Tentang Perkawinan

Posted on July 14, 2010

5


Di tengah jam makan siang, saya menemukan artikel di Yahoo tentang perkawinan yang sehat. Karena terkesan, saya berminat membagikannya lewat blog ini. Saya tahu mungkin mahasiswa dan mentee saya belum ngerti apa-apa soal ini (maklum, mereka masih bayi. Lagi sibuk-sibuknya kuliah dan mikiri online game atau raising pets), tapi kan ternyata blog ini juga dibaca oleh orang-orang yang sudah dewasa (30 an tahun ke atas), sehingga gak ada salahnya saya sharingkan:

Pernikahan bukan berarti mendapatkan seorang pasangan yang akan memenuhi semua kebutuhan hidup Anda.

Pasangan Anda adalah manusia biasa, bukan malaikat atau superman/superwoman yang mampu memenuhi semua kebutuhan Anda, mulai dari mental, finansial, emosional, seksual. . . . Orang yang belum atau tidak menyadari hal ini kemudian akan kecewa pada pasangannya karena dia berharap terlalu banyak. Mendambakan pasangan yang cakep/tampan, tinggi, kaya, pintar, berpendidikan tinggi, murah hati, romantis, sabar, bijaksana, religius, dewasa? Alamaaak, mana ada yang kayak gini? Kalau Anda memasang kriteria seperti ini, coba pikir ulang! Daripada nanti kecewa. . .

Pernikahan bukan hanya tentang kamu.

Bahasa Inggrisnya lebih elok sebenarnya: “Marriage is not all about you”!

“Pernikahan ini untukku. Untuk kebahagiaanku. Pasanganku akan mengerti semua kebutuhanku, kondisiku, cita-citaku; dan perkawinan ini akan membuatku lebih mantap meraih puncak karirku, dan ku ku ku yang lainnya”.

Orang dengan cara pikir seperti ini akan shocked berat begitu menghadapi kenyataan sesungguhnya dalam perkawinan. Alih-alih mendapat semua perhatian untuk dirinya, dia akan mendapati bahwa perkawinan adalah hal memberi, kadang-kadang berkorban, melakukan sesuatu untuk pasangannya.

Perkawinan bukan berarti selalu dekat dengannya.

Secinta-cintanya dua pasang insan satu sama lain, sebaiknya tetap ada saat dimana keduanya memberi ruang untuk sendiri. Masalah dan kemudian kegagalan dalam hidup perkawinan justru disebabkan karena masing-masing ingin selalu berada di dekat pasangannya. Ya, mungkin Anda belum nikah, tapi coba bayangkan, apapun yang Anda lakukan dan dimanapun, si dia selalu mengapung di dekat Anda. Lama-lama Anda sesak napas: tidak ada ruang untuk bisa sendiri dan bebas berekspresi. Kebersamaan yang keterlaluan itu akhirnya terasa mencekik. . . . There are times when you should feel free, being on your own.

Perkawinan adalah hal bertumbuh bersama, bukan sekedar happy.

Naskah aslinya mengatakannya dengan singkat padat: “Marriage is about growing and learning to be a better person. It’s not about being happy all the time.” Perkawinan adalah hal saling bertumbuh, menjadi makin matang dan dewasa, bukan sekedar selalu riang gembira dimana-mana. Mmm . . . siapa yang bisa menyangkal hal ini?

Perkawinan bukan sekedar gairah dan romantis.

Gairah yang menyala-nyala akhirnya toh akan mendingin. Romantisme juga tidak akan semenyengat dulu ketika masih pacaran. Tapi itu semua normal. Ketika semua itu mulai reda (saya tidak mengatakan “padam sama sekali”), seharusnya yang menggantikan adalah ikatan batin yang kuat dan komitmen untuk saling membahagiakan. Dalam teks aslinya disebut kalimat ini: “the romantic feelings may come and go, but your feelings of togetherness and bondedness don’t have to quit.”. Coba baca posting saya yang kena sekali untuk hal ini disini
True!

====
Post note: tadi di atas saya bilang “posting ini bukan buat mentee, karena mereka masih bayi.” Mmm, sebenarnya enggak juga. Prinsip-prinsip yang saya uraikan diatas ternyata juga bisa berlaku buat mereka yang masih pacaran, tunangan, atau mungkin sekedar bersahabat karib.

Saya memang makin romantis sejak menikah. Maksud saya, “romantis” disini adalah makan rokok gratis!

Posted in: Uncategorized