Mengapa Wanita Smart Kepincut Pria Ndak Karuan

Posted on July 23, 2010

14


Forkomil saya kali ini bertopik: “Mengapa Wanita Smart dan Baik-Baik Kepincut Pria Ndak Karuan”. Yang datang kebanyakan wanita-wanita muda yang dari paras dan gerak tubuhnya menandakan bahwa mereka setidaknya bergelar S2, banyak yang dari luar negeri, dan sedang bekerja keras meniti karirnya. Smart-looking and good-looking as well.

“Berkat kemajuan teknologi dan gerakan emansipasi wanita, jaman sekarang makin banyak wanita muda usia akhir 20-an sampai pertengahan 30-an yang mempunyai aspirasi untuk memajukan karirnya, menerapkan ilmunya semasa kuliah, dan memamerkan kapasitas intelektualnya jauh sebelum mereka memutuskan untuk membina hubungan asmara dengan seorang pria dan kemudian menikah,” demikian saya memulai.

“Namun, hal seperti ini ternyata bertentangan dengan naluri alamiah,” saya melanjutkan. “Semakin kencang seorang wanita muda mengejar karirnya, semakin tinggi kadar cortisol dalam dirinya; nah, kehadiran si cortisol sialan ini memicu stress yang makin lama makin tinggi.”

Saya meneguk minuman sejenak. Tebbzz, tea with shocking sodaaa. Mata para hadirin mulai kelihatan penasaran. “Lha terus gimana, Pak?? Mestinya gimana?” akhirnya seorang wanita di baris depan tak tahan untuk tidak menyela.

“Nah,” saya lanjutkan, “ini beda dengan wanita yang menuruti basic instinctnya dengan menikah lebih dulu, hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak. Pada wanita seperti ini, hormon serotoninnya bekerja lebih dominan daripada cortisol. Serotonin tuh membuat nyaman, tenang, dan yang paling penting: membuat wanita merasa menjadi wanita seutuhnya. Sementara dia merawat rumah tangga dengan aliran serotoninnya, suaminya dan para pria lainnya menuruti lecutan hormon testosterone mereka untuk bekerja keras di luar rumah mencari nafkah, mencari uang, kekuasaan, dan simbol status (money, power, and prestige). Cocok.”

“Ok, Pak, minumnya entar dulu!” sergah seorang hadirin ketika melihat saya menyentuh botol Tebzz saya lagi. “Teruskan dulu. Terus gimana dong dengan wanita yang tipe smart women tadi??”

“Nah, para smart women tadi menderita kekurangan serotonin dan kelebihan cortisol. Karena tuntutan karir, persaingan kerja, ambisi, friksi, dan sebagainya, mereka stress, walaupun kebanyakan tidak menampakkannya. Untuk mengurangi stressnya, mereka mulai mengkonsumsi banyak lemak, glukosa, dan karbohidrat. Dengan bahasa yang lebih sederhana: mulai menggasak pizza, snack, coklat, ice cream Haagen Dasz dan nasi empal! Kenapa? Anda tahu kenapa??”

“Karena kadar glukosa dan karbohidrat memang menurunkan stress!” sahut seorang wanita berblazer coklat.

“Persiiiss!” jawab saya. “Jadi, karena serotoninnya hilang dan cortisolnya melonjak, mereka stress; karena stress, mereka mulai sering makan, karena mereka mendapati bahwa kadar glukosa menurunkan stressnya.”

Saya melirik seorang hadirin berukuran XL manggut-manggut. Mmm, mungkin dia menyadari sekarang kenapa makin sulit mencari baju yang ukuran S atau M buat dirinya . . .

Belum juga dua detik saya mengambil napas, seorang wanita di baris tengah langsung memberondong: “Terus, Pak, teruskan! Apa hubungannya sekarang antara wanita smart itu dengan pria ndak karuan??”

“Nah, ini,” lanjut saya, “Wanita tipe ini mudah menemukan penangkal stressnya pada pria-pria macho yang cenderung agresif, sedikit liar, posesif, dan celakanya, kebanyakan juga bukan pria baik-baik. Sekalipun mereka sangat pandai bermain kata dan memuja si wanita, dan secara fisik memang kelihatan seperti kuda Sumbawa, tegap dan kokoh, mereka kebanyakan memperlakukan wanita sebagai obyek belaka; mereka sangat dominan, beberapa berkepribadian sulit, egois, atau paranoid . . .”

Hadirin terdiam sejenak. Jlebz rupanya.

“Tapi herannya, mengapa wanita -wanita smart ini seperti gak bisa lepas dari kekasih parah macam itu?? Ya, karena tanpa sadar, mereka memang membutuhkan figur pria seperti itu. Otak dan pikirannya yang smart itu mengatakan “ini pria keliru!”, tapi tubuhnya yang haus serotonin dan penuh cortisol tadi mengatakan sebaliknya: “ini yang mampu meredakan stressku!”. Naah, loo!”

Hadirin diam tapi terbelalak seperti melihat hantu sawah.

“Buat wanita seperti ini perjuangan keras, bahkan penderitaan, sudah menjadi elemen utama bukan hanya dalam karirnya, namun juga dalam hubungannya dengan pria macam begini.”

“Yah, kalau gitu mengapa tidak mencari pria mapan yang baik-baik saja?” sergah seseorang.

“Sederhana aja jawabnya,” kata saya. “Karena pria macam ini pasti tidak suka istrinya berkarir di luar rumah. Karena mereka udah mapan, ya wajar kalau mereka menuntut istrinya untuk tenang damai sejahtera saja di rumah, membesarkan anak dan merawat rumah. Wanita karir, smart dan ambisius kayak Anda apa mau dibegitukan? Hayooo, piye hayoo!?”

“Jadi, wanita smart pasti belum mau buru-buru mengikatkan diri dengan pria mapan seperti ini, ya?” tanya seseorang.

“Persiiiisss!” jawab saya. “Pria mapan identik dengan ketenangan, gaya yang konvensional, tertib, serba teramalkan dan teratur, . . . yang lama-lama . . .membosankan karena datar. Nah, pria ndak karuan, sekalipun pendominasi dan abuser, beberapa malah nggak jelas karir atau masa depannya, mampu memberikan cita rasa yang lain: lebih exciting, lebih punya passion, mungkin penuh kejutan, jadi yaah, begitulah. . . lebih menggairahkan memang.”

“Makanya sulit lepas, buset bener!” gerutu seorang hadirin, disambut senyum dan tawa kecut yang lain. “Terus, advis Anda apa dong untuk wanita?”

“Mmm, mungkin menuruti panggilan alam lebih baik ya. Lebih baik menikah di usia muda, melahirkan dan menyusui anak, merawat anak; itu kerjaannya hormon serotonin semua tuh. Lalu, setelah anak mulai besar, baru kuliah lagi, bekerja, mengejar karir; atau, kalau emang nggak mau terlalu kencang di karir ya nggak apa-apa toh? Kan emang kodrat wanita merawat generasi penerusnya?”

“Ooh, jadi dengan begitu, kemungkinan untuk bertemu dan terperangkap dalam hubungan dengan pria ndak karuan jadi semakin kecil, ya?” tanya seseorang dari ujung kiri.

“Persisss!” saya membenarkan.

Saya perhatikan seorang wanita di baris belakang mendadak menjadi merah padam mukanya. Saya tahu wanita ini aktivis gerakan emansipasi wanita. “Hmmh!” dia mendengus. “Sia-sialah RA Kartini berjuang. Ternyata ujung-ujungnya ya cuma dapur dan ranjang saja tempat kita ini sebenarnya!”

“Yah, semua ada harganya,” saya menanggapi. “Mengejar karir dan mecoba berdamai dengan cortisol dan mentolerir perlakuan pria ndak karuan, atau menikah dulu, settle down with a real husband and father figure, baru kemudian mengejar karir, atau tidak sama sekali.”

Semua hadirin tercenung.

“Tapi, FYI, ini adalah hasil studi sosiologi wanita modern di Amerika,” saya mencoba menenangkan. “Kulturnya juga khas Amerika. Kalau kita di Indonesia mungkin tidak segampang atau serendah ini, karena kita semua punya Pancasila, kita ini dari budaya Timur dan kita semua beragama. Betul demikian?”

Sepi. Tak ada yang menjawab. Semua hadirin membisu, mata menatap setengah melamun ke layar.

“Bukankah demikian??!” saya ulang lagi, mengharapkan jawaban serempak: “Iya, betul! Kami tidak semudah itu!”.

Tapi tetap sepi. Wanita-wanita muda yang kelihatan cerdas, enerjik, trendy bahkan sedikit angkuh tadi hanya menatap dengan mata setengah melamun . . . seolah -olah tidak yakin dengan sesuatu.

“Saya ulang: benar bukan bahwa kajian ilmiah ini tidak berlaku untuk Anda, wanita-wanita smart yang memegang teguh adat keTimuran, agama dan Pancasila!!??”

Tak ada satupun yang menyahut atau mengiyakan.

D-a-m-n! saya jadi merinding . . . !

Posted in: Uncategorized