Kiat Memilih Pacar dan ‘Piala Bergilir’

Posted on July 20, 2010

3


Nggak hanya orang mau menikah yang perlu tips, ternyata orang yang (ingin) pacaran pun juga minta tips. Dulu kalau ada murid yang bertanya soal ini, saya bingung mau njawab gimana, soalnya pengalaman di bidang ini minim. Tapi setelah jadi blogger dan mengasuh mata kuliah EDP (English for Dating Purposes), saya jadi sedikit banyak tahu. Nah, tips yang utama adalah ini:

Jangan pilih orang yang di masa lalunya sering gonta-ganti pacar. Besar kemungkinan ada sesuatu yang nggak beres dengan pribadinya: entah dia menetapkan kriteria yang luar basa tinggi sehingga belum ada pria/wanita yang berhasil mencapainya, atau ada sisi sangat gelap pada kepribadiannya sehingga pacar-pacarnya kabur terbirit-birit ketika mengetahui kelemahan itu. Untuk yang cowok ketika mempertimbangkan mau go steady sama seorang cewek, cek fisik dulu: kalau baunya wangi dan dari depan kelihatan mempesona, jangan keburu senang. Periksa secara diam-diam bagian punggungnya: kalau ternyata berlubang dan berbau tidak sedap, itu artinya dia keturunan kuntilanak, maka cepatlah kabur sebelum dia mencucup mbun-mbunanmu!

Ya, ya, ya, guyon. Tapi seriusnya gini lho: orang yang suka ganti-ganti pacar, apalagi kalau frekuensinya berdekatan, menandakan bahwa dia tidak bisa mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil. Nah, kemungkinan besar egonya terlalu gede sehingga batas toleransi terhadap kelemahan pacarnya sangat rendah. Pacarnya bad mood sedikit saja sudah langsung dicap emosional; pacarnya ngomong sama pria atau wanita lain sudah langsung dicap mata keranjang; pacarnya lagi sibuk karena memang ada urusan yang harus segera kelar langsung dicap lebih mengutamakan hobi atau tugas; pacarnya takut kecoa atau ulat sudah dibilang parno (=paranoid), dsb. Orang jenis ini berprinsip: “dalam hubungan pacaran aku adalah pihak yang harus paling diuntungkan; kalau aku nggak happy ya buat apa diteruskan? Mending putusin dan segera cari yang lain!”. Nah, entar kepada pacar barunya prinsip ini terus dipegangnya. Karena hubungan pacaran tidak selalu berarti “it’s all about you!” (baca posting “Tentang Perkawinan”), maka ya akan terulang lagi kegagalan membina hubungan itu. Putus, pindah; nggak puas, putus lagi, pindah lagi; nggak puas, putus lagi, pindah lagi, demikian seterusnya seperti piala bergilir . . .

Tahu nggak beberapa artis kita yang menikah entah untuk keberapa kalinya? Setidaknya ada dua. Coba lihat, nikah pertama, tiga tahun bubar; nikah lagi dengan orang lain, tiga tahun lagi bubar jalan; nikah lagi, eh, setahun lagi balik kanan, ambil langkah seribu, bubar! Coba kalau dia mendekati kamu dan mengajak nikah, apa kowe ora ngeri??? Secantik-cantiknya dia, kamu pasti akan berpikir: “emang kenapa yah kok dengan suami-suami yang dulu pada bubar. Jangan-jangan . . .” Nha, kan, apa juga kubilang??!!

Bukan hanya berhenti sampai disitu: coba bayangkan kalau Anda mau berkontak fisik dengan pacar trophy bergilir itu. Ketika sudah selesai berkontak, apa ndak terbayang pertanyaan ini: “hmm, ciumannya sweet sih, tapi aku ini sudah yang ke berapa yaa? Jangan-jangan aku cuma yang ke sekian sebelum berikutnya?”

Nggak cuma di dunia pacar dan kawin-kawinan, di dunia kerja pun juga begitu. Sebagai seorang pimpinan unit, saya beberapa kali menerima lamaran pekerjaan. Yang selalu saya perhatikan cermat adalah riwayat pekerjaannya. Kalau tempat kerjanya udah pindah berkali-kali, dan waktu kerjanya di suatu lembaga hanya dalam hitungan 2 – 3 tahun bahkan bulan, lha kan saya jadi curiga: ini ada apa kok sering pindah kerja?? Jangan-jangan termasuk pribadi sulit; jangan-jangan sering bentrok dengan atasan atau koleganya; jangan-jangan sering nulis dengan kata-kata kasar di milis Kantorku Ring On kemudian dipecat? Nah, kan!

Jadi mending cari pacar yang sudah putus dengan kekasihnya setelah pacaran agak lama, 4 atau 5 tahunan. Orang begini biasanya punya prinsip menyayangi apa yang sudah diberikan dan mau mempertahankan hubungan, lengkap dengan kebaikan dan keburukan pasangannya. Mereka bukan tipe tabrak lari atau one-night-stand; ,mereka adalah tipe serius yang memandang pacaran sebagai sarana saling mengisi dan mendewasakan diri, bukan sekedar memenuhi nafsu hedonis atau egois.

“Lha terus kalau saya hanya naksir doang tapi belum pingin terikat dalam pacaran, gimana, Pak?” tanya seorang murid.

“Ya, kalau gitu mah jangan pacaran dulu. Berteman aja, TTM Mode: ON (teman tapi mesra)”.

“O, gitu ya? Lha terus kalau mau tahu apakah seorang cewek atau cowok itu sudah pacaran berapa kali, dalam waktu berapa lama, gimana caranya ya?”

“O, itu gampang. Suruh aja ngisi formulir Riwayat Hubungan Terdahulu. Bisa diambil di kantor saya setiap jam kerja.”

Sebelum mulai ngaco, lebih baik saya akhiri postingnya disini dulu.

Catatan/glossary:

“Mencucup mbun-mbunanmu” = mematuk ubun-ubun dan menghisap darahnya (ungkapan populer tahun 1980 an).

“Minim pengalaman” = memang saya hampir nggak punya pengalaman berpacaran. SMP dan SMA nggak pernah pacaran; cuma naksir-naksir ditolak kabeh. Setelah mahasiswa, ketemu adik kelas yang juga nggak pernah pacaran. Begitu ketemu, suka, pacaran, terus nikah dan sekarang dia sudah jadi a woman I can come home to.

One-night-stand = Hubungan begituan dalam waktu hanya semalam. Besok paginya sudah berpisah entah kemana . . .

Posted in: Uncategorized