Tentang Perkawinan: Terus Apa Gunanya Nikah?

Posted on July 15, 2010

6


Mentee saya yang rajin baca blog ini, Pamela Wijaya, memberikan pertanyaan bagus setelah membaca “Tentang Perkawinan” : ‘lha terus apa gunanya nikah ya ?”

Pertanyaan yang khas dan implikasinya bisa ditebak: (1) banyak orang (muda) mengira bahwa menikah adalah mendapatkan kebahagiaan lebih besar dan nyaris tidak usah ada ‘sengsaranya’, dan (2) kalau menikah ternyata masih ada juga ‘sengsaranya”, ya terus buat apa nikah?

Orang memutuskan untuk menikah karena, yang pertama, dia bisa mendapatkan pendamping untuk mengarungi suka duka hidup ini. Kalau sakit ada yang merawat; kalau belum sakit ada yang menjaga supaya tidak sakit; kalau harus mengejar karir ada yang mengurus rumah; kalau kesepian ada yang diajak bicara. Lima belas tahun yang lalu seminggu setelah menikah, saya menulis di diary saya (waktu itu belum ada blog atau Twitter): “now I have a woman I can come home to“. So, jadi, menikah adalah menciptakan rumah, tempat berlabuh sejenak setelah capek bekerja menghidupi diri dan mengejar aspirasi.

Kedua, menyalurkan hasrat yang secara alamiah sudah ada di dalam diri manusia untuk berprokreasi dan berekreasi melalui hubungan sex. Menikah sedikit banyak memberi legalitas dan restu pada hubungan serupa itu. Hasilnya pun (baca: anak-anak) akan aman karena diakui sebagai anak dalam pernikahan, punya ortu resmi, dan as such mendapat jaminan sosial dan kesejahteraan dari negara. Wis, yang soal sex ini nggak usah panjang lebar lah ya? Everyone knows about sex and knows how to do it, jadi ya gak usah dibahas lagi.

Ketiga, memenuhi sabda Tuhan. Di Kitab Suci dikatakan: “beranak pinaklah sampai keturunanmu memenuhi muka Bumi”. Hmm, . . . bahkan Tuhan pun ingin manusia dan keturunannya memenuhi Bumi; pantas kalau program KB gagal melulu . . .

Lha terus, kan mentee saya itu kritis, jadi mungkin dia akan bertanya lagi: “ya, tapi kenapa orang harus menikah kalau ternyata dalam pernikahan ya ada nggak enaknya seperti di posting ‘Tentang Perkawinan’ sebelumnya?”

Jawabannya sederhana: posting “Tentang Perkawinan” itu dibuat sebagai saran supaya pasangan yang sudah menikah tidak terjebak ke dalam cara pikir seperti itu, sehingga pernikahan mereka tidak mencekik, tapi membebaskan, mendewasakan, tanpa harus memisahkan (not suffocating or stifling, but liberating and growing without separating).

Yah, saya tahu pasti ada saja sekelompok orang yang sudah punya cara pandang sendiri: “Oh, saya bisa kok menikmati sex tanpa harus terikat perkawinan. Kan banyak caranya?”, atau “Oh, tanpa harus ada yang mengurus rumah atau sibuk mengejar karir pun saya sudah bahagia kok, dan saya tidak pernah kesepian karena punya banyak teman”, atau “Oh, saya tidak pernah ingin punya anak, kok. Haree genee, kasian anaknya, begitu mereka dewasa buminya kiamat!”.

Ya, oke oke saja sih cara pikir seperti itu. Dan sebenarnya tendensi ini juga sudah muncul di beberapa negara: Singapore dan beberapa negara Eropa sudah mulai penuh dengan orang-orang muda yang nggak tertarik punya anak, punya keluarga. Akibatnya populasinya menurun; orang tua tambah banyak, yang lahir makin sedikit. Di beberapa negara Macan Asia, perempuan-perempuannya lebih tertarik mengejar karir dan mengejar aspirasi diri, dan sudah ogah diribetkan dengan urusan asmara, patah hati segala macem.

Mmm, . . . . jadi begitulah jawaban saya. Menikah, sama seperti hidup apa pun, ya tetap saja ada suka dan dukanya. Kalau kita bijak, kita bisa menikmati sukanya dan tetap berdamai dengan dukanya, atau malah menjadikan ‘duka’ itu sebagai cara untuk lebih mendewasakan diri.

Posted in: Uncategorized