Ahli Kitab

Posted on July 28, 2010

4


Ahli Kitab. Bah! Ini julukan sinis dari kami—para team leaders di Ma Chung—untuk orang-orang yang biasanya disebut pakar dan sering bicara panjang lebar mengenai macam-macam topik tapi belum tentu bisa kalau disuruh melakukan apa yang mereka ceramahkan. Setidaknya ada HK yang sering bicara tentang pemasaran, branding segala macam, terus ada MT yang sering muncul di Metro TV. Masih banyak lagi.

“Kita tidak butuh ahli kitab,” demikian seorang dari kami pernah mengatakan. “Yang kami perlukan adalah orang-orang yang gak usah berbicara panjang lebar tentang teori-teori segala macam, namun langsung pada pelaksanaannya, dan make things happen!”

Saya tentu saja seribu persen setuju dengan pendapat itu. Nyatanya, semua yang saya capai di Ma Chung ini juga bukan modal mulut; saya termasuk tipe “algojo”: orang yang sangat pendiam, bahkan terkesan cuek, namun lebih suka langsung bertindak dan membuat perubahan.

Maka sadar atau tidak, ternyata kami di lembaga ini telah mendidik mahasiswa-mahasiswa supaya mereka tidak hanya menjadi Ahli Kitab. Bicara teori boleh, berceramah tentang pengalaman boleh, memberi kuliah tentang nilai ini nilai itu silakan, tapi jangan terlalu panjang dan jangan hanya itu. Action! Itu yang lebih penting.

“Ahli Kitab tentang marketing itu,” demikian kolega saya pernah bercerita, “ternyata kedodoran ketika diminta benar-benar menangani marketing di suatu perusahaan berskala nasional yang tersohor.”

Maka jangan heran kalau melihat dosen-dosen dengan style Anti Ahli Kitab seperti ini makin banyak. Sedikit berceramah, sisanya untuk membuat mahasiswa mengalami sendiri apa yang diteorikan tadi, kerja kelompok, simulasi, studi kasus, kunjungan ke luar kelas, dan macam-macam lagi. Bukankah generasi Y juga memang tidak betah mendengarkan uraian panjang lebar sampai berbuih-buih dan lebih suka melakukan aktivitas nyata?

Ahli Kitab, ha ha ha! Benar-benar menohok. Makanya jangan banyak bicara atau nulis segala macam teori; Anda lebih dilihat karena hasil nyata yang Anda lahirkan.

Selesai menulis posting ini, saya menghadiri undangan di kelas Carotenoid. Ada acara seminar mahasiswa. Dua orang mahasiswa, pria dan wanita, menyambut dengan senyum ramah di depan pintu sambil menyodorkan kotak snack.

“Selamat pagi, Pak Ahli Kitab,” sapa mereka.

“Haaahh??!!” saya tersengat. “Eh, berani-beraninya Anda mengolok saya Ahli Kitab??!”

“Loh, kan memang benar, Pak?” mereka kelihatan kebingungan.

“Benar gimana??! Saya tersinggung loh kamu bilang saya ‘ahli kitab’!”

“Lho, Bapak kan yang punya blog machungaiwo to? Lha posting-posting Bapak yang ratusan biji itu kan juga cuma teori, nasihat dan prinsip tertulis segala macam; tapi apa iya Bapak sudah melakukannya seperti itu di dunia nyata?”

Kontan saya tersekima, eh, terkesima.

Dhiengng!! Jangkriik, . . . dia benarr!!

Posted in: Uncategorized