Mahasiswa Baru dan Justin Bieber

Posted on July 24, 2010

9


Salah satu butir acara paling menarik di penyambutan maharu (=mahasiswa baru) Universitas Ma Chung angkatan 2010 adalah ketika Josephine dan kawan-kawannya menyanyikan lagu “Baby”nya Justin Bieber.

Sebagai pria dewasa, saya lebih suka mendengarkan lagu-lagunya Robbie Williams, Nirvana (almarhum), Metallica, Bruce Springsteen, Pet Shop Boys, atau Level 42. Lagu-lagu era 2000 ke atas mah sudah susah dinikmati untuk telinga saya. Ya, maklum, dulu ayah dan ibu saya pun juga heran apanya yang bisa dinikmati dari lagu-lagu yang jadi favorit anaknya di era 80 dan 90 an. Generation gap.

Tapi setelah beberapa kali mendengarkan lagunya Justin Bieber (kebanyakan dari ponsel putri saya yang fans beratnya Bieber, atau mentee saya yang juga suka lagu itu), saya mulai bisa menikmatinya. Khas ABG: dangkal, ringan, dengan aransemennya yang rapi dan ceria, warna pop nya kuat sekali, pantas kalau banyak anak muda yang suka.

Tapi yang menarik saya di acara itu bukan sekedar Justin Bieber dengan lagunya yang renyah itu. Yang membuat saya agak heran adalah: ketika Josephine dkk menyanyikannya dengan sangat bagus, reaksi para maharu angkatan 2010 itu adem-adem saja. Tidak ada tepuk tangan atau bahkan pekikan spontan yang biasanya keluar kalau anak muda histeris ketika mendengar lagu kesayangannya dilantunkan. Ya, kalau papa mamanya diam saja mah saya nggak heran. Kalau mereka mah pasti udah nggak nyaho dengan lagunya Bieber, kan mereka dari jaman baheula, jadi ya favoritnya pasti bangsanya “Love Me Tender” nya Elvis Presley atau “Senja di Kaimana”, pokoknya yang pemutarnya masih piringan hitam yang kalau udah panas terus suaranya mleyot-mleyot itu . . .

Tapi anak-anaknya, generasi Y yang lahir tahun 1994 ke atas, diam saja mendengar lagunya Justin Bieber? Aw, come on, pasti ada yang salah ini . . . Jangan-jangan autis. Ah, tapi kalau autis masa berani masuk Ma Chung?

Saya berbisik ke komandan Korbidkem yang duduk di sebelah saya: “Gila ni anak-anak. Ini kan lagu kebangsaannya generasi sekarang?? Kok pada diam saja ya? Tepuk tangan pun enggak lho!”

Dia tertawa.

“Anda tahu,” saya meneruskan. “Orang Indonesia tuh paling pelit untuk memberikan tepuk tangan, dan juga termasuk bangsa yang paling sulit ketawa! Makanya sekarang banyak pelawak yang stress karena makin sulit membuat orang Indonesia ketawa!”

“Ha ha haaa!” dia terbahak-bahak. Huss . . !

Saya ingat ketika saya dan beberapa teman menyajikan tarian sederhana di depan orang tua dan mahasiswa New Zealand ketika saya kuliah disana tahun 1992. Tarian Sumatra yang kami bawakan salah-salah itu mereka sambut dengan tepuk tangan membahana yang rasanya menggetarkan seluruh ruang aula. Wih, rasanya! Sampai merinding. Orang Barat memang sangat jauh lebih apresiatif banget sekali terhadap penampilan seni orang lain.

Ok, deh, di antara pembaca, kalau ada yang mau melawak atau nyanyi dan berhasil membuat penonton Indonesia—termasuk Ma Chungers—tertawa dan bertepuk tangan sangat meriah di akhir acara, saya kasih gaji saya satu bulan! Masih ditambah hadiah dari Lecturer of the Year yang 500 juta itu. Lhoh, berani bener?? Iya, soalnya saya yakin pasti gagalnya. Orang Indonesia makin sulit ketawa dan bertepuk tangan!

For you, I would have done whatever
And I just can’t believe, you ain’t smile or cheer together
And I wanna play it cool, But I’m losin’ your laughter
I’ll buy you anything, I’ll buy you any ring
And I’m in pieces, Baby fix me
And just shake me til’ you wake me from this bad dream

Bab-bi, ba-bi, ba-bi oooouwh . . .!

Post note:

Saya baru tahu mahasiswa Akuntansi ada yang namanya Josephine Erga. Setahu saya, mahasiswa Akuntansi hanya ada dua: Pamela Wijaya dan Liliani Anthonia Monica, ha ha ha! Soalnya mereka berdua nih mentee saya di Curcuminoid! So sad T_T . . .

Acara penyambutan maharu tadi pagi itu membuat saya terkenang momen dua tahun yang lalu, di tempat yang sama di Balai Pertiwi, pada acara yang sama. Saya sebagai mentor baru , saking bingungnya harus gimana untuk menyambut mentee-mentee Curcuminoid, akhirnya menyalami mereka satu persatu dan mengatakan: “Selamat pagi! Saya Patrisius, mentor Anda.” Ah, katroknya nggak ketulungan. . . .

Posted in: Uncategorized