Di Balik Lecturer of the Year 2010

Posted on July 10, 2010

2


Tidak banyak yang tahu bahwa 16 jam sebelum Lecturer of the Year diumumkan di Dies Natalis III, terjadi rapat yang vital di ruang pimpinan. Temanya: membahas permohonan ijin dari saya untuk mengundurkan diri sebagai Lecturer of The Year 2010.

Ya, saya tahu saya menang, tapi karena ingin menjaga perasaan para kolega Ma Chung lainnya, saya memilih untuk mengundurkan diri. Kenapa tidak? Pimpinan tertinggi pun sudah dengan entengnya mengundurkan diri sebagai pemenang (nilainya lebih tinggi beberapa poin dari saya).

“Saya minta ijin untuk mengundurkan diri,” kata saya dalam rapat tersebut.

“Tidak saya ijinkan,” jawab pimpinan tertinggi.

Ok, ya sudah, apa mau dikata. Esok harinya nama saya disebut sebagai Lecturer of the Year 2010. Saya berjalan dengan tampang seperti maling dapat hadiah, juga ketika berjalan dalam barisan di akhir acara. Beberapa mahasiswa dari Prodi Inggris dan Teknik Industri memberi ucapan selamat. Saya maklum. Mereka lah yang pernah merasakan sentuhan saya sesungguhnya di kelas. ‘Dosen bertampang serius dan cuek itu ternyata uuenak tenan ngajarnya’. Jadi buat mereka, hal itu tidak terlalu mengherankan.

Tanpa usah pakai indera keenam atau Paul Gurita pun saya sudah tahu suara-suara di belakang punggung. Sebagian besar tentunya tidak enak didengar. Ya, sudah, apa mau dikata. Saya sudah berupaya maksimal untuk berprestasi sebaik mungkin sebagai dosen, menulis banyak artikel, presentasi di berbagai kota, termasuk di Bangkok akhir Oktober lalu, mengajar dengan kreatif, sabar dan tetap inspiratif. Karena semua itu bisa dibuktikan dengan sertifikat, makalah, SK dan sebagainya, ketika dimasukkan ke form penilaian pun langsung nilainya melesat. Seandainya saya bukan Direktur Quality Assurance pun, saya yakin nilai saya ya tetap segitu. Dan kalau ternyata nilai itu lebih tinggi daripada yang lainnya, ya jadilah saya sebagai pemenangnya. It’s that simple.

Celakanya, saya Direktur QA dan sekarang Lecturer of the Year 2010, setelah gelar yang sama di 2009 . . .

Tapi yah, harga sosial itu lho yang berat. Pendapat miring dan suara rasan-rasan dari para kolega atau bahkan beberapa mahasiswa/mentee; itu yang membuat saya minta ijin untuk mengundurkan diri sebagai pemenang. Lagipula, seperti yang juga saya katakan ke pimpinan saya: there is much more to life than just winning Lecturer of the Year. Buat saya, hidup di Ma Chung itu sendiri sudah hadiah. Saya menikmatinya. Makanya nama Facebook saya adalah Enjoy Myself. Tanpa ada gelar Lecturer of the Year itu pun, saya akan tetap berupaya mengajar dengan enak, membuat mahasiswa belajar tapi sekaligus juga senang; saya akan tetap gila menulis artikel dan mempublikasikannya ke berbagai jurnal ilmiah, saya akan tetap melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, walau tidak banyak karena saya juga sibuk menangani Direktorat QA. Loh, dulu ketika di Ubaya, Widya Karya dan Widya Mandala pun, saya juga sudah seperti itu. Dan waktu itu gak ada yang namanya gelaran-gelaran kayak Lecturer of the Year 2010 ini .

Sejatinya, saya tidak mau mengalami kemelekatan dengan berbagai gelar hadiah. Buat saya, hadiah itu harusnya inheren, timbul dalam bentuk kepuasan sangat pribadi manakala melihat apa yang saya lakukan bermanfaat buat orang lain, utamanya para mahasiswa saya, atau orang-orang yang membaca artikel atau presentasi saya, atau mereka yang terinspirasi oleh karya-karya saya. Jadi tanpa gelar atau hadiah apa pun, selama dorongan pribadi itu masih menyala, saya tidak akan berhenti berkarya dan push very hard.

Yang jeli mungkin berkomentar: “iya, tapi status Anda di Facebook dan twitter sesaat setelah pengumuman LOTY 2010 itu berlawanan dengan isi posting ini. Nampaknya Anda puas banget bisa mengalahkan yang lain, dan jadi agak megalomaniak. Bukankah itu bejat?”

Yah, kalau bejat sih enggak, tapi sedikit bangsat iya. Karena tahu reaksi apa yang muncul setelah pengumuman, dan sedikit frustrasi menghadapi tekanan sosial itu, dengan sengaja malah saya panaskan suasana dengan menulis status-status bernada provokatif itu. Bangsat bukan? Yah, tapi kan nggak bejat.

Demikian dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan; bukan saya sengaja tapi memang saya rencanakan, yia ha ha haaa! (Bangsat Mode:ON).

Posted in: Uncategorized