal, kecewa, geram, sedih, senang, heran, kagum, mengutuk, respek . . .

Posted in: Uncategorized