Sayang tapi Hilang

Posted on July 18, 2010

16


Tanpa sengaja, di posting tentang Anna dan Gugun saya menulis “sayang tapi tidak kangen”. Selintas ngawur, tapi sekarang saya tahu mengapa saya menulisnya. Rupanya itu pengalaman yang sudah lama diendapkan di alam bawah sadar.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba kenangan itu menyeruak kembali memenuhi pikiran. Saya mengucapkan kata-kata perpisahan. “Saya sudah tidak bisa lagi berada disini. Saya harus pindah, ke kota tempat kelahiran saya. Selamat tinggal . . .”

Dia terdiam sejenak. Kemudian dia menunduk dan meraih tisu di atas meja. Dalam hening dia menangis, mengusap matanya yang dipenuhi butir-butir bening air mata . . .

Saya hanya bisa diam. Seperti orang-orangan sawah di tengah malam. Waktu berhenti berdetak . . .

Waktu pun berjalan, bahkan berlari. Tiga tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu. Tak ada yang abadi. Waktu dan tempat jugalah yang memisahkan. Kontak pun makin lama makin jarang, sampai akhirnya berhenti sama sekali.

Di tengah kesibukan yang sekalipun sengsara tapi saya nikmati, di tengah orang-orang baru yang masuk dalam dunia saya, kadang-kadang muncul begitu saja pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabnya: “Once you cared so much about each other. Do you still care about each other now?

Seandainya ada wartawan kurang kerjaan yang mewawancarai saya dan bertanya hal itu, kemungkinan besar akan saya jawab, “Iya, masih sayang tapi sudah tidak kangen”.

Betul kan apa yang saya tulis di posting terdahulu? Sayang tidak berarti harus bersama-sama dan berinteraksi satu sama lain. Sayang bisa tetap ada—seabsurd apa pun bentuknya—bahkan ketika sama-sama sudah menjadi orang asing satu sama lain. Mungkin bisa terwujud dalam doa, dalam pengharapan nun jauh di lubuk hati akan kebahagiaan satu sama lain, dalam mimpi . . .

Samar-samar saya ingat baris-baris kalimatnya menjelaskan bagaimana semua ini dilihat dari sudut pandangnya: “Saya memang sengaja menjauh, tak akan setitik koma pun saya taruh di wall mu, atau di blogmu. Saya hanya menjaga reputasi Anda dimata orang lain, kolega dan orang-orang muda yang sekarang ada di tanganmu. You have reputation, you have a respectable position, and I take great pains not to screw it up.”

Butuh waktu lama sekali untuk saya yang dungu ini memahami apa makna perhatian yang dia wujudkan melalui tindakan seperti itu. Tapi sekarang saya mengerti. . . .

Posted in: Uncategorized