Karakter

Posted on July 30, 2010

3


Rekan saya, Pak Daniel Ginting, sering memberi saya permen. Lumayan untuk mengusir kantuk dan jenuh setelah seharian berada di kantor. Karena saya tidak senantiasa berada di dekat tempat sampah, bungkusnya sering saya kantongi begitu saja untuk nanti saya buang.

Suatu ketika, selagi mengemudi pulang ke rumah, saya mendapati bungkus-bungkus permen itu masih teronggok di kantung kemeja saya. Saya berada di tengah jalan; agak sepi karena sudah menjelang larut petang. Sekilas saya berpikir: “ah, buang saja ini ke tengah jalan. Toh ini bukan Ma Chung yang mewajibkan dosen dan mahasiswanya harus sangat menjaga kebersihan, tidak boleh buang sampah sembarangan.”

Saya sudah menekan tombol membuka jendela, tapi ketika tangan berisi bungkus-bungkus permen itu hampir menjulur keluar jendela, tiba-tiba ada nurani mengingatkan saya:

“Ooh, jadi begini karakter Anda sesungguhnya? Bersikap bersih hanya kalau di kampus, begitu sudah di luaran jadi kemproh??”

Saya merandek.

“Ah, kenapa mesti dipikir sih?? Kalau pun kamu buang, siapa juga yang lihat??” ada lagi bisikan hati entah yang sebelah mana. “Kalau jalanan kotor kan besok ada yang membersihkan? Udah, lempar keluar!”

Kalau Anda jadi saya ketika itu, Anda pilih yang mana?

“Karakter adalah hal pada diri Anda yang Anda lakukan secara konsisten bahkan ketika tak seorang pun melihat Anda,” demikian definisi karakter yang saya dapat dari Manajer PKK dan Rektor Universitas Ma Chung dalam sesi pengembangan karakter. Sungguh sangat tepat.

Jadi, dilihat orang lain atau tidak, berada di Ma Chung atau di pantai atau di jalan, karakter lah yang memimpin kita untuk melakukan suatu tindakan. Kalau karakter seorang Ma Chunger memang sudah ramah dan menyenangkan, jangan kata di Ma Chung, ketika berada di negeri antah berantah pun dia tetap ramah dan menyenangkan. Sebaliknya, kalau karakternya adalah skeptis dan pesimistis, ketika rapat di Ma Chung ataupun rapat RT di kampungnya, orang itu juga tetap akan skeptis. Bahkan mungkin ketika berdoa sendirian pun dia tetap skeptis: “Ya Tuhan, saya tidak minta apa-apa hari ini. Paling juga jawabMu begitu-begitu saja.”

Salah satu kebiasaan saya bahkan sejak kecil adalah tepat waktu. Saya pernah ditertawakan orang ketika datang ke pesta sweet seventeen jam 6 kurang seperempat, karena undangannya bilang jam 6 tepat. Sampai di restoran tempat pesta, bahkan ruangnyapun masih gelap, yang ada hanya mbak dan mas CS nya. “Biasanya kalau undangannya jam 6, baru jam 7 atau 7.30 mulainya,” kata mereka menjelaskan. Kasihan deh saya . . .

Tapi karena mungkin sudah karakter, kebiasaan itu sangat melekat pada diri saya, dan untungnya lingkungan Ma Chung mendukung kebiasaan ini. Sebagian besar acara dimulai tepat waktu. Dan umumnya saya sudah berada di ruangan 5 atau bahkan 10 menit sebelumnya.

Kembali pada persimpangan jalan di atas: haruskah saya buang sampah itu ke luar jendela mobil?

Tidak. Saya memutuskan untuk memelihara karakter yang positif. Memang tidak akan ada orang yang akan menyoraki saya kalau saya tidak membuang sampah itu ke jalan; tidak juga akan ada orang yang menegur saya kalau saya buang ke jalan. Tapi suara hati itu lho yang tidak bisa dikhianati. Sekali dikhianati, dia akan meradang dan terus-menerus berseru : “You committed a crime! You committed a crime!” demikian berulang-ulang seperti alarm mobil yang pemiliknya sendiri kebingungan bagaimana mematikannya.

. . . sedikit banyak cerita di atas menjelaskan kenapa di mobil saya ada keranjang sampah kecil : ) . . .

Glossary:

kemproh = kotor, tidak rapi dan bersih, bahasa Belandanya slordig (= slordeh)

Posted in: Uncategorized