AWAS, Orang Lebay!

Posted on August 5, 2010

5


Semua itu kalau keterlaluan ya pasti jadinya jelek. Tidak terkecuali sikap ramah.

Di sebuah perguruan yang sangat kondang di area Tidar, pernah ada seleksi pejabat. Kandidatnya ada 4 orang. Yang menyeleksi adalah para tetua pendiri perguruan itu. Ketiga calon yang tampil berpenampilan dan berperilaku wajar saja, tapi yang keempat benar-benar menarik perhatian. Dia begitu ramahnya, menyapa semua orang, menyalaminya sambil membungkuk-bungkukkan badan, menarikkan kursi, mengajak berbincang, bahkan memuji-muji hal yang sebenarnya biasa saja, dan tak hentinya menebar senyum.

Salah satu anggota dewan penyeleksi berbisik kepada rekannya: “Waspada sama yang satu itu,” dia menunjuk si ramah dengan dagunya. “Ada sesuatu yang kurang beres dengan dirinya.”

Si rekan agak terperangah. “Ah, masa?” katanya tidak percaya. “Tapi, . .. bukankah dia begitu ramah dan baik?”

“Iya, tapi tidakkah kamu perhatikan bahwa keramahannya itu agak berlebihan?”

“Ya, iya sih, memang. Tapi kan nggak apa-apa, Pak, yang seperti itu?”

“Lho, justru itu,” kata orang yang jeli ini. “Justru karena keramahannya yang lebay itu yang membuat saya yakin bahwa dia sebenarnya sedang menutupi kelemahan karakternya yang parah!”

Si rekan itu masih skeptis. Apa iya orang yang terlalu ramah, sedang menutupi sesuatu yang buruk?

Waktu pun bergulir. Si ramah yang lebay itu terpilih menjadi salah satu pejabat. Bulan-bulan pertama semua kelihatan baik-baik saja, tapi begitu menginjak hampir setahun, eh, si ramah nan lebay mulai membuat masalah. Banyak tugasnya terlantar begitu saja, ada yang kacau balau, ada yang malah membuat perusahaan hampir rugi, ada yang membuat konflik, dan banyak lagi masalah lain. Selidik punya selidik, ternyata baru diketemukan ada satu sifat lemahnya yang membuatnya menjadi seperti kerikil dalam sepatu.

“Saya sudah bilang sejak awal,” demikian tetua yang jeli itu berkata dalam suatu rapat penting untuk membereskan kekacauan itu. “Orang yang sikap baiknya ditunjukkan berlebihan pasti justru menjadi sumber masalah, karena semua yang baik itu dia gunakan secara overacting untuk menutupi karakternya yang buruk!”

Saya perhatikan benar hal yang satu itu, karena saya pun pernah berpikiran bahwa orang yang menunjukkan sikap baiknya secara lebay ya pasti akan baik. Begitu lugu dan polosnya. Tapi ternyata saya salah. Cerita di atas membuka mata saya menjadi lebih waspada. Dan ternyata hal seperti itu juga sudah beberapa kali terjadi.

Orang yang memuji berlebihan, orang yang ramahnya berlebihan, orang yang perhatiannya berlebihan, orang yang tersenyum atau ketawa berlebihan, hampir bisa dipastikan bahwa mereka sedang mengelabui dunia dengan semua pameran sifat baik itu. Coba, kalau tidak percaya, Anda bergaul dekat dengan orang-orang semacam ini; saya jamin, dalam waktu tidak lama Anda akan kuageet setengah mati melihat ada sikap-sikapnya yang membuat Anda keponthalan, atau kecewa, atau bahkan jengkel.

Maka pilihlah yang biasa-biasa saja. Menyapa seperlunya, ramah ya seperlunya, sisanya adalah pembuktian bahwa mereka ternyata benar-benar karyawan/pimpinan yang unggul, kooperatif, tangkas dan bisa diandalkan.

Bagaimana? Masuuk?

Massookk! . . .

Glossary (khusus utk pembaca yang berusia 80 thn ke atas)

* Lebay (bahasa generasi Y) = berlebihan.
** Keponthalan = pontang-panting
*** Massook!” = mengena

Posted in: Uncategorized