Tentang Rasa Sayang: Kisah daripada Gugun dan Anna

Posted on July 17, 2010

4


Terus terang saya bingung lho melihat kisah Gugun Gondrong dan istrinya, Anna Marisa. Anna menggugat cerai suaminya yang sudah cacat otak itu, tapi ketika ditanya wartawan, bagaimana perasaannya terhadap Gugun, dia menjawab dengan berurai air mata: “Sayang, masih sayang sama Gugun . . .hiks hiks. . . !”

Loh, piye to iki?

Lha kalau masih sayang, kenapa diceraikan? Apalagi (mantan ) suaminya itu kan masih dalam keadaan invalid seperti itu, pasti lah sangat membutuhkan dukungan istrinya. Apa ya ndak kasihan meninggalkan pria itu seorang diri? Tidak ada yang merawat, menyuapi, mengajak bicara, melatih pikirannya supaya pulih kembali?

“Ah, itu kan air mata buaya,” kata teman saya yang ikut menonton. “Biasalah! Pura-pura nangis, supaya kelihatan dramatis, dan supaya kelihatan kalau dia masih manusiawi juga.”

Saya masih bingung. Ketika melihat kembali adegan tangisnya, hmm, . . . nampaknya jujur. Memang mungkin dia terbayang apa yang saya tulis di atas itu: meninggalkan pria mantan suami itu seorang diri, justru di saat-saat dia membutuhkan dukungan seorang istri.

Lha tapi kenapa terus minta cerai?

“Aaah, come on,” kata teman saya satunya. “Ya mana bisalah wanita masih muda seperti dia hidup normal dengan pria yang sakit seperti itu.”

“Kamsudmu?” tanya saya.

“Yaaaah, . . . .” si teman seperti menertawakan keluguan saya. “ Ya iya lah. Mana ada wanita bisa hidup normal kalau suaminya nggak bisa ngasih nafkah batin? Orang sakit kayak gitu kan biasanya juga nggak bisa menganu istrinya. . .”

“Belum lagi nafkah lahir,” timpal teman saya satunya. “Mau dapat nafkah dari mana? Kan belum bisa kerja dengan kondisi seperti itu.”

Ok, kalau itu yang Anna rasakan, berarti dia sudah nggak sayang lagi, dong. Kan ada tuh pepatah yang saya rasa akan diamini oleh setiap wanita: “Ada uang abang sayang, tiada uang abang ditendang” ?

Lho tapi kenapa harus menangis dan mengatakan “saya masih sayang” ? Kan akan lebih mudah dan membuat saya tidak bingung kalau dia mengatakan: “Wah, sudah nggak sayang dah. Sudah sakit, gak bisa cari nafkah lagi; lha masak saya yang harus merawat dia terus. . . “.

Kalau masih sayang, mestinya nggak minta cerai. Kalau dalam agama saya tuh ya, ada janji yang diucapkan di depan Romo oleh sepasang pengantin: “akan senantiasa bersama-sama dalam suka duka, dalam senang maupun susah, dalam kondisi payah maupun bungah”.

“Beda agama beda aturan, Dik,” kata teman saya datar, mungkin saking sebalnya melihat kepolosan saya dia menyebut saya dengan “Dik”.

Kalau udah sampai minta cerai, mestinya sudah nggak sayang lagi. Lha kan ya aneh, bilang masih sayang tapi minta cerai. Lha tapi kalau ngaku masih sayang, kenapa menceraikan? Kalau masih sayang itu ya mestinya setia di sisinya, dalam kondisi apa pun, sampai mati. “Til death do us part,” katanya teman saya yang pintar bahasa Inggris. Mungkin artinya: “sampai medhet-medhet harus tetap setia sampe akhirat”.

Tapi itu mungkin definisi “sayang” jaman normal dulu, ya. Mungkin di jaman serba aneh ini rasa sayang harus diberi pemahaman baru: sayang tapi benci, sayang tapi tidak cinta, sayang tapi minta cerai, sayang tapi tidak kangen, sayang yang satu tapi juga sayang yang lain. . .

“Lha, itu mungkin belum bisa disebut sayang, Dik” kata teman saya lagi. “masih harus dibedakan apa iya sayang, atau baru naksir, atau hanya sekedar tergila-gila . . . “

Saya tertegun.

Sayang, saya masih belum paham juga. . . .

Posted in: Uncategorized