Sejujurnya, Aku Tidak Mencintaimu . . .

Posted on August 4, 2010

14


Suatu hari insomnia saya kumat. Parah. Hampir jam tiga pagi saya masih melek. Saking bingungnya, akhirnya saya menyetel TV dan pas melihat adegan film Inggris (lupa judulnya). Ada sepasang pria dan wanita duduk di tepi danau. Si wanita cantik, rambutnya yang pirang keemasan terurai dibelai angin, tapi si pria ternyata bukan pria ganteng. Jelek, raut mukanya kasar, terkesan kumuh, kasar dan tidak classy sama sekali. Pokoknya nggak match aja pasangan ini.

Dari dialog di tengah-tengah film itu, saya bisa mengerti bahwa si wanita sedang menceritakan tentang mantan kekasihnya yang dulu bertengkar dengannya, pergi jauh tapi sekarang kembali. Dari nada dan kalimat-kalimatnya, nampak bahwa dia terombang-ambing antara mencintai si pria di sebelahnya itu dengan merajut kembali asmaranya dengan si pria mantan kekasihnya itu.

Nah, tentunya si pria tidak ganteng itu mulai khawatir kalau si wanita melabuhkan kembali hatinya pada mantan kekasihnya itu. Selama ini, mereka sudah berpacaran dan si pria mengakui bahwa dia semakin mencintai si wanita. Tapi dengan kembalinya sang mantan kekasih itu, dia mulai ragu apa si wanita benar-benar mencintainya, atau sebenarnya hanya sedang menjadikannya pelarian dari patah hati.

“Kamu mencintaiku?” tanya sang pria, tanpa bisa menyembunyikan nada resah di ujung ujarannya.

Si wanita melengos. “Sebenarnya . . .” dia agak ragu. “Sebenarnya, jujur saja, . . . tidak.”

Si wanita nampak agak lega setelah mengucapkan kalimat itu, sementara wajah si pria mendadak berkerenyit seperti menahan rasa sakit yang sangat.

Mereka diam. Si wanita memandang jauh ke depan ke danau biru beriak kecil itu, sementara si pria terpaku di tempatnya dengan wajah beku.

Mendadak tanpa peringatan sama sekali, si pria menerjang wajah wanita di depannya. Bregghh! Mereka bergulingan di tanah. Tangan pria itu mencekal leher si wanita dan mencekiknya sekuat tenaga yang dia bisa kerahkan. Begitu kuatnya sampai tak terdengar lenguhan sama sekali dari si wanita malang itu. Lalu si pria meraih sebongkah batu di dekatnya dan menghajar kepala si wanita berkali-kali.

Adegan berikutnya adalah si pria yang akhirnya tersengal-sengal kehabisan tenaga setelah melampiaskan amarahnya. Wanita itu tergeletak tak bernyawa lagi di tanah, bagai seonggok manekin dengan darah dimana-mana. Saya tanpa sadar agak menangkupkan bantal ke muka karena tidak tahan melihat adegan itu.

Lalu si pria terduduk bersimpuh di depan jasad wanita itu, dan mulai menangis tersedu-sedu. Bahunya yang kokoh terguncang-guncang dan air matanya mengalir membasahi pipinya yang terciprat darah. Diangkatnya kepala sang wanita dan dipeluknya, dan ditengah sedu-sedannya dia berkata setengah berseru: “ . . . but I love you, I love you. How dare you do this to me??! It hurts a lot!! I love you . . .I am sorry I couldn’t take it so easy. I’m sorry . . . hu hu huuu!!”

Kata-katanya sudah tidak logis lagi. Bilang ‘I love you’ tapi disambung dengan ‘how dare you do this to me’. Tapi ya siapa tidak bisa memaklumi?

Saya terpana, menurunkan bantal dari wajah saya dengan perasaan tercekam. Ngeri, tapi juga kasihan. Kasihan kepada siapa? Ya, tentunya si wanita itu, . . . tapi jauh lebih kasihan kepada si pria malang itu.

Bayangkan sakitnya: dianggap ban serep! Dia tentunya tulus mencintai si wanita, tapi ternyata sang wanita hanya menganggapnya pelarian dari kisah asmaranya yang nyaris patah dengan seorang pria lain. Begitu sang pria pujaan itu akhirnya menerimanya, dengan kalemnya si wanita mengatakan kepada pria buruk rupa itu bahwa dia sebenarnya tidak mencintainya. Aduh, kalau Anda jadi si pria buruk rupa itu, Anda yakin tidak sakit hati??

Kalau Anda naksir seorang lawan jenis kemudian ditolak, mungkin ya masih kecewa, tapi gak akan sesakit itu. Nah, kalau Anda sudah jadian dengan dia, dan Anda mendapat kesan bahwa dia juga menyayangi Anda, apa ya tidak mak glodak begitu mendengar pengakuannya bahwa sebenarnya dia hanya menjadikan Anda sebagai pelarian? “Maaf, aku sebenarnya tidak mencintaimu. Aku mencintai orang lain yang dulu kuanggap sudah hilang tapi ternyata sekarang telah kembali kepadaku.” Glodaak!

Cinta memang misterius. Elusive, bahasa Inggrisnya. Pada satu sisi sangat membahagiakan, tapi salah posisi sedikit saja bisa menjadi sangat menyayat. Sebenarnya, kalau si pria malang di cerita itu benar-benar mencintai si wanita, bukankah seharusnya dia mengatakan: “Oh, begitu ya? Ya, sudah, baguslah. Kudoakan semoga kau bahagia dengannya!”. Tapi kalau dia benar-benar begitu, apa kita masih menganggapnya waras? Atau justru kita ini yang kurang waras? Well, mungkin juga karena penyebabnya sepele: manusia salah mendefinisikan cinta. Nah, tunggu posting saya berikutnya. Saya akan menulis tentang apa itu arti cinta sejati.

Post-note:

* Film Inggris agak lain dengan film Hollywood. Akting para aktornya sangat wajar dan terkesan sangat nyata, seolah-olah mereka tidak sedang main film. Aktor-aktor Hollywood juga sangat bagus, tapi tetap saja akting orang Inggris benar-benar membuat saya sangat tercekam saking wajar dan bagusnya. Tapi sebagus-bagusnya film Inggris dan Amerika, tidak ada yang mengalahkan film sinetron di negeri kita. Lima menit nonton saja saya sudah nangis gerung-gerung saking jueeleeknya kualitas akting dan plot ceritanya. Parrrahh!

* Saya harap tidak ada Ma Chunger (entah staf atau dosen atau mahasiswa/mentee) yang membaca posting saya ini. Kalau mereka tahu direktur QA yang ‘menyeramkan’ itu ternyata nonton adegan sadis di film sambil menutupi muka dengan bantal, apa nanti kata merekaaaa?? Wa ha ha haaa!

** “Aku dulu juga pernah dibegitukan,” gumam seorang pembaca. “Tapi aku yang jadi pria mapannya itu. Sudah kurang apa aku ini coba? Mapan, tampang juga boleh, smart, romantis, . . . eh, ternyata dia hanya menjadikanku pelarian dari kekasih sejatinya yang jauh segala-galanya di bawahku”. Wadaw!

Posted in: Uncategorized